Drrrt
Drttt
Di tiga detik kepergian Zoya, ponsel Gilang berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.
Lengannya bergerak mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, bola mata Gilang membesar. Setelah nama adiknya tertera di layar ponsel.
“Benarkah dia menghubungi nya?” tanya Gilang kepada dirinya sendirinya.
Selanjutnya pandangannya beralih menatap ke arah luar jendela kelas, memperhatikan Zoya yang kian menjauh dari pandangannya.
Bagaimana waktunya bisa berjalan seperti ini? Seandainya Zoya mau bertahan sebentar saja, mungkin ia bisa berbicara dengan Gavi.
Tap
Gilang menerima panggilan itu, tubuhnya duduk di kursi.
Sementara di seberang sana, ucapan Yang dokter Fita berikan mengguncang hati Gavi dengan kuat.
“Kamu harus tahu Gav, setiap hari Gilang datang nemuin kamu. Tapi dia ngga bisa bicara sama kamu, karena masih berfikir bahwa dia lah penyebab kamu harus ngalamin ini,” ujar Fita, menceritakan keberadaan Gilang.
Sebuah kalimat yang terus menggema di kepala Gavi, mendorong ia untuk menghubungi Gilang lebih dulu.
“Lang, ini gue!” ujar Gavi.
“Iya Gav,” balas Gilang.
“Lo dimana? Lo baik-baik saja kan?”
“Hari ini lo datang? Anak-anak udah nungguin nih,” celoteh Gilang, menyembunyikan rasa sesak yang di rasakannya. Setelah pertengkaran itu, keduanya tidak pernah berbicara. Dengan kondisi yang Gavi miliki sekarang membuat Gilang sering mengutuk dirinya sendiri setiap harinya. Mengatakan jika ia menjadi penyebab semua ini terjadi. Dan hal itu membuat Gilang tidak mempunyai keberanian untuk mendekati Gavi
Dan sekarang ia tidak pernah menyangka jika Gavi akan menghubunginya lebih dulu.
“Gue... nggak, bisa pergi Lang...” balas Gavi, menyembunyikan rasa sesak yang ada di hatinya.
“Kenapa...?” Terus Gilang bertanya, jelas ia juga tahu alasan apa yang membuat Gavi tidak bisa berangkat. Karena ia harus pergi hari ini. Namun, di dalam hati kecilnya ia masih ingin berharap jika adiknya akan datang.
Menikmati pertunjukan yang sudah lama di persiapkannya dan menilai sendiri bagaimana penampilan pertamanya.
“Seperti yang lo tahu, dengan keadaan gue sekarang.”
“Sulit buat gue bisa datang Lang,” ujar Gavi, membalasnya.
Sebuah balasan yang terasa seperti belati menancap tepat di jantung Gilang. Untuk pertama kalinya, ia berterus terang mengenai keadaannya kepada Gilang. Dan mungkin sekarang ia tahu jika Gavi mungkin sudah mengetahui mengenai kedatangannya.
“Sorry Gav,” ujar Gilang meminta maaf.
“Harusnya gue bisa lebih nahan diri lagi,”
“Ngga ini bukan salah lo Kok lang, sejak awal emang semuanya akan jadi begini. Jadi lo ngga usah terlalu nyalahin diri lo sendiri,” balas Gavi menanggapi.
“Tapi Gav...,” potong Gilang.
“Kenapa Lo gugup?” tanya Gavi, mengalihkan pembicaraan. Mencari tahu perasaan yang di rasakan Gilang saat ini.