"It's a wrap!!" Suara Defa menggema di aula, diiringi tebakan dan tepuk tangan dari para crew dan cast. Menggambarkan perasaan bahagia yang mereka rasakan karena sudah menyelesaikan tugas akhirnya.
“Thanks ya Gais, atas semua usaha dan tenaganya, sampai jumpa di projek-projek lainnya. Sukses dan sehat terus untuk kita semua!” ujar Zoya berbicara di monitor untuk berpamitan dan mengakhiri semuanya. Mempersilahkan anak-anak untuk bertemu dengan keluarganya. Sebelum kembali untuk membereskan aula.
“Congrats Ya Lang,” ujar Zoya, mengapresiasi Gilang.
Sudut bibir Gilang tersenyum, pancaran amarah yang sebelumnya Zoya tunjukan kini sudah mereda. Dan Gilang bersyukur akan hal itu.
“Jago juga ya kamu!” terus Zoya, membawa Gilang ke dalam pelukannya.
Gilang membalasnya, bibirnya terus tersenyum sumringah lengannya ikut membalas pelukan erat yang di berikan kakak perempuannya.
Zoya melepas pelukannya dari Gilang, langkahnya bergerak mundur. Mempersilahkan anak-anak lain yang mulai mengerubungi Gilang untuk memberikan selamat dan mengajaknya berfoto.
Gilang tersenyum kikuk, untuk pertama kalinya ia mendapat sorotan seperti ini. Biasanya ia melihat Gavi yang harus meladeni ajakan dan selamat dari orang-orang dan ia hanya melihatnya dari kejauhan dengan perasaan bangga yang benar-benar penuh.
Zoya mengangkat ponselnya, mengabadikan momen itu untuk ia ceritakan kepada Gavi suatu saat nanti.
“Zoya?" panggil Juna.
“Eh, malam Om?” balas Zoya, membalas sapaan Juna.
“Kamu disini juga?” tanya Oma penasaran dengan kehadiran Zoya, yang terlihat memakai baju crew dan atribut di luar rompinya.
“Iya Oma, aku di panggil buat bantu pertunjukan ini,” ujar Zoya menjelaskan.
“Kenalkan ini Margareth, dan juga kedua putera dan puterinya," ujar Oma memperkenalkan Margareth.
“Zoya,” ujar Zoya mengangkat kedua lengannya.
“Chelsea.”
“Gabriel,” sahut Gabriel ikut memperkenalkan dirinya.
“Oh iya Gavi dimana kak? Dari tadi aku belum lihat?” tanya Chelsea penasaran dengan keberadaan Gavi.
Zoya menatap ke arah Juna, mencari jawaban.
“Hmmm, dia ngga bisa ikut. Soalnya lagi ikut ujian buat study lanjutannya,” balas Zoya, memberi jawaban sesuai yang di dengarnya dari teman-teman yang lain.
“Benar begitu Jun?” tanya Oma langsung mengonfirmasi kepada puteranya.
“Iya Ma, aku belum sempat bilang...,” ujar Juna, mencari alasan kenapa ia belum memberitahu perkembangan kedua puteranya.
“Bagaimana pertunjukannya Oma? Bukankah Gilang memerankannya dengan sangat baik?” tanya Zoya mengalihkan perbincangan sebelum perdebatan lainnya datang.
“Keren banget kak,” ujar Gabriel.
“Iya, aku ngga nyangka pertunjukan buat HUT sekolah bisa semewah dan semegah ini,” sahut Chelsea, memberikan pendapatnya.
Zoya tersenyum, senang mendengarnya.
“Bisa panggilkan Gilang?” tanya Oma, kepada Zoya.
“Tentu Oma,” balas Zoya, ia tahu jika hal ini terasa sensitif untuk Oma dan ia kurang menyukainya. Jika anak-anak terlalu bersenang-senang.
“Kami tunggu di ruang istirahat ya Zoy,” ujar Juna.
Zoya mengangguk, mengiyakan. Mereka berjalan dengan berlawanan arah.
“Ikut aku Lang,” pinta Zoya.