Dearly

MiiraR
Chapter #121

Deserve

Di taman sekolah, dekat air mancur terdapat Gilang Gabriel dan Chelsea yag tengah berbincang di bawah sinar rembulan. Membicarakan tentang mimpi dan tujuan-tujuan di hidupnya. Mengingat ketiganya kini berada di bangku akhir sekolah dan siap melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

“Soal pernikahan orang tua kita, gimana kalian setuju?" tanya gabriel.

"Emang kalau kita nggak setuju, bakal di batalin? Enggak juga ya kan!" balas Chelsea.

Gilang mengangguk setuju, ia memiiki pendapat yang sama dengan Chelsea. Bagaimana pun perasaan mereka tidak akan bisa menghentikan pernikahan yang sudah di rencanakan ini.

“Soal kuliah lo? Lo jadi ngambil di luar?” tanya Gabriel kepada Gilang.

"Iya, seperti yang kalian lihat tadi!" balas Gilang.

“Itu kan pengennya mereka. Lo sendiri, ada pilihan lain?” tanya gabriel lagi.

“Ada,” balas Gilang.

"Apa?” tanya Chelsea.

“Rahasia,” jawab Gilang.

"Dih main rahasia-rahasiaan. Bentar lagi kita juga satu atap, gue pasti tahu semua tetang lo!" protes Gabriel.

“Iya nih ada-ada ja!” sahut Chelsea.

"Tadinya gue mau ambil kedokteran” ujar Gilang. Sejak bangku pertama di SMA ia sudah mempersiapkan semua dari alur pendaftaran dan apa saja yang perlu di siapkan sebagai penunjangnya agar ia bisa di terima di jurusan itu.

Dan mengetahui apa yang tengah Gavi alami, membuat keinginan dan tekad Gilang jauh lebih besar.

"

"Coba kamu pikirkan ulang, apa itu hal yang terbaik untuk kamu?" tanya Juna.

"Jika keputusan kamu mengambil itu, karena Gavi!"

"Jangan Lang, itu terlalu lama. Jujur aja, kita ngga pernah tahu sampai kapan dia bisa bertahan," ujar Juna, mengatakan fakta yang harus Gilang terima.

"Dia bakal sembuh," Balas Gilang, dengan kilatan mata yang tertuju ke arah Juna.

"Ya tentu, kita juga memiliki harapan yang sama!" balas Juna.

"Tapi Lang, Papa mengatakan ini bukan untuk meminta persetujuan dari kamu!"

"Ini perintah, mau bagaimanapun kamu akan menjadi penerus perusahaan yang Oma dan Papa miliki."

"Jadi, sudah seharusnya kamu mulai mempersiapkan diri!" ujar Juna.

"

Percakapan dengan ayahnya malam itu, kembali terlintas di kepala Gilang. Menyatakan seolah ia tidak punya kuasa atas hidupnya sendiri.

“Cuman karena mereka ngga setuju, jadi gue ambil bisnis aja!" terus Gilang, melanjutkan ucapannya.

“Gue juga,” ujar chelsea.

"Tadinya gue mau ambil seni, cuman ya gitulah...," terusnya , namun tidak menjelaskan secara rinci.

"Dan lo baik-baik aja sama ini?” tanya Gilang penasaran.

“Ya mau gimana lagi?” balas Chelsea. Bahkan sebelum dia di lahirkna dan bisa memilih takdirnya, semua hal ini sudah di siapkan oleh keluarganya. Bersiap-siap menjadi seorang pewaris yang akan memegang seluruh perusahaan orang tuanya.

Lihat selengkapnya