DEATH BOX - THE SERIES

GAZALI
Chapter #1

Vol I / BAB I - Pulanglah Sebelum Makanannya Dingin

Seoul Pukul 06.20

Angin musim gugur menggigit tulang. Tapi tidak seperti musim dingin yang kejam, gigitan ini jujur. Ia menyadarkan siapa pun yang bernapas bahwa mereka masih hidup.

Daun ginkgo sudah menguning di sepanjang jalur Sungai Cheonggyecheon. Beberapa lepas dari tangkainya, berputar pelan sebelum mendarat di aspal yang masih basah oleh gerimis tadi malam. Aromanya tanah, sedikit pahit, bercampur bau asap knalpot dari jalan layang di atas.

Seoul belum sepenuhnya bangun, tapi juga tidak pernah benar-benar tidur. Dari perut kota, kereta bawah tanah meraung seperti naga besi yang kelaparan. Di permukaan, lampu neon toko serba ada 24 jam berkedip lelah, kalah oleh cahaya matahari yang baru merangkak di antara gedung-gedung kaca Gangnam.

Di antara semua itu, Park Joon berlari.

Napasnya teratur, keluar dalam kepulan putih tipis. Kaos abu-abu yang menempel di punggungnya sudah gelap oleh keringat. Usianya tiga puluh lima. Di kartu identitasnya tertulis: Inspektur, Divisi Kejahatan Berat, Seoul Metropolitan Police Agency. Tapi jam 06.20 pagi, pangkat tidak ada gunanya. Yang ada hanya sepatu lari yang solnya mulai tipis dan jalanan yang harus ditaklukkan satu kilometer demi satu kilometer.

Langkahnya melambat di zebra cross dekat Pasar Gwangjang. Lampu pejalan kaki sudah hijau, tapi deretan sedan hitam dan taksi oranye hanya melambat, tidak berhenti. Di ujung zebra cross, seorang nenek berdiri dengan kantong plastik penuh daun bawang. Tangannya gemetar, mencoba melangkah tapi ragu.

Park Joon tidak bicara. Dia tidak pernah banyak bicara di luar ruang interogasi. Dia hanya bergeser, menempatkan tubuhnya di antara nenek itu dan mobil-mobil. Satu tangan terulur, tidak menggandeng, hanya memberi tumpuan. Mereka menyeberang bersama, pelan, diiringi klakson tidak sabar yang dibalas Park Joon dengan tatapan kosong.

Sampai di seberang, nenek itu menunduk berkali-kali. Bibirnya bergerak mengucapkan terima kasih yang tidak terdengar. Park Joon mengangguk sekali, lalu kembali berlari.

“Inspektur Park,” sebuah suara menyapanya dari gerobak tteokbokki yang uapnya baru mengepul. Pemiliknya, pria lima puluhan dengan celemek penuh noda gochujang, tersenyum lebar. “Semoga hari ini tidak terlalu sibuk.”

Park Joon tidak menjawab. Dia hanya menarik ujung bibirnya, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata tapi cukup untuk membuat pria itu mengangguk puas. Di distrik ini, semua orang mengenalnya. Bukan karena dia sering muncul di TV. Tapi karena dia satu-satunya polisi yang lari pagi ke arah TKP, bukan menjauhinya.

Apartemen Park Joon

Kunci berputar dua kali. Begitu pintu terbuka, Park Joon disambut oleh perang.

Bukan perang sungguhan. Perang aroma. Minyak wijen sangrai beradu dengan rebusan kaldu sapi. Bawang putih yang digeprek melawan jahe yang dibakar. Dan di atas semua itu, wangi rumput laut yang direbus lama sampai kuahnya menjadi hijau gelap.

Lee Soo-ah berdiri di dapur kecil mereka. Celemek biru muda diikat di pinggangnya yang ramping. Rambut hitamnya digelung asal dengan sumpit kayu, tapi beberapa helai lepas, menempel di tengkuk yang berkeringat.

“Kau basah kuyup,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lebih dulu mengenali langkah kaki Park Joon daripada telinganya. “Kalau masuk angin, jangan salahkan supku. Salahkan dirimu yang sok kuat lari pagi-pagi.”

Park Joon melepas sepatu, menaruhnya rapi di rak. Dia mendekat, dan seperti pencuri, jarinya mengambil sepotong lobak yang sudah dibumbui dari piring saji.

Plak.

Spatula kayu mendarat di punggung tangannya. Tidak keras. Hanya peringatan.

“Hei! Itu untuk makan malam,” Soo-ah akhirnya menoleh. Matanya menyipit, tapi ada tawa di sana. “Kalau kau terlambat lagi malam ini, sup rumput lautnya kubuang.”

Park Joon mengusap punggung tangannya yang tidak sakit sama sekali, lalu tertawa. Suaranya rendah, suara yang hanya keluar di apartemen seluas 18 pyong ini. “Ancamanmu selalu soal makanan.”

“Karena kau selalu kalah kalau soal makanan,” balas Soo-ah. Dia berjinjit, mencubit pipi Park Joon yang basah oleh keringat. “Mandi sana. Bau. Sup ini butuh waktu sepuluh menit lagi. Kalau kau keluar sebelum itu, kusiram kau pakai kuah panas.”

Park Joon mengangkat tangan menyerah. Untuk pertama kalinya hari ini, dia merasa hangat. Bukan karena sup. Karena rumah. Karena ada seseorang yang menunggu dia pulang, dan marah dengan cara yang membuat dadanya terasa penuh.

Seoul Metropolitan Police Agency

Pukul 09.10. Bau kopi instan yang terlalu manis bercampur dengan bau kertas yang lembab. Ruang Divisi Kejahatan Berat tidak pernah sepi. Telepon berdering, printer batuk-batuk, dan detektif-detektif muda berdebat dengan suara setengah berbisik.

Di meja Park Joon, ada pengganggu. Sebuah paper cup dari “Andante Coffee”, kedai yang satu cangkirnya seharga makan siang tiga orang. Di sampingnya terselip kartu nama tebal. CEO Konstruksi Taeyang. Terima kasih atas kerja samanya kemarin.

Park Joon menatap cup itu selama tiga detik. Lalu, tanpa membuka tutupnya, dia mendorongnya dengan satu jari. Cup itu meluncur mulus di atas meja dan berhenti tepat di depan Detektif Muda Choi.

“Balikin,” kata Park Joon. Matanya tetap di layar komputer, jarinya mengetik laporan. “Bilang saya alergi kafein mahal.”

Choi melirik cup, lalu ke Park Joon. “Sunbae... sedikit fleksibel tidak apa. Semua juga begitu. Taeyang itu proyeknya besar. Kalau kita jaga hubungan—”

“Hukum mulai rusak dari hal-hal kecil,” potong Park Joon. Suaranya datar. Bukan marah. Hanya menyatakan fakta, seperti dia menyatakan bahwa langit berwarna biru.

Choi menutup mulutnya. Di seluruh gedung ini, hanya Park Joon yang berani mengembalikan kopi dari pengusaha. Dan hanya Park Joon yang tidak pernah dipindah karena itu. Karena dia menutup kasus. Semua kasus. Bersih.

Kasus Hari Ini

Lihat selengkapnya