Hujan turun tanpa permisi.
Tetesnya menghantam kaca mobil patroli yang parkir berjejer di halaman Apartemen Hangang View, membuat lampu rotator biru dan merah meleleh jadi cat air di aspal. Pukul 19.20, Seoul yang biasanya angkuh kini terdengar seperti orang yang menahan tangis.
Park Joon berdiri di ambang pintu unit 1204.
TKP Dibekukan
Dingin. Bukan dari AC. Dari lantai marmer yang sekarang ternoda merah.
Bau amis darah bercampur dengan aroma sup rumput laut yang tumpah. Dua bau yang tidak pernah seharusnya bertemu.
Lee Soo-ah tergeletak di sana. Celemek biru muda itu masih terikat, ujungnya mengambang di genangan sup yang sudah mulai mendingin. Rambutnya menutupi sebagian wajah, seperti terakhir kali Park Joon melihatnya pagi tadi, saat Soo-ah mengikat rambut asal-asalan sebelum memasak.
Insting pertama Park Joon adalah lari. Jatuh berlutut. Mengguncang bahu itu dan memanggil nama. Soo-ah. Bangun. Aku sudah pulang.
Tapi kakinya membatu.
Dua puluh tahun jadi polisi. Ribuan TKP. Protokol itu sudah jadi tulang punggungnya. Dan tulang punggungnya berkata: Jika kau menyentuhnya sekarang, kau hancurkan bukti.
Jadi dia menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca.
“Jangan ada yang menyentuh korban,” suaranya keluar pelan. Terlalu pelan untuk seorang inspektur. Tapi semua orang di koridor itu mendengar.
Petugas-petugas muda membeku. Mereka tahu. Seluruh distrik tahu siapa yang tinggal di unit 1204. Detektif Choi, junior yang tadi menahannya di depan, menunduk. Buku catatannya gemetar.
Park Joon tidak menoleh. Dia menatap lurus ke tubuh itu, memaksa otaknya beralih mode. Korban perempuan. Usia 33. Luka terbuka di abdomen. Waktu kematian, perkiraan...
Berhenti.
Ini Soo-ah.
Ini korban.
Dia memilih kata kedua. Karena jika dia memilih kata pertama, dia akan roboh.
Pemeriksaan Awal
Tim forensik masuk dengan koper perak dan wajah tanpa ekspresi. Di depan mereka, seorang pria 48 tahun dengan rambut disisir rapi dan jas lab yang selalu dikancing sampai atas.
Dr. Han Min-seok. Kepala Forensik. Teman minum Park Joon sejak akademi.
Han Min-seok berhenti tiga langkah dari tubuh. Matanya bertemu mata Park Joon sekilas. Tidak ada “turut berduka”. Tidak ada tepukan bahu. Di TKP, mereka bukan teman. Mereka penyidik dan forensik.
“Waktu kematian sekitar satu jam lalu,” kata Han Min-seok sambil memakai sarung tangan lateks. Suaranya klinis. “Antara pukul 18.10 sampai 18.30.”
Park Joon melihat jam tangannya. 19.25. Soo-ah menelepon pukul 17.50. Sepuluh menit lagi, katanya.
Sepuluh menit.
“Sebelah luka tusuk. Satu kali,” lanjut Han Min-seok. Dia menyibak celemek dengan pinset. “Sangat presisi. Menembus hati. Korban hampir tidak sempat melawan. Tidak ada luka defensif di tangan.”
Park Joon mencatat di buku kecilnya. Tulisannya tegak, rapi. Tangannya tidak gemetar. Dia tidak tahu bagaimana caranya.
“Tidak ada barang hilang,” Han Min-seok menambahkan. “Dompet, ponsel, perhiasan. Semua di tempat.”
Dia berdiri, melepas sarung tangan. Menatap Park Joon tepat di mata.
“Ini bukan perampokan, Joon-ah.” Suaranya turun setengah oktaf, keluar dari mode forensik. “Pelakunya datang memang untuk membunuh.”
Terlatih. Kata itu menggantung di udara hujan tanpa diucapkan.
Dapur
Park Joon melangkah ke dapur karena kakinya membawa ke sana, bukan karena otaknya menyuruh.
Panci sup rumput laut masih di atas kompor. Apinya sudah mati, tapi uap tipis masih naik. Hangat. Soo-ah pasti baru mematikan kompor beberapa menit sebelum...
Di meja makan kayu kecil, dua mangkuk keramik putih sudah disiapkan. Sumpit tersusun rapi di atas tatakan. Nasi di penanak masih mengepul.
Di tengah meja, sebuah lilin kecil berbentuk angka 3. Ulang tahun pernikahan ketiga.
Soo-ah selalu merayakan hal-hal kecil. “Kalau yang kecil saja tidak kita rayakan, kapan kita bahagia?” katanya tahun lalu.