Penangkapan
Pukul 05.40. Langit Seoul masih ungu gelap, seperti memar yang belum sembuh.
Motel Mureung di pinggiran Guro-gu tampak seperti mayat yang dilupakan. Cat dindingnya mengelupas, neon bertuliskan VACANCY berkedip sekarat, satu huruf mati. Hujan rintik turun, membuat aspal licin dan bau lumut menguar dari selokan.
Sepuluh anggota Unit Kejahatan Berat berjongkok di balik mobil. Rompi antipeluru mereka basah. Napas mereka membentuk kabut. Di depan, Park Joon berdiri tanpa rompi. Hanya jas hujan hitam dan pistol di pinggang yang tidak pernah ia cabut selama 12 tahun karier.
Suara radio dari Detektif Kang pecah, “Target di kamar 303. Jendela menghadap gang. Satu akses keluar.”
Park Joon menempelkan jari ke earpiece. Suaranya pelan, tapi setiap kata seperti dipahat. “Tangkap hidup-hidup. Jangan lepaskan satu peluru pun kecuali terpaksa.”
Itu bukan prosedur standar. Itu perintah pribadi.
Braak!
Pintu 303 jebol dihantam pendobrak. Tim masuk dengan teriakan “POLISI! TANGAN DI ATAS!”
Tapi tidak ada yang lari. Tidak ada yang mengumpat.
Di tengah kamar yang bau rokok murahan dan mi instan basi, seorang pria duduk bersila di lantai. Punggungnya menempel ke tembok yang lembab. Di depannya, cangkir kertas berisi air bening.
Kim Tae-ho. 42 tahun. Mantan narapidana kasus pembunuhan 8 tahun lalu.
Saat laras senapan mengarah ke wajahnya, Kim Tae-ho tidak mengedip. Ia hanya mengangkat kedua tangan, perlahan, setinggi bahu. Tenang. Seperti orang yang sudah lama menunggu tamu, dan tamu itu akhirnya datang.
Park Joon masuk terakhir. Matanya menyapu ruangan: satu tas ransel lusuh, tidak ada pisau, tidak ada darah.
Untuk sesaat, Park Joon merasa mual. Bukan karena lega. Karena aneh. Pembunuh tidak menyambut penangkapnya dengan air putih.
Interogasi Pertama
Ruang interogasi 3. Dinding abu-abu. Meja besi. Kamera di sudut berkedip merah.
Bau disinfektan menusuk, tapi tidak bisa menutupi bau keringat dan keputusasaan yang sudah meresap di ruangan ini selama puluhan tahun.
Park Joon duduk sendiri. Tidak ada map. Tidak ada pulpen. Hanya satu foto 3x4 di tangannya.
Dia dorong foto itu melintasi meja.
Lee Soo-ah. Tersenyum. Celemek biru muda. Foto yang diambil Park Joon diam-diam musim semi lalu.
“Kenal wanita ini?” Suara Park Joon datar. Terlalu datar.
Kim Tae-ho menunduk. Menatap foto itu lama. Jarinya yang kapalan menyentuh sudut foto, seolah takut akan luntur.
Lalu ia mengangguk. Sekali.
“Aku pernah melihatnya.”
Udara di paru-paru Park Joon membeku. Jari-jarinya mengepal di bawah meja sampai buku-bukunya putih.
“Di mana?”
“Di halte bus,” jawab Kim Tae-ho. Tidak gagap. Tidak menghindar. “Halte dekat Pasar Gwangjang. Sekitar dua minggu lalu. Dia beli tteokbokki. Tumpah sausnya ke celemeknya.”
Terlalu tenang. Terlalu rinci.
Park Joon menatap pria itu. Pembunuh biasanya punya tiga jenis tatapan: licik, kosong, atau gila. Kim Tae-ho tidak punya ketiganya. Matanya hanya... lelah.
Bukti yang Memberatkan
Pintu dibanting terbuka. Detektif Kang masuk membawa tiga map cokelat. Wajahnya merah karena kemenangan.
“Sunbae, ini dia.” Dia menampar map pertama ke meja. “Lab Forensik. Sidik jari Kim Tae-ho di gantungan kunci TKP. 12 titik cocok. Tidak terbantahkan.”
Map kedua. “Jejak sepatu di depan pintu apartemen. Ukuran 42. Sama dengan sepatu yang dia pakai saat ditangkap.”
Map ketiga. “Sinyal ponsel. BTS terdekat dengan TKP nangkap IMEI-nya pukul 18.05 sampai 18.23. Rentang waktu pembunuhan.”
Kang bersandar, puas. “Sunbae, kasus ini sudah selesai. Kita tinggal limpahkan ke jaksa.”
Ruangan lain mungkin akan sorak. Tapi Park Joon hanya diam.
Dia mengambil gantungan kunci dari kantong bukti. Bentuknya ginkgo dari kuningan. Murah. Dijual di semua toko suvenir Insadong.
Park Joon memejamkan mata. Semua bukti berteriak: Ini dia pelakunya.
Tapi nalurinya, yang sudah menyelamatkannya 112 kali di lapangan, berbisik: Terlalu bersih. Terlalu sempurna.