DEATH BOX - THE SERIES

GAZALI
Chapter #4

Vol I / BAB 4 - Keadilan yang Dibeli

Pagi itu Park Joon yakin dia selangkah lagi menangkap pembunuh istrinya. Sore harinya, dia sadar yang dia lawan bukan manusia. Tapi sistem.

 Pengakuan yang Tidak Lengkap

Ruang interogasi nomor tiga selalu dingin. Bukan karena AC, tapi karena temboknya dilapisi beton tebal tanpa jendela. Bau karbol bercampur keringat lama masih menggantung di udara. Pukul 08.12, lampu neon di langit-langit bergetar halus, seolah ikut menahan napas.

Park Joon duduk di seberang Kim Tae-ho. Meja baja di antara mereka penuh goresan, saksi bisu dari seratus pengakuan dan kebohongan.

Kim Tae-ho berbeda dari kemarin. Punggungnya lebih tegak. Matanya tidak lagi liar. Ada ketenangan yang ganjil untuk seorang pria yang namanya besok akan jadi headline: Mantan Napi Akui Terlibat Pembunuhan Istri Inspektur Park.

Park Joon meletakkan map cokelat tipis di meja. Tidak dibuka. Dia tidak butuh catatan. Dia hanya butuh jawaban.

“Siapa yang menyuruhmu?” Suara Park Joon rendah. Bukan bentakan. Lebih berbahaya dari itu.

Kim Tae-ho menatap noda kopi di meja. Lama. Satu detik. Dua detik. Ruang interogasi menelan bunyi detik jam dinding.

“Aku tidak tahu namanya,” jawabnya akhirnya. Pelan. Seperti takut kata-katanya akan didengar dinding.

Kesabaran Park Joon, yang sudah diikat dengan benang tipis sejak kematian Soo-ah, mulai terasa panas di tenggorokan.

“Lalu kenapa kau mau menerima uangnya?”

Kim Tae-ho mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya, Park Joon melihat sesuatu di mata itu. Bukan penyesalan. Lebih tua dari itu.

“Karena putriku sakit.”

Ruangan itu sunyi. Bahkan AC berhenti berdengung sedetik.

Kim Tae-ho bercerita dengan kalimat yang patah-patah. Tiga tahun lalu. Leukemia. Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul. Dokter bilang peluangnya 40%, tapi hanya kalau operasi dilakukan di Amerika. Biayanya 300 juta won. Dia mantan napi. Siapa yang mau meminjamkan uang ke pembunuh?

Lalu seseorang datang. Pria berjas. Tidak menyebut nama. Meletakkan koper di lantai pabrik tempat Kim Tae-ho kerja paruh waktu.

“Di dalamnya 500 juta won,” kata pria itu. “Ambil. Selamatkan anakmu. Sebagai gantinya, tanggal 14 Oktober pukul 19.00, kau datang ke Apartemen Hangang View Unit 1204. Tinggalkan gantungan kunci ini di meja ruang tamu. Lalu pergi.”

Kim Tae-ho mengeluarkan gantungan kunci kayu kecil dari saku baju tahanan. Bentuknya aneh. Ukiran yang tidak ia kenal.

“Aku kira... aku kira itu cuma pesanan orang kaya yang aneh,” bisik Kim Tae-ho. “Aku tidak tahu di unit itu ada istrimu. Aku sumpah. Aku cuma naruh barang dan pergi. Aku tidak bunuh siapa-siapa.”

Park Joon menatap gantungan kunci itu. Kayunya terasa tua. Dingin.

Kim Tae-ho bersalah. Dia ambil uang haram. Dia masuk ke rumah orang. Tapi dia bukan pembunuh. Park Joon tahu itu. Instingnya sebagai penyidik berteriak. Dan itu membuat perutnya mual. Karena jika Kim Tae-ho cuma pion, berarti rajanya masih di luar, menonton.

Jejak Rekening

Ruang Cyber Crime bau mie instan dan kabel panas. Tiga monitor besar menyala, dipenuhi baris kode dan angka yang berlari seperti semut.

“Sunbae, ini gila,” kata Detektif Muda Lee sambil mengusap mata merahnya. Kopi ketiganya sudah dingin. “Transfer ke rekening Kim Tae-ho datang dari PT Cahaya Abadi.”

Park Joon berdiri di belakangnya. “Lacak.”

Lee mengetik. “PT Cahaya Abadi dapet dana dari CV Bintang Timur. CV Bintang Timur dapet dari—” jari Lee berhenti, “—Yayasan Kasih Bunda. Yayasan Kasih Bunda nerima donasi dari... perusahaan konstruksi di Busan yang udah bangkrut tahun 2019.”

Semakin mereka gali, semakin banyak nama perusahaan muncul. Semuanya cangkang kosong. Alamatnya ruko-ruko tidak berpenghuni. Direkturnya nama orang yang sudah meninggal.

“Seseorang nyuci uangnya pakai mesin cuci industri, Sunbae,” Lee bersandar lemas. “Setiap kita dapet satu nama, dua nama lain muncul. Jejaknya sengaja dibikin muter kayak labirin.”

Park Joon menatap peta aliran dana di layar. Garis-garis merah kusut. Ini bukan kerjaan pembunuh bayaran biasa. Ini kerjaan orang yang punya tim. Punya uang. Punya kuasa.

Firasat dingin merayap di tulang belakangnya. Musuhnya besar. Sangat besar.

Saksi Menghilang

Hujan rintik-rintik pukul 14.30. Park Joon memarkir mobilnya di bawah jembatan Mapo. Tempat kumuh. Bau oli dan air selokan.

Dia berhasil menemukan sopir taksi. Namanya Pak Oh. Usia 58. Dari rekaman dashcam yang bocor ke forum online, taksi Pak Oh terekam menurunkan seorang pria dengan tangan diperban di gang belakang Apartemen Hangang View pukul 18.45, hari Soo-ah dibunuh.

Pak Oh gemetar saat Park Joon menyodorkan foto. “I-iya. Saya ingat dia. Tangannya luka bakar. Bau obat. Dia diem aja sepanjang jalan. Bayar cash.”

“Bisa bersaksi?”

Pak Oh menatap sepatunya yang bolong. “Keluarga saya, Pak Inspektur...”

“Saya akan lindungi Bapak.”

Lihat selengkapnya