DEATH BOX - THE SERIES

GAZALI
Chapter #5

Vol I / BAB 5 - DUA PILIHAN

Langit di atas Seoul sudah ditelan malam sejak sepuluh menit lalu, meninggalkan sisa jingga yang kotor di ufuk barat. Pukul 19.08. Lampu jalan di dekat gerbang pemakaman berkedip sekali, dua kali, lalu menyerah. Cahayanya patah-patah, jatuh ke aspal retak seperti muntahan kunang-kunang sekarat.

Angin bertiup. Bukan angin musim gugur yang manis. Ini angin yang membawa bau tanah basah, dupa sisa pembakaran, dan sesuatu yang lebih tua—bau kayu yang sudah lupa cara membusuk.

Park Joon berdiri lima langkah dari bagasi mobilnya. Nafasnya menggantung di udara dingin. Di depannya, di atas aspal, tergeletak kotak itu.

Panjangnya kira-kira empat puluh sentimeter. Lebarnya tidak lebih dari telapak tangan orang dewasa. Kayunya hitam, retak-retak seperti kulit orang yang mati kehausan. Tapi yang membuat tengkuk Park Joon meremang adalah ukirannya. Simbol-simbol yang tidak dia kenal. Lingkaran di dalam lingkaran, garis patah yang membentuk mata, huruf yang bukan Hangul, bukan Hanja, bukan apa pun yang pernah dia lihat di buku sejarah kepolisian.

Tidak ada engsel. Tidak ada lubang kunci. Hanya sebuah balok kayu mati yang seharusnya tidak bisa dibuka.

Klik.

Suara itu kecil. Tapi di keheningan pemakaman, dia terdengar seperti tembakan.

Tutup kotak itu terangkat. Pelan. Satu senti. Lalu dua senti. Tidak ada angin yang mendorongnya. Tidak ada kawat. Tidak ada tangan.

Park Joon refleks. Tangannya menyambar ke pinggang. Clek. Pistol dinas SIG Sauer P226 keluar dari sarungnya. Dalam setengah detik, moncongnya sudah mengarah ke kotak itu. Jari telunjuknya menempel di pelatuk, tidak masuk, tapi siap.

Diam.

Kotak itu terbuka separuh. Di dalamnya gelap. Bukan gelap karena kurang cahaya. Gelap seperti ruang yang menelan cahaya.

Satu detik. Dua detik.

Tidak ada monster yang melompat. Tidak ada gas. Tidak ada jarum beracun. Hanya angin yang kembali berhembus, menggoyang ujung jas Park Joon.

Dia tidak menurunkan pistolnya. “Siapa di sana?” suaranya rendah, suara inspektur yang biasa dipakai menginterogasi pembunuh.

Lalu kotak itu bicara.

Bukan dari pengeras suara. Bukan gema. Suara itu muncul langsung di dalam kepalanya, tapi juga di luar, seperti bisikan yang ditempelkan ke gendang telinganya.

Tidak berat. Tidak tinggi. Tidak bisa ditebak laki-laki atau perempuan. Datar. Tenang. Seperti guru yang sudah menjelaskan rumus yang sama ke sepuluh ribu murid bodoh.

“Park Joon.”

Nama itu.

Darah Park Joon berdesir dingin dari ujung kaki sampai ke akar rambut. Tangannya yang memegang pistol semakin erat sampai buku-bukunya putih.

“Siapa kau?” Dia melangkah mundur setengah langkah. Aspal di bawah sepatunya terasa seperti es.

Kotak itu tidak menjawab pertanyaan. Dia hanya menyatakan fakta.

“Aku datang karena kau memanggilku.”

“Omong kosong,” desis Park Joon. Amarahnya naik, menutupi takut. “Aku tidak pernah memanggil siapa pun! Aku polisi. Aku tidak percaya takhayul!”

Hening tiga detak jantung. Lalu suara itu datang lagi, sama tenangnya, sama tidak pedulinya.

“Kebencianmu yang memanggilku.”

Kata itu menampar lebih keras dari peluru. Kebencian. Park Joon ingin membantah. Ingin teriak bahwa dia menegakkan hukum, bukan kebencian. Tapi bayangan sup rumput laut yang tumpah di lantai apartemennya seminggu lalu melintas. Bayangan celemek biru muda. Bayangan chat “Aku segera pulang”.

Tenggorokannya kering.

“Aku tidak datang membawa perintah,” lanjut suara itu, seolah percakapan mereka sudah terjadwal. “Aku hanya menawarkan pilihan.”

Lihat selengkapnya