Panggilan Misterius
Pukul 22.15. Incheon tidak tidur, tapi pelabuhannya sekarat.
Gerimis menggantung di udara seperti kelambu basah. Setiap tetesnya jatuh ke genangan minyak dan air laut, memecah pantulan lampu dermaga menjadi serpihan kuning yang kotor. Gudang tua nomor 17 berdiri membelakangi laut, dinding sengnya berkarat, bernafas dengan suara kriet setiap kali angin dari Selat Korea mendorong.
Park Joon datang sendiri. Sesuai instruksi di telepon. Suara itu tua, serak, dan hanya bicara dua kalimat: “Gudang 17, Incheon. Sendiri. Kalau kau ingin tahu siapa yang membunuh istrimu.”
Jaket kulit hitamnya sudah basah di bahu. Di baliknya, Glock 19 menempel di pinggang, dingin. Dia tidak memakai lencana malam ini. Tidak ada hukum yang bisa melindungi orang yang sengaja datang ke kuburannya sendiri.
Gudang itu kosong. Hanya ada bau karat, garam, dan kayu lapuk. Tetesan air beradu dengan seng: tik… tik… tik… Irama yang pelan tapi membuat jantung ikut menghitung.
“Kau datang.”
Suara itu muncul dari kegelapan, di antara kontainer yang ditumpuk tiga. Bukan gema. Terlalu nyata. Terlalu dekat.
Refleks Park Joon menarik Glock, larasnya mengarah ke suara. “Keluar.”
Suara langkah. Tongkat kayu beradu dengan lantai semen. Tuk. Tuk. Tuk.
Sosok itu melangkah keluar dari bayangan. Tujuh puluh tahun, mungkin lebih. Mantel hitam panjang menyapu lantai basah. Rambutnya putih total, disisir rapi ke belakang. Wajahnya tenang, seperti danau di musim dingin. Tidak ada takut. Tidak ada sombong. Hanya… penyesalan yang sudah lama.
Park Joon mengenal wajah itu. Bukan dari daftar DPO. Dari pemakaman.
Dia pria tua yang berdiri di ujung barisan pelayat saat Soo-ah dikuburkan. Yang meletakkan satu daun ginkgo kering di nisan, lalu menghilang sebelum Park Joon sempat bicara.
“Kau,” desis Park Joon. Jempolnya membuka pengaman.
Pria itu mengangguk sekali. “Han Do-jin.”
Penjaga Rahasia
Hujan di luar mengeras, menabuh atap seng seperti ribuan jari tidak sabar.
Han Do-jin berhenti tiga meter dari moncong pistol. Dia tidak mengangkat tangan. Tongkatnya mengetuk lantai sekali, seolah menenangkan gudang.
“Mantan profiler kriminal,” katanya. Suaranya rendah, tapi jelas. “Kepolisian Nasional Korea. Pensiun hampir dua puluh tahun lalu.”
Park Joon tidak menurunkan pistol. “Apa maumu?”
Han Do-jin menatap mata Park Joon, lalu ke pistol, lalu kembali ke mata. “Aku mengenal ayahmu.”
Satu kalimat itu merontokkan seluruh udara di paru-paru Park Joon.
Ayahnya. Park Dong-hoon. Kapten polisi yang mati dua belas tahun lalu karena “kecelakaan mobil”. Kasus ditutup. Mayat dikremasi. Tidak ada pemakaman dinas karena “sedang cuti”.
Park Joon membeku. “Apa hubunganmu dengan ayahku?”
Han Do-jin tidak menjawab. Dia justru melangkah setengah langkah ke kiri, ke arah bayangan. “Apakah kau sudah bertemu sebuah kotak kayu?”
Dingin merambat dari tengkuk Park Joon ke tulang belakang. Tangannya refleks mengepal di gagang Glock.
Kotak itu. Death Box. Daun ginkgo dan pisau berlumur darah. Suara yang bicara tanpa mulut.
“Dari mana kau—”
“Aku bertanya lebih dulu, Inspektur,” potong Han Do-jin. Nada itu bukan polisi. Bukan tersangka. Seperti guru yang bertanya pada murid yang menyembunyikan contekan.
Park Joon diam. Dan diamnya adalah jawaban.
Peringatan
“Kotak itu,” lanjut Han Do-jin, “jangan pernah memilih saat hatimu dipenuhi kemarahan.”
Park Joon menurunkan pistol sepuluh derajat. Tidak cukup untuk percaya. Cukup untuk mendengar. “Apa sebenarnya benda itu?”
Han Do-jin menggeleng pelan. Gerakannya terukur, seperti orang yang tahu setiap gerakan bisa memicu longsoran. “Semakin banyak kau tahu sekarang, semakin cepat kau kehilangan dirimu.”
Amarah yang Park Joon tahan sejak Soo-ah meninggal mendidih naik ke leher. “Kalau tahu sesuatu, katakan.”
Han Do-jin tersenyum. Bukan senyum mengejek. Pahit. Seperti orang yang sudah minum racun yang sama.
“Ada rahasia yang lebih berbahaya daripada kebohongan, Inspektur Park. Kebohongan bisa kau bantah. Rahasia… akan memakanmu dari dalam.”