DEATH BOX - THE SERIES

GAZALI
Chapter #7

Vol I / BAB 7 - Kambing Hitam

Udara Seoul pukul 08.30 masih membawa sisa dingin musim gugur. Langit di atas gedung Seoul Metropolitan Police Agency berwarna abu-abu pucat, seperti kertas fotokopi yang terlalu sering dipakai.

Park Joon sudah duduk di kursinya sejak 30 menit lalu. Divisi Kejahatan Berat masih sepi. Hanya suara AC tua dan dengung lampu neon yang menemani. Di mejanya, setumpuk map cokelat menjulang. Nama di label paling atas: Kim Tae-ho – 204521.

Bukan map kasus Lee Soo-ah. Bukan juga map pembunuhan terakhir. Ini seluruh riwayat hidup Kim Tae-ho. Dari akta lahir, rapor SD, sampai catatan kunjungan selama 11 tahun di Penjara Seongdong.

Park Joon membuka map pertama. Jarinya dingin. Bukan karena suhu ruangan.

Berkas Lama Kim Tae-ho

Kertas-kertas itu berbau apak. Bau waktu. Bau keputusan yang dibuat orang lain untuk hidup seseorang.

Kim Tae-ho. Lahir 1978. Ayah buruh bangunan. Ibu meninggal saat melahirkan. Park Joon membalik halaman. Putus sekolah SMA. Bekerja di galangan kapal. 2001: Menikah. 2003: Punya anak perempuan, Kim Min-ji.

Lalu lembar itu berubah. Tinta merah. 2009: Divonis 15 tahun penjara. Pasal 250 KUHP. Pembunuhan Berencana.

Park Joon berhenti membaca. Dia sudah hafal bagian itu. Seluruh negeri hafal. Kim Tae-ho membunuh seorang rentenir di Incheon. Ditikam 17 kali. Media menyebutnya “Pembunuh Berdarah Dingin”.

Tapi lembar berikutnya aneh.

Laporan Wali Blok 4, Penjara Seongdong:

“Narapidana 204521 tidak pernah terlibat perkelahian. Bertugas di perpustakaan lapas selama 8 tahun. Membantu program baca-tulis untuk napi buta huruf. Nilai evaluasi tahunan: Baik.”

Park Joon mengerutkan kening. Dia menarik map lain. Catatan Psikolog Lapas, 2012:

“Subjek menunjukkan penyesalan mendalam. Trauma terkait kematian anak. Tidak ada indikasi psikopat. Cenderung menghindar konflik.”

Tidak pernah terlibat kekerasan. Bekerja di perpustakaan.

Park Joon menutup map itu pelan. Suaranya hampir tidak terdengar di ruangan kosong.

“Ini bukan profil pembunuh bayaran.”

Di luar jendela, awan mulai bergerak. Cahaya matahari yang malu-malu menyusup, membuat debu di udara terlihat seperti serpihan kaca. Untuk pertama kalinya sejak Soo-ah pergi, Park Joon merasa mual bukan karena duka. Tapi karena sebuah pola. Pola yang terlalu rapi.

Rekaman yang Terpotong

“Inspektur Park, semua rekaman CCTV kasus Hangang View sudah diperiksa tim forensik digital. Tiga kali.”

Teknisi muda bernama Yoo Min-jae menatapnya dari balik tiga monitor. Kantung matanya hitam. Bau mi instan masih menempel di hoodienya.

Park Joon meletakkan flash drive di meja. “Aku tidak mau salinan yang sudah diedit. Aku mau file mentah. Dari DVR asli. 14 Oktober. Pukul 17.00 sampai 20.00.”

“Bukankah semuanya sudah diperiksa?” Min-jae menguap.

Park Joon menatapnya. Tidak membentak. Tidak mengancam. Hanya menatap.

“Aku ingin melihat apa yang tidak ingin diperlihatkan.”

Min-jae menelan ludah. 20 menit kemudian, dia bersiul pelan. “Oke, ini aneh.”

Layar kiri menampilkan lorong parkir basement Apartemen Hangang View. Timecode: 18.43.07. Gambarnya buram, tapi masih bisa dilihat sebuah sedan hitam meluncur pelan. Tidak menyalakan lampu sein. Berhenti di area yang buta kamera.

18.43.15 sampai 18.50.22. Layar menjadi semut statis. Tidak ada data.

“File corrupt?” tanya Park Joon.

Min-jae menggeleng. “Dihapus. Bukan corrupt. Dihapus dengan command, bukan kerusakan. Tujuh menit tujuh detik hilang.”

Park Joon memintanya memutar ulang frame terakhir sebelum gelap. Dia mendekat sampai napasnya membuat embun di layar.

Nomor plat tidak terbaca. Ada selotip hitam melintang. Tapi lampu depan mobil itu...

Pola LED-nya berbentuk cakar. Tiga baris, horizontal. Park Joon hafal. Dia pernah menghentikan satu mobil seperti itu tiga bulan lalu. Pengemudinya anak anggota Majelis Nasional.

“Genesis G90 LWB,” gumam Park Joon. “Hanya dipakai direksi konglomerat dan pejabat eselon satu.”

Min-jae menoleh. “Inspektur, mobil kayak gini harganya bisa buat beli rumahku.”

Park Joon tidak menjawab. Di kepalanya, suara Soo-ah waktu bercanda muncul: “Kalau kau terlambat lagi, sup rumput lautnya kubuang.”

Pelakunya bukan orang biasa. Pelakunya orang yang bisa menghapus waktu.

Kunjungan ke Penjara

Penjara Seongdong berbau karbol dan nasi yang terlalu lama dikukus.

Lihat selengkapnya