Analisis Petunjuk
Pukul 07.30. Seoul Metropolitan Police Agency masih sepi. Lampu neon memantulkan cahaya dingin ke lantai linoleum yang baru dipel. Bau kopi murah dari mesin di koridor bercampur dengan bau kapur barus dari ruang arsip.
Park Joon berdiri di depan papan investigasi setinggi dua meter. Papan itu penuh. Foto TKP apartemennya, hasil forensik, tangkapan layar CCTV yang buram, rekening Kim Tae-ho, sampai gantungan kunci kayu berbentuk ikan yang ditemukan di saku jaket tersangka.
Dia tidak duduk sejak tadi. Kemeja putihnya kusut di siku, dasi sudah dilonggarkan. Matanya merah, tapi bukan karena kantuk. Itu mata orang yang dipaksa melihat mayat istrinya setiap kali menutup kelopak.
Satu per satu, dia menempelkan bukti baru dengan magnet merah.
Gantungan kunci. Klek.
Potongan rekaman sedan hitam masuk kompleks apartemen. Klek.
Mutasi rekening: Haesung Hope Foundation → Kim Tae-ho. Klek.
Foto close-up tangan kanan: bekas luka bakar melingkar, seperti cincin neraka. Klek.
Ruangan itu sunyi. Hanya suara AC tua dan detik jam dinding.
Park Joon mengambil spidol hitam. Dia melingkari foto Kim Tae-ho berkali-kali sampai tintanya tembus ke kertas. Lalu dia menarik garis panjang ke samping, dan menulis dengan huruf kapital:
TIDAK MUNGKIN PELAKU UTAMA
Dia melempar spidol ke meja. Bunyinya nyaring. Untuk pertama kalinya sejak Soo-ah meninggal, arah penyelidikan berubah. Bukan lagi siapa yang menusuk. Tapi siapa yang menyuruh menusuk.
Hook sudah ditanam: pembunuh sebenarnya masih bebas. Dan dia tahu Park Joon mengendus.
Rekening Bayangan
“Kita dapat, Sunbae.”
Suara Detektif Min dari Tim Cyber Crime memecah keheningan pukul 10.14. Layar komputernya penuh angka yang lari seperti semut.
Park Joon mendekat. Kopi di tangannya sudah dingin. “Tunjukin.”
Min menunjuk satu baris transfer yang disorot kuning. Tanggalnya tiga hari sebelum Soo-ah dibunuh. Jumlahnya tidak besar, 50 juta won. Kecil untuk pembunuhan, besar untuk orang seperti Kim Tae-ho.
“Sumbernya?”
“Haesung Hope Foundation,” jawab Min. “Yayasan amal. Bantu anak-anak kanker. Ketua yayasannya...” Min ragu.
Park Joon yang melanjutkan, “Ketua yayasannya siapa?”
Min mengklik profil. Foto seorang pria 60-an muncul. Rambut putih disisir rapi, jas tiga potong, senyum iklan pasta gigi.
Chairman Choi Min-jae. Taeyang Group.
Ruangan Cyber Crime yang biasanya berisik jadi mati. Nama itu berat. Taeyang Group punya gedung pencakar langit, punya partai, punya media.
Min berbisik, “Sunbae, kita lanjut?”
Park Joon tidak menjawab. Dia hanya memotret layar dengan ponselnya. Di kepalanya, nama itu mulai menghubungkan titik-titik. Perusahaan konstruksi yang ditolak izinnya karena laporan Soo-ah setahun lalu. Proyek reklamasi yang ditentang Soo-ah di komite warga.
Belum ada bukti Choi Min-jae pembunuh. Tapi namanya sekarang ada di setiap jejak yang berdarah.
Kecelakaan
Pukul 18.40. Langit Seoul sudah ungu. Lampu jalan menyala satu per satu.
Park Joon keluar dari gedung kepolisian. Dia perlu udara. Perlu rokok, padahal dia sudah berhenti sejak menikah.
Di zebra cross depan kantor, dia menunggu lampu pejalan kaki. Di seberangnya, anak SMA pulang bimbel, ibu-ibu bawa belanjaan, pekerja kantoran. Normal. Terlalu normal.
Lampu hijau.
Baru satu langkah, telinganya menangkap sesuatu yang salah. Bukan klakson. Tapi raungan mesin diesel yang dipaksa. Terlalu cepat untuk jalan kota.
Dari sudut mata, sebuah truk boks putih melaju. Tidak mengerem. Tidak oleng. Lurus. Kepadanya.