Deathcare Organizer

Putri Andini
Chapter #1

Kematian Sesuai Prosedur


Pemakaman hari ini sukses. Jenazah dimakamkan dengan meyakinkan, keluarga menangis sesuai rencana, dan hujan tidak mengacau seperti di hari-hari sebelumnya.

Sebagai penyelenggara, Kiwi puas.

Ya, walaupun Aladin--MC pemakaman kondang--membuat sedikit kesalahan dengan sulapnya yang gagal di tengah acara, tapi Kiwi memakluminya karena memang hanya kesalahan kecil dan tidak dikomplain oleh keluarga korban. Pria dengan rambut blonde itu masih dengan senyum percaya dirinya menghampiri Kiwi.

"Mbak, trik sulap tadi itu masih dihitung berhasil kan?" tanya Aladin sambil membenarkan jasnya yang terlalu mencolok untuk acara berkabung.

Kiwi menatap malas. Peti sudah terkubur, tidak ada yang pingsan, atau menuntut pengembalian dana. Kabar baiknya lagi cuaca tidak hujan dan terlalu panas, pengaruh besar untuk suasana hati Kiwi yang biasanya seperti rumah angker.

"Sukses. Selama yang dikubur tetap almarhum, bukan kamu."

Aladin nyengir kuda, lega sekaligus geli mendengar jawaban sarkastik dari bosnya. Dengan langkah percaya diri Aladin menjauh dari Kiwi seolah dia baru saja menyelamatkan nyawa seseorang, bukan gagal mengeluarkan bunga dari topi.

Kiwi menghela napas melihat kelakuan Aladin yang selaras dengan pakaian nyentriknya, selalu seperti itu bahkan kadang Kiwi merasa Aladin lebih cocok menjadi MC di ulang tahun anak daripada pemakaman. Di kejauhan, tukang gali kuburnya, Mateo---dengan kaos belel berwarna hijau tua---mengangkat ibu jarinya sebagai kode bahwa liang lahat sudah rapi dan tidak ada kejutan dari bawah tanah hari ini.

Kiwi mengangguk puas melihat semua berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Apalagi klien yang satu ini cukup normal dibandingkan sebelumnya yang menuntut detail sekecil apapun harus sesuai dengan kemauan klien tersebut.

"Balik kantor Mbak?" Itu Naya, staf administrasi dengan poni menutupi kening sedikit berteriak dari jauh. Setelah melihat anggukan Kiwi, gadis di pertengahan 20-an itu segera memberitahu yang lain dan bergegas membawa barang ke mobil van yang terpakir rapi tidak jauh dari sana.

Kiwi menyusul sambil menoleh ke arah nisan kuburan sekali lagi siapa tau jenazahnya tiba-tiba hidup atau sekadar memastikan barang lain yang mungkin tertinggal di sekitar pemakaman. Setelah itu ia masuk ke mobil van yang sudah terisi oleh krunya. Muat dan terasa pas.

Tidak sampai satu jam mobil van itu berhenti di depan kantor Deathcare Organizer yang khas dengan cat merah muda pucat bekas peninggalan zaman kolonial. Jendela tinggi berjajar rapi, kusennya berwarna krem yang sebagian sudah lapuk karena terguyur hujan. Lengkap dengan papan kayu bertuliskan Deathcare Organizer sebagai penanda di depannya.

Kiwi turun paling akhir tepat setelah Mateo memarkirkan mobil dan mematikan mesin. Sejenak Kiwi menatap bangunan yang sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun itu, peninggalan Kakeknya sebagai warisan satu-satunya yang ditinggalkan. Mata elang Kiwi berpencar meneliti setiap kusen jendela yang masih tertutup rapat, keset bertuliskan welcome masih ditempatnya, dan tidak ada posisi benda yang berubah.

Lihat selengkapnya