Deathcare Organizer

Putri Andini
Chapter #2

Hari dimana Kiwi Seharusnya Mati


Lantai sepuluh ternyata tidak cukup tinggi untuk mengakhiri apa pun.

Malam itu saat cuacanya cerah Kiwi berdiri di balkon kamarnya---di sebuah apartemen kecil lantai sepuluh---Kiwi membuat keputusan yang konyol. Wanita itu memandangi jalanan di bawahnya yang sudah sepi, karena memang penghuni apartemen itu lebih terbiasa berdiam dalam ruangan daripada jalan keluar.

Balkon Kiwi menghadap langsung ke arah taman belakang, tak begitu jauh dari basement parkiran, tempat dimana van hitam miliknya terparkir. Sebagian lampu taman sudah mulai usang tapi tetap menyala saat langit sudah menggelap, beberapa kali Kiwi bertemu dengan Pak Puguh---tukang membersihkan taman---yang seringnya berpapasan saat Kiwi berangkat ke kantor.

Kalau tidak salah, saat itu Deathcare Organizer yang Kiwi kelola masih berumur sebiji jagung, belum menghasilkan seperti sekarang. Kiwi hanya ingat, satu-satunya klien yang memakai jasanya saat itu adalah seorang Nenek tua sebatang kara---tapi kaya, yang berpesan untuk dikuburkan di pemakaman mewah saat nanti meninggal---lengkap dengan list request yang dibuat Nenek itu sendiri.

Kiwi senang, sekaligus miris. Bagaimana bisa seseorang yang masih hidup merencanakan kematiannya dengan begitu teliti? Dan tentu saja Kiwi senang karena harga yang diberikan Nenek tersebut melebihi ekspektasinya. Entah dari mana semua kekayaan Nenek itu berasal.

Dulu Kiwi hanya memiliki Mateo sebagai tukang gali kubur dan Yuda, tukang memandikan jenazah. Sejak awal Yuda serta Mateo memang agak tidak waras jadi mudah saja untuk memanipulasi mereka agar mau bergabung. Kiwi jamin seratus persen di tempat lain tidak ada tukang gali kubur yang dulunya model majalah pakaian dalam. Atau mantan teknisi elektronik yang sekarang jadi pemandi jenazah.

Wajah mereka tampan dan punya daya jual tinggi. Untungnya, Kiwi bukan mucikari jahat yang berencana menjual Yuda dan Mateo sebagai gigolo, jadilah mereka betah mengikuti Kiwi sampai melewati masa krisis usaha.

Balkon apartemennya yang bertempat di lantai sepuluh tak membuat Kiwi gentar menatap ke bawah. Tak ada takut, hanya dingin angin malam yang menusuk. Kiwi berdiri di pinggir pagar balkon tanpa berkedip, sebelum melakukan aksi bunuh diri terjun dari lantai sepuluh Kiwi memastikan apartemennya rapi, kompor sudah dimatikan, dan menyemprot ruangan dengan pewangi.

Setelah memastikan semua terkendali, Kiwi tidak pakai jeda langsung naik ke pagar pembatas balkon kemudian---

---BRUK

Tubuh itu meluncur menembus udara tanpa ragu, tak bisa melawan hukum gravitasi yang ditemukan Newton sampai kemudian menyentuh tanah dengan dentuman tumpul, bunyi-bunyian yang terdengar terlalu padat untuk disebut kebetulan, seolah lantai sepuluh cuma jeda sebelum semuanya selesai. Setelahnya, sunyi jatuh lebih dulu dari siapa pun yang melihat ke bawah.

Ada benturan---tanpa darah, tanpa kematian. Di saat itu Kiwi sadar keputusan yang ia buat serius, tapi hasilnya bercanda. Dengan kesadaran penuh walau kepalanya dilanda pening, Kiwi duduk di sana, masih bernapas dan setidaknya tidak ada patah tulang atau gegar otak.

Lihat selengkapnya