DECEMBER DAWN : THE PROPHET

Coffeeman Never Sleep
Chapter #2

BAB I BUKU ANEH

Hari itu aku mati, tetapi juga hidup. Seakan aku berdiri di antara keduanya.


10 November, 2020

Aku solita, baru saja memecahkan rekor baru sebagai budak korporat dengan keluar kantor pukul dua dini hari. Aku keluar dari gedung kantor sambil menyeret langkah lelah. Lampu-lampu kota masih menyala terang, tetapi jalanan mulai sepi seperti kota mati.

Aku membuka ponselku, notifikasi itu langsung muncul memenuhi layar. Berbagai macam surat cinta dari tukang sampah kompleks, listrik, air, dan... dari rumah sakit.

Ya, beginilah kehidupan seorang tulang punggung keluarga. Kau berharap aku mendapatkan surat cinta? Aku terkekeh pelan sambil memijat pelipis ku, berhenti sejenak untuk sekadar melupakan layar komputer dan berbagai permasalahan di dalamnya.

Bicara dengan diri sendiri? Ini belum termasuk gila... hanya sedikit saja.

Adikku sakit keras dan banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, sementara orang tuaku sudah lama meninggal sejak aku kuliah. Dengan begitu, aku tak punya pilihan selain mengurus adikku. Lucunya, aku bahkan tak yakin bisa mengurus diriku sendiri.

Aku berjalan menyusuri trotoar. Angin malam memang yang terbaik untukku. Selain sepi dan menenangkan, itu juga membuat tubuh dan pikiranku rileks - hanya berlaku bagi orang tak waras sepertiku. Lagipula, orang waras mana yang jalan-jalan jam dua dini hari.

Di dekat halte, aku berhenti sejenak membeli kopi kaleng di mesin penjual minuman, lalu meminumnya sambil berjalan sembari menikmati ketenangan malam. Dilihat dari manapun, wajahku ini sudah seperti bukan manusia - mata panda, rambut lepek, dan pipi penuh bintik. Jika orang lain melihatku, mungkin ia akan lari ketakutan, mengira aku hantu.

"Ah, kopi ini bahkan sudah tak pahit lagi," gumamku sambil menatap langit malam yang tertutup awan.

Aku berniat untuk duduk santai di taman sebentar, mencoba mengistirahatkan pikiranku. Aku melanjutkan perjalanan melewati halte dan proyek gedung yang belum selesai di samping kantorku. Bus sudah tak beroperasi di jam segini, dan memiliki kendaraan pribadi bukan pilihan bagus bagi orang dengan rekening sekarat sepertiku. Jadi, apa pilihanku selain jalan kaki?

Akhirnya aku tiba di depan taman. Aku sempat melirik sekitar untuk memastikan ada gelandangan atau tidak. Bagaimanapun juga, aku adalah seorang gadis yang berjalan sendirian di tengah malam - atau pagi, mungkin. Penting bagiku untuk selalu waspada.

Setelah memastikan taman itu kosong, aku memilih untuk duduk di bagian depan, tak terlalu jauh dari jalan utama. Alasannya sederhana: mencari kursi dengan penerangan lampu. Bagaimanapun, aku juga takut gelap.

Baru saja akan duduk, aku melihat sebuah buku tergeletak di kursi taman. Buku itu tampak antik—halamannya tidak terlalu tebal, dan sampulnya terbuat dari kulit. Ada simbol aneh berbentuk pentagram di tengahnya, beserta simbol-simbol lain yang aku tak tahu itu apa.

"Siapa yang meninggalkan buku yang kelihatannya mahal ini?" kataku sambil mengangkatnya pelan.

Lihat selengkapnya