Hari ini seperti biasa, Keira datang lebih awal dengan bekal sarapan paginya. Menikmati kelas yang masih sepi belum berpenghuni selain dirinya. . Suasana kampus yang sejuk dan sunyi selalu memberi ketenangan tersendiri di hatinya. Dalam diamnya, Keira mencoba merangkum materi, seolah tengah membentengi dirinya dari kekacauan yang mungkin hadir hari itu.
Hal yang sama pun kerap dilakukan oleh Radit. Ia juga sering datang lebih awal. Bedanya, jika Keira datang untuk belajar, Radit datang demi melanjutkan tidur paginya yang sempat tertunda.
Selesai menghabiskan sarapannya, Keira keluar kelas menuju pendopo kecil di belakang fakultas. Ia memang sudah meminta Radit untuk bertemu di sana. Dan benar saja, Radit sudah datang lebih dulu, sedang merebahkan tubuhnya di bangku kayu panjang.
“Ini, gue balikin.” Ucap Keira sambil menyerahkan sweter yang sempat dipijamkan oleh Radit.
Radit langsung duduk dan menatap Keira dengan bingung.
“Ini ambil!” ucap Keira yang langsung menyerahkan sweter hitam ke tangan Radit.
“Kenapa dibalikin?”
“Karena lo nggak minta, jadi gue inisiatif.”
“Kenapa sih, Kei? Padahalkan lumayan buat kenang-kenangan dari gue.”
Keira tersenyum tipis, getir. “Nggak ada lagi yang perlu dikenang, Radit. Yang kita punya udah selesai, dan cukup, Dit.”
Tanpa menunggu respons, Keira berbalik dan melangkah pergi. Hatinya bergetar, tapi tekadnya lebih kuat. Kejadian beberapa hari lalu cukup membulatkan niatnya untuk berhenti berharap.
Kejadian beberapa hari lalu cukup membulatkan tekadnya untuk benar-benar berhenti berharap akan kembali lagi hubungannya dengan Radit. Walau perih dan menyesakkan, Keira memilih untuk memaafkan apa yang telah dilakukan oleh Rania.
“Perlakuan buruk orang lain kepada kita tidak perlu dibalas dengan keburukan. Biarkan Tuhan yang bekerja. Maafkanlah. Berdamailah dengan keadaan.”
Nasihat dari kedua orangtuanya selalu Keira ingat dan catat baik-baik. Ia selalu mencoba untuk memaafkan siapapun yang pernah menyakitinya. Meski ia sering merasa kesal dan ingin membalasnya, tapi ia ingat, bahwa segala sesuatu yang dilakukannya kelak akan mendapatkan balasan dari Dzat yang Maha Adil.
Ia percaya, tidak ada rasa sakit yang tidak terbalaskan. Akan ada masanya suatu hari nanti Rania menerima pembalasan yang lebih menyakitkan dari apa yang telah ia lakukan selama ini.
Keira bertekad akan kembali berusaha melihat Radit hanya sebagai teman yang tidak memiliki cerita indah apapun untuk dikenang apalagi diulang. Ia akan belajar melepaskan Radit dengan ikhlas, sekalipun untuk seorang Rania. Meskipun sangat menyakitkan untuk benar-benar melepaskan Radit dari lubuk hatinya, Keira sadar bahwa akan jauh lebih menyakitkan saat melihat Radit bahagia bersama Rania sedangkan ia masih membiarkan Radit berada dalam hatinya.
“Lo masih marah dengan omongan Rania waktu itu?” tanya Radit yang sudah mensejajarkan langkahnya dengan Keira.
“Enggak.” Jawab Keira singkat.
“Lo benci gue?”
“Enggak.”