Deep Love; Berhenti Pada Satu Nama

Rahmi Azzura
Chapter #17

Rasa Yang Tak Terungkap

Radit membawa Keira ke tempat yang pernah mereka kunjungi bersama. Ke suatu tempat sederhana namun menyimpan kisah tentang mereka dengan sangat istimewa.

“Gimana? Lo pasti suka banget, kan?” Tanya Radit setelah memesan satu cangkir kopi hitam panas untuknya, satu cangkir cappuccino hangat untuk Keira, dan dua jagung bakar. Keira hanya menjawab dengan anggukan kecil dan senyuman termanisnya.

Mereka memilih duduk di tempat yang sama seperti dulu. Di posisi paling pinggir agar dapat melihat pemandangan kebun teh yang terhampar begitu indah di bawah sana.

“Lo kenapa? Sampai harus minta tolong gue temenin pergi ke tempat sejauh ini?” tanya Keira penasaran.

“Kalau gue bilang, karena gue kangen, lo marah enggak?” Radit balik bertanya.

Keira tertawa kecil mendengar pertanyaan Radit. Keheranan Keira semakin bertambah saat ia melihat Radit mengeluarkan sebatang rokok dari saku baju dan sudah siap untuk membakar bagian ujungnya.

“Nggak apa-apa, kan? Satu ini aja.” Radit meminta izin kepada Keira saat ia melihat Keira menatapnya sedikit tajam.

“Sejak kapan?”

“Belom lama. Cuma semenjak gue nggak bareng lu aja.”

Karena gue, lu jadi perokok lagi? Desis hati Keira.

Tanpa meminta persetujuan Keira, ia pun mulai menghisap rokok yang terselip di jemari tangan kirinya.

“Lo pasti masih ingat kalau gue punya asma dan anti dengan asap rokok, ya kan?” tanya Keira.

Tanpa menjawab, Radit langsung membuang dan menginjak rokok yang baru saja ia hisap.

“Sorry, Kei. Gue ....”

“It`s ok. Jadi, ada apa sebenarnya?” tanya Keira memotong ucapan Radit.

“Nggak ada apa-apa. Gue cuma mau ngabisin waktu sebentar sama lo di sini.” Jawab Radit.

Gue kangen momen kita berdua begini, Kei. lanjut Radit dalam hati. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Sambil menikmati dinginnya udara puncak meski berteman segelas minuman hangat.

“Kei, gue mau tanya, apa yang sebenarnya lo pikirkan tentang gue dan Rania?” Radit kemudian memecah sepi di antara mereka.

Keira menatap Radit yang berada di hadapannya. Tatapan mereka bertemu, dan mereka saling menatap begitu dalam.

“Tentang lo dan Rania? Dua orang yang belum selesai dengan kisah masa lalu, dan kalian keliatan kaya pasangan. Dan emang begitu,kan?

“Emang terlihat banget seperti itu? Emang gue terlihat mencintai dia?”

“Terkadang, iya. Kalian keliatan dekat banget … dan juga serasi. Atau mungkin, apa yang pernah dia bilang tempo hari itu bener, ya? Jangan-jangan lo masih sayang sebenarnya sama dia? Secara dia mantan lo, kan?” Ucap Keira dengan berusaha untuk tersenyum dan tenang.

 Ada garis wajah yang berubah dari wajah Radit yang berada di hadapannya. Radit mengalihkan pandangannya dari mata Keira.

Kenapa harus bahas Rania dan elo di sini, sih? Saat ini pula! Please, Radit. Stop it! Jauh-jauh lo bawa gue cuma buat ini?? teriak hati Keira.

“Lo juga mantan gue.”

“Tapi sebelum sama gue, lo sama dia. Bisa aja yang dia ucapkan itu benar. Gue cuma pelarian atau obsesi lo doang, ya kan?” ucap Keira. Ada perih dan sesak yang menjalar di dadanya.

“Lo pasti masih marah dan kecewa banget dengan apa yang lo denger tempo hari di kantin, ya?” Ucap Radit sambil melemparkan pandangannya ke hamparan kebun teh di bawah sana. Ia tidak berminat menanggapi pertanyaan Keira.

Keira merasa semakin perih mengingat kejadian hari itu. Hari dimana Rania merendahkan ia di hadapan lelaki yang masih sangat ia cintai.

Ternyata ikhlas itu berat dan sulit. Ternyata, perasaan gue belum benar-benar selesai. Karena nyatanya gue masih sesakit ini untuk membahas soal lo dan Rania, Dit.

Keira menghela napas berat. “Lupain aja, Dit. Gue udah biasa dengan perlakuan Rania seperti itu. Dari dulu dia memang begitu.” Kata Keira sambil mengaduk cappuccino-nya yang sudah tidak hangat lagi dengan sendok kecil yang tersedia.

“Dari dulu? Maksudnya?” Tanya Radit ingin tahu.

“Ya! Dari dulu dia emang begitu. Entah karena apa, tapi yang pasti dari dulu sikap dia selalu nggak baik, dia selalu terlihat tidak ingin tersaingi oleh gue. Tapi sayangnya, dari segi nilai akademik, non akademik, gue selalu lebih unggul dari dia. Termasuk, soal … ya … itulah!” Keira enggan untuk melanjutkan.

“Soal cowok??” Radit mempertegas. Keira hanya menjawab dengan senyuman dan alis yang terangkat.

“Udah, ya? Stop bahas Rania. Gue nggak nyaman lama-lama bahas Rania.” Pinta Keira dengan senyum getirnya.

“Oke, gue minta maaf. Gue cuma merasa ada salah paham yang harus gue luruskan di sini.” Radit menyesap kopinya yang tinggal setengah cangkir.  “Gue gak pernah membenarkan satu kalimat pun yang Rania lontarkan tentang lo kemarin. Apapun yang Rania katakan itu benar-benar nggak berlandasan. Sama sekali gue enggak pernah menjadikan lo pelarian dari siapapun. Gue atas nama Rania minta maaf karena udah menyinggung perasaan lo waktu itu.”

“Santai aja. Gue udah coba ngelupain semua itu.”

Untuk beberapa saat mereka kembali saling terdiam. Ada segores rasa bersalah yang menyelinap ke hati Keira. Karena dengan mudahnya ia percaya dengan omongan Rania. Keira kembali menikmati sisa cappucinonya.

 “Kei, gue mau tau apa alasan lo minta kita bubar waktu itu?”

Keira sedikit kaget dengan pertanyaan Radit. Tapi dia sudah mengira bahwa suatu hari Radit akan menanyakan hal ini, dan terbukti!

Lihat selengkapnya