Acara festival tahunan kampus sudah berjalan selama tiga hari. Radit beserta jajaran panitia sudah berkumpul sejak pagi untuk mengontrol keberlangsungan acara. Termasuk Keira sebagai sang sekretaris. Rasanya, Keira ingin tetap menjarak dengan Radit, namun kerjaannya sebagai sekretaris Radit menuntutnya untuk banyak menjalin komunikasi dengan Radit.
Keira tak lagi memperdulikan bagaimana tatapan serta ancaman Rania kepada dirinya untuk terus menjaga jarak dengan Radit. Jika dia paham dengan organisasi, tugas, dan tanggung jawab yang sudah diberikan, mestinya Rania tak perlu bersikap seperti itu, begitu pikir Keira.
“Kei, acara kita hari ini apa aja? lo bawa rundown acara dan daftar pengisi acara untuk hari ini?” Tanya Radit yang baru saja memasuki ruang panitia.
Keira langsung mengeluarkan file yang diminta. Radit pun langsung menempati kursi kosong yang berada di depan Keira. Membaca catatan rundown acara yang baru saja diberikan Keira.
“Berarti sebentar lagi ya acara dimulai?” Radit memastikan sambil kembali menyerahkan file yang berada di tangannya kea rah Keira.
“Ran, lo dan tim dokumentasi siap-siap ya!” titah Radit kepada Rania yang berada tak jauh dari mereka.
“Ya.” Jawab Rania singkat.
“Untuk panitia acara, kawal terus ya agenda kita hari ini. Pantau dan sigap kalau ada pengisi acara yang telat datang.” Kali ini titah disampaikan untuk panitia bagian acara yang di dalamnya ada Andri dan Amel sebagai anggotanya.
“Siap komandan!” jawab Andri mewakili.
“Lo udah sarapan?” kali ini fokus Radit kembali ke Keira.
“Ini baru mau.” Jawab Keira sambil mengeluarkan bekel dari dalam tasnya.
“ Oke, good. Jangan sampai telat makan, ya. Acara kita masih panjang, gue enggak mao lo sakit.” Ucap Radit yang langsung bangun dari kursinya dan mendaratkan elusan lembut di puncak kepala Keira sebelom kemudian dia pergi meninggalkan ruangan untuk mengecek lokasi festival.
Keira sedikit terkejut dengan perlakuan manis yang baru saja dilakukan oleh Radit. Singkat tapi mampu memekarkan bunga dalam hatinya. Keira menahan senyum bahagianya saat ia melirik ke arah Rania, dan ia dapati Rania sedang memandangnya dengan sinis.
“Wah, ada yang perhatian banget ya. Gak heran sekretarisnya bisa sampai lupa diri,” celetuk Rania dengan nada pelan tapi cukup tajam untuk didengar Keira.
Keira menoleh, menatap Rania sebentar. Tapi ia memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena tak ingin memperpanjang masalah di depan panitia lain.
“Well, cukup membuka mat ague sih! Gak semua orang tahu batasan,” tambah Rania sambil melipat tangan di dada, seolah bicara pada dirinya sendiri, tapi jelas ditujukan pada Keira.
Memasuki hari ke lima, acara festival. Keira sudah merasa tidak enak badan. Namun dia enggan untuk meminta izin. Dia tak ingin mendapatkan hujan pertanyaan dari Radit jika mendapatinya tidak hadir. Keira hanya meminta izin untuk datang terlambat.
Menjelang jam sebelas siang, Keira baru tiba di kampus. Ia sudah membawa beberapa file dan catatan yang diminta Radit sejak pagi. Ia mendatangi ruang panitia, tapi ia tak dapati Radit di sana. Keira pun mencari Radit ke lapangan, tempat acara festival berlangsung. Panasnya matahari cukup mengganggu Keira yang datang ke kampus dengan kondisi sedang tidak baik-baik saja.