“Beeeeb… tumben lo dateng siang??” sambut Amel saat Keira baru saja tiba di lobi fakultasnya.
Tidak terlalu siang sebenarnya. Karena fakultas masih terlihat sepi. Keira pun menatap Amel penuh keheranan.
“Ada juga lo yang tumben dateng pagi banget!” balas Keira sambil berjalan bersisian dengan Amel menuju kelasnya.
“Cerah banget muka lo, abis cuci muka pake sabun ekstrak lemon ya?” ledek Keira menyipitkan mata dan menggoda Amel.
“Apaan sih lo! Emangnya gue piring berminyak!” cibir Amel
Keira tertawa. Wajah Amel yang dibuat-buat cemberut menambah lucu di mata Keira. Membuat Keira semakin geli tertawa.
“Enggak usah manyun gitu, nanti glowing-nya hilang!” ucap Keira setelah puas menertawakan Amel.
“Lagian lo, sih! Muka cantik gue disamain sama piring berminyak!”
“Dih, siapa yang nyamain? Cuma … ya mirip dikitlah.” Keira kembali menjahili Amel, kali ini bonus dengan jawilan di dagu Amel.
Mereka tertawa bersama, ringan dan penuh kehangatan. Rasanya sudah lama Keira tidak tertawa selepas ini.
“Eh, lo udah makan?” tanya Amel meredakan tawanya.
“Belom, ini mau makan. Lo udah?”
“Belom juga. Sarapan bareng deh yuk ke kantin.” Ajak Amel yang langsung menarik tangan Keira bahkan sebelum mereka sampai di kelas Keira.
“Bekel gue? Gimana?” Keira mencoba menahan langkah Amel.
“Buat entar aja istirahat!” jawab Amel. “Atau lo kasih babang Radit noh! Seneng deh dia entar.” Bisik Amel, setengah menggoda, setengah menyindir.
Keira tersenyum kecil, meski dalam hatinya terbit desir yang tak bisa dijelaskan. Hanya Amel yang tahu hubungan “pertemanan” antara dirinya dan Radit. Tapi hanya Keira sendiri yang tahu, kalau yang ia simpan jauh lebih dari sekadar pertemanan.
Keira pun menuruti kemauan Amel. Mereka pun berjalan bersisian menuju kantin. Kedai makanan di kantin belum semuanya siap. Hanya ada tiga kedai yang sudah buka. Beruntung salah satunya adalah kedai penjual nasi goreng favorit Keira. Setelah memesan dua piring nasi goreng dan dua teh manis hangat, Keira dan Amel pun duduk di kursi yang tidak jauh dari kedai penjual nasi goreng.
“Kei, gue mau cerita sesuatu... tapi malu,” ucap Amel dengan pipi merona.
Keira tertawa pelan. “Baru kali ini lo malu. Biasanya juga cerita duluan sebelum ditanya.”
Amel mencondongkan tubuhnya, suaranya mengecil. “Gue jadian sama Andri.”