“Sementara menunggu dokter Eva visit, istirahat dulu ya. Tadi kami juga sudah berikan obat pereda nyerinya yang langsung kami suntikan di selang infusnya.” Ucap salah satu perawat yang baru saja selesai memasangkan jarum infus pada tangan kanan Keira.
“Ibu, kalau butuh apa-apa silahkan tekan tombol ini ya. Nanti kami segera datang. Kami permisi dulu, Ibu.” Lanjutnya kepada Mama yang berada di samping Keira.
“Baik, terimakasih, Sus.” Jawab Mama diiringi dengan senyum manisnya.
Ruang VIP Jakarta Hospital akhirnya menjadi kamar Keira untuk beristirahat sore ini. Setelah Amel menemukan Keira tidak sadarkan diri di lapangan, ia meminta bantuan kepada beberapa orang yang berada di sekitar lapangan untuk membawa Keira ke mobilnya.
Amel mencoba membuat Keira untuk tersadar lebih dulu, setelah sadar, Keira merintih, menangis kesakitan nyaris di seluruh badannya.
“Mel … sakit ….” Rintih Keira dengan sangat lemah.
“Iya. Iya. Kita ke rumah sakit ya. Lo yang kuat, Kei.” Jawab Amel dengan panik. Tanpa berpikir panjang, Amel segera membawa Keira ke UGD Jakarta Hospital.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Amel pun menghubungi Bu Arin, mama Keira, dan mereka sepakat untuk langsung bertemu di rumah sakit. Selesai pemeriksaan di UGD, dan hasil diagnosa keluar, Keira pun harus di rawat inap. Mama pun memilih ruang VIP untuk putrinya beristirahat sementara waktu.
“Terimakasih, Mel. Karena kamu selalu ada untuk Keira.” ucap Mama begitu tulus kepada Amel yang ikut serta menemani Keira dan Mama ke rumah sakit.
“Sama-sama, Tante. Memang tugas seorang sahabat seperti ini, kan? Saling menjaga, selalu ada di saat suka pun dukanya. Ya, kan?” ucap Amel sambil menatap Keira dan Mama bergantian.
“Thanks, Beb. Maaf, kalau gue selalu ngerepotin lo.” Ucap Keira dengan mata yang sudah berkaca.
“Ssst. Gak boleh ngomong begitu. Gue sama sekali enggak merasa direpotkan. Fokus lo sekarang adalah cepet sehat. Enggak usah mikirin apapun dulu, ya.” Ucap Amel penuh perhatian.
“Thanks, Mel. Lo selalu ada buat gue.”
“Iya, sama-sama. Malem ini mau gue temenin?”
“Mel, bukan Tante menolak kebaikan kamu. Tapi kamu pun butuh istirahat, sayang. Sudah menjelang malam. Kamu pulang ya diantar supir Tante. Besok kalau kamu mau datang lagi ke sini, silahkan.” Mama menjawab pertanyaan yang Amel tujukan kepada Keira.
“Mama benar, Mel. Lo pulang dan istirhat aja. I will be fine. Tenang aja.” timpal Keira.