Deep Love; Berhenti Pada Satu Nama

Rahmi Azzura
Chapter #23

Dingin Berjarak

Pagi hadir dengan sangat cerah. Kicauan burung terdengar bersahutan di kampus yang masih sepi. Semburat mentari mengiringi langkah Keira menuju fakultasnya. Sudah seminggu lebih dua hari ia tidak menginjak kakinya di kampus, dan ia sangat merindukan suasana pagi hari di kampus, bertemu para dosen, menyimak yang presentasi, diskusi dengan teman-temannya. Ah, Keira rindu sekali dengan segala rutinitasnya di kampus.

 Seperti biasa, Keira memilih untuk datang lebih pagi dibandingkan teman-temannya yang lain. Sebulan lagi masa ujian akhir semester tiba. Keira hanya ingin fokus menghadapi ujian akhir, dan mempertahankan nilai-nilai terbaiknya. Agar selepas sarjana ini, ia bisa menembus Oxford University untuk mengambil gelar master dengan jalur beasiswa, seperti kedua kakaknya.

 “Morning, Kei. Lo udah sehat? Lo sakit apa sih? Tumben lama banget! Udah sarapan belom?” tanya Radit yang sudah berada di depan kelas Keira, ia sengaja menunggu Keira. seperti hari-hari sebelumnya.

Hatinya begitu berbunga. Wajah Radit pun kembali terlihat lebih cerah saat ia mendapati Keira mulai datang lagi ke kampus.

“Hai. Ngapain lo di sini?” Sapa Keira tanpa menjawab satu pun pertanyaan Radit. Nada bicara serta ekspresi wajahnya begitu datar.

“Nunggu lo, dan feeling gue tepat, kalau hari ini lo bakal masuk kuliah lagi.” jawab Radit disambung dengan senyuman yang membuat wajahnya semakin terlihat tampan.

“Lo udah sehat, Kei?” lanjut Radit sambil mengikuti langkah Keira memasuki kelas.

“Udah. Kalau belum, enggak mungkin gue di sini sekarang, kan?”

“Udah sarapan belum?”

“Udah.” Jawab Keira singkat. Radit merasa sikap Keira lebih dingin dari sebelumnya.

Radit menatap Keira heran. Ada perubahan sikap yang begitu terasa oleh Radit. Sebelum Keira jatuh sakit, Radit merasa sikap Keira tidak sedingin pagi ini. Radit memilih duduk di kursi samping Keira. Namun Keira memilih bergegas keluar kelas. Sikap dingin yang diperlihatkan oleh Keira membuat Radit semakin bertanya-tanya.

“Kei, sebentar! Gue mau ngomong dulu.” cegah Radit di depan kelas.

“Mending lo balik ke kelas lo, atau temuin pacar lo. Nggak usah lagi khawatirin kondisi gue. Bisa, kan?” ucap Keira dengan tatapan tajam, ia pun yang segera melangkah meninggalkan Radit.

Keira tidak ingin mengalami kejadian seperti siang waktu itu untuk yang kedua kalinya. Baginya pertengkaran antara dirinya dengan Rania cukup menjadi hal pertama juga terakhir. Meski kelasnya dengan kelas Rania dipisahkan oleh gedung fakultas yang berbeda, tapi Keira tidak tau mata-mata siapa yang Rania utus untuk mengawasi gerak geriknya.

“Kenapa sih, dia? Salah apa sih, gue? Kenapa baru masuk sikapnya jadi dingin begitu? Apa gue ngelakuin kesalahan tapi gue nggak sadar, ya?” tanya Radit pelan.

Seperti mendapatkan oase di tengah padang pasir, Radit merasa bahagia saat melihat sosok Amel yang baru aja lewat di depan fakultas Keira.

Lihat selengkapnya