Radit baru saja kembali dari lapangan di komplek rumahnya. Pagi ini, ia menghabiskan waktunya dengan bermain basket bersama teman-teman di sekitar rumahnya. Sebuah kegiatan yang sudah cukup lama tidak ia lakukan. Ia ingin membuang pusing tersebab penyusunan skripsinya yang sudah memasuki bab empat.
Setelah menyimpan sepatu basket di rak, Radit segera memasuki rumah dan langsung menuju ke ruang makan, mengambil segelas jus tomat dari dalam kulkas yang sudah ia siapkan sebelum pergi tadi dan membawanya ke kamar. Sambil beristirahat sejenak, Radit memeriksa ponselnya untuk memastikan apakah ada pesan penting yang belum ia baca.
Hanya beberapa pesan dari dua sahabatnya yang mengajaknya basket sore nanti. Juga dari Rania, yang seperti biasa menanyakan kegiatannya pagi ini dan mengingatkannya untuk sarapan. Pekan ini, Radit bisa merasa sedikit terbebas dari Rania karena Rania tidak akan menggangu akhir pekannya seperti yang sudah-sudah, sebab Rania harus pergi ke luar kota bersama keluarganya.
Sesaat sebelum menyimpan ponselnya, Radit melihat-lihat story whatsappnya. Sepuluh menit yang lalu Keira baru saja memposting sebuat tulisan singkat. Sebuah tulisan yang cukup menarik perhatian Radit.
Terbayang saat bersama.
Lewati masa terindah.
Saat kau memelukku tuturkan cinta.
#just sing a song#
…
Ikhlas, dan Sabar. Tuhan tentu akan memberikan yang terbaik menurut pandangan-Nya. Bukan menurut egoku.
“Ada apa ya? Maksudnya apa nih? Apa dia nyindir gue?” gumam Radit pelan. Ia pun bergegas untuk membersihkan badannya dan menghubungi Keira setelahnya. Hal yang sudah cukup lama tidak ia lakukan. Menelpon Keira.
“Hei, Kei. Gue ganggu gak nih?” tanya Radit ketika sambungan telepon terjawab oleh Keira.
“Tumben nelpon. Nggak, kok. Ada apa, Dit?”
“Nggak ada apa-apa, sih. Cuma mau memastikan aja, lo baik-baik aja, kan?”
“Baik. Kenapa emang?” tanya Keira heran.
Keira yang sedang bersantai di kamar sambil membaca novel tiba-tiba merasa heran dengan panggilan telepon dari Radit. Semakin heran ketika Radit melontarkan pertanyaan seperti itu. Keira pun pindah ke balkon kamarnya agar lebih santai dan nyaman untuk berbincang sedikit lebih lama dengan Radit.
Keira tahu, hari ini Rania sedang pergi berlibur dengan keluarganya. Setidaknya, Keira merasa sedikit aman karena ia tahu Radit tidak akan bertemu Rania dalam waktu dekat ini. Keira mulai merasa lelah untuk terus menghindar dari Radit. Toh sudah cukup lama Keira pun tidak bertemu Radit di kampus karena mereka masing-masing sudah sibuk dengan bimbingan skripsi. Maka, Keira merasa tidak perlu lagi terlalu menjaga jarak dengan Radit seperti beberapa waktu yang lalu.
Karena ia berpikir, secepatnya ia pun akan benar-benar pergi menjauh dan meninggalkan Radit. Fokusnya kali ini cepat menyelesaikan skripsi, sidang, lalu mendapatkan nilai terbaik. Lagi pula, pertemuan dirinya dengan Radit tentu tidak akan sesering saat ia masih aktif kuliah.