Setelah berbulan lamanya bergelut dengan skripsi, berjuang untuk ketemu dosen pembimbing, hingga dibuat lelah oleh segala revisian, akhirnya tiba hari dimana para mahasiswa harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah ditulisnya dalam bentuk sidang skripsi.
“Gimana persiapan sidang kamu hari ini?” tanya Ayah di sela sarapan kepada Radit yang terlihat sedikit tegang.
“Aman, Yah.” Jawab Radit diiringi senyum simpulnya.
Kemeja putih, dasi hitam senada dengan celana bahan yang dikenakannya membuat penampilan Radit pagi ini begitu menawan.
“Jangan nervous, tenang, banyak doa. Bunda yakin kamu bisa dan mendapatkan hasil terbaik nantinya.” Ucap Bunda memberikan angin ketenangan untuk Radit. Radit hanya menjawab dengan senyuman. Bunda selalu tau apa yang dirasa anaknya.
“Tenang, De. Selagi kamu ngerjain sendiri, bukan beli skripsi, insya Allah aman. Karena kamu sudah menguasai materinya. Ya… kalau nanti ada dosen yang iseng-iseng dikit ngasih pertanyaannya, sabarin aja.” kali ini sang kaka memberi pesan.
“Siap, Ka.”
“Kamu mau Ayah anter, atau bawa motor sendiri?” tanya Ayah.
“Pengennya sih bawa mobil.” Jawab Radit yang langsung memberikan cengiran merajuk.
“Haduh, anak muda. Yaudah pake nih mobil Ayah.” Ayah pun memberikan kunci mobilnya kepada Radit.
“Lah, Ayah ke kantor pake apa?” Radit menatap heran ke arah ayahnya. Tidak menduga responnya akan seperti itu. Padahal niat dia hanya bercanda.
“Pake motor kamu, gak apa-apalah, demi anak bujang yang mau sidang.”
“Ih, jangan, Yah. Aku gak apa-apa pake motor aja.”