Keira menatap langit pagi yang begitu cerah dari jendela kamarnya dengan perasaan yang begitu bahagia. Dengan kebaya berwarna peach, rambut yang dibentuk sanggul kepang dengan aksesoris jepit bunga yang menjadi pemanis, serta polesan make up yang minimalis namun elegan mempercantik tampilannya pagi ini. Untuk yang kesekian kalinya Keira mematut diri di depan cermin. Memastikan setiap riasan dan juga penampilannya sudah sempurna. Karena hari ini akan menjadi hari dimana ia resmi menjadi seorang sarjana. Maka ia ingin memberikan penampilan terbaik, di hari wisudanya.
“Kei, Papa sudah tunggu di bawah. Yuk cepet! Keburu siang nanti keburu macet.” Kata Mama saat menghampiri Keira ke kamarnya.
“Siap, Ma!”
Keira memastikan semua benda penting sudah masuk ke dalam tas selempang kecil berwarna senada dengan kebaya yang ia kenakan sebelum benar-benar meninggalkan kamar. Papa dengan setelan jas berwarna abu-abu sudah siap duduk di bangku samping supir. Sedangkan Mama dengan kebaya berwarna senada dengan warna jas yang dikenakan Papa, dipadukan kain batik berwarna dasar hitam dan bercorak sido mukti sudah siap duduk di kursi belakang papa. Keira pun segera duduk di kursi samping Mama.
Sempurna! Oh Tuhan, terimakasih. Aku bahagia sekali!
Pekik Keira dalam hati saat Pak Ratno, supir papanya, mulai melajukan BMW 7 hitam yang mereka naiki. Keira sungguh bahagia karena di sela kesibukan mama dan papanya yang merupakan pebisnis hebat, mereka selalu bisa meluangkan waktu untuk agenda dan acara penting bagi Keira. Padahal Keira baru saja memberitahukan kepada papa dan mama minggu kemarin bahwa hari ini adalah hari wisudanya. Namun, tanpa ada penolakan dan bantahan sedikitpun papa dan mama menyanggupi untuk hadir. Meski setelah itu mereka harus mengatur ulang jadwal meeting yang berbenturan di hari ini.
“Kosongkan jadwal saya untuk lusa. Reschedule semua agendanya. Hari Rabu minggu depan saya mau full time bersama Ibu dan Keira.” kata Papa kepada sekretarisnya melalui sambungan telepon. Keira yang tidak sengaja mendengar itu merasa sangat bahagia, bersyukur, serta berharga.
“Kei, jangan lupa sarapannya dimakan dulu. Kita masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi sebelum sampai lokasi.” Ucap Papa mengingatkan keira.
“Siap, Pap!” jawab Keira yang segera mengambil kotak makan yang sudah disiapkan dalam tas kecil berada diantara dirinya dengan Mama. Dua potong chicken sandwich dengan extra cheese langsung menyambut saat Keira membuka kotak makanannya.
“Papa sama Mama udah makan?” tanya Keira yang hanya melihat dua potong sandwich yang sudah bisa ia pastikan itu hanya miliknya.
“Udah tadi. Kamu dandannya kelamaan, jadi kita duluan sarapan deh!” jawab Mama sambil meledeknya.
“Ih, Mama. Ini kan hari penting buat Keira, jadi harus dandan secantik mungkin.”
“Dandan yang cantik untuk acara perpisahan ini, atau untuk seseorang nih?” Papa ikut menggodanya.
“Ih, Papa ... mulai deh!”
Papa dan Mama tertawa melihat raut wajah anak gadis kesayangannya yang dibuat-buat cemberut.
“Sudah enggak usah cemberut. Habiskan itu sarapannya. Sebentar lagi kita sampai.” Papa kembali mengingatkan.
Keira pun segera melahap habis dua potong sandwich miliknya. Mobil yang membawa mereka sudah memasuki lobi hotel tempat acara wisuda akan diselenggarakan. Sudah banyak yang hadir. Terlihat dari banyaknya orang yang datang dengan memakai kebaya dan setelan jas.
“Amel dimana, Kei? Dia sudah sampai?” tanya Mama.
“Enggak tahu, Ma. Aku chat belum dibalas.”
Setelah memastikan riasan di wajahnya masih aman, Keira pun turun dari mobil. Menyusul mama dan papanya yang sudah keluar mobil lebih dulu. sedangkan Pak Ratno membawa mobil ke area parkir. Mereka pun segera menuju ballroom tempat acara diadakan. Setengah jam lagi acara akan dimulai. Setiap peserta dan orangtua yang datang wajib mengisi buku tamu untuk mendapatkan sekotak makanan ringan sebagai camilan selama acara berlangsung.
“Keiraaaaa … akhirnya ketemu juga di sini. Halo Om, Tante. Ya ampun pasangan yang wow cantik dan ganteng banget Om dan Tante, nih!” Kata Amel yang tiba-tiba sudah berada di samping Keira. Kedua orangtua Keira yang sudah tahu bagaimana karakter Amel tertawa mendengar ucapan Amel.
“Kamu nih, bisa aja deh! Persis mamamu! Hobi memuji orang.” Ujar Mama sambil mencubit gemas pipi Amel. “Mana mama dan papamu?” lanjut Mama kepada.
“Tadi udah masuk, Tante.”