Rania sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu di sunshine café. Tempat favoritnya untuk mengajak Radit bertemu sambil makan dan ngobrol santai. Tempatnya yang tidak terlalu jauh dari rumah, instagramable, serta nuansa berwarna pastel yang mendominasi membuat Rania betah berlama-lama dan tak bosan untuk kembali lagi ke sunshine café.
Di menit kelima belas Rania menunggu, Radit pun datang. Menggunakan kaos polos berwarna hitam dilapisi jaket kulit berwarna coklat muda, dipadukan dengan celana jeans panjang serta sepatu model slip on berwarna coklat, dan tidak lupa sunglasses yang melindungi matanya dari terik cahaya matahari. Penampilan yang membuat Rania selalu terpana tiap kali memandang Radit. Seperti ada kekuatan magic yang tersimpan di dalam diri Radit, bagaimanapun style yang digunakan Radit, selalu membuat Rania merasa kagum dengannya.
“Maaf ya, nunggu lama.” Kata Radit setelah duduk di hadapan Rania.
“Enggak masalah, yang penting kamu dateng.”
“Pastilah. Karena aku udah janji sama kamu, kan? Udah pesan?”
“Baru ini aja.” jawab Rania menunjuk lemon tea dingin yang berada dihadapannya. “Aku sengaja nunggu kamu, kita pesan dulu ya.”
“Ya, boleh.”
Rania pun meminta draft menu kepada salah satu pramusaji yang sudah siap siaga jika ada pe ngunjung ingin memesan makanan. Rania memesan satu spaghetti bolognise untuknya, dan Radit memesan satu nasi goreng spesial pedas dan macchiato dingin.
“Apa yang mau kamu bicarain?” tanya Radit membuka obrolan setelah mereka saling terdiam beberapa saat.
“Tentang hubungan kita, juga tentang kamu dan Keira.” jawab Rania dengan suasana hati yang mulai tak karuan. Sikap Radit seharian kemarin kembali menari di ingatannya.
“Tentang hubungan kita? Maksud kamu?” tanya Radit.
“Ya. Sebenarnya ….”
Kalimat Rania terputus saat pramusaji membawa pesanan mereka.
“Kita makan dulu. Kita bahas itu setelah makan.” Ucap Radit. Rania pun menuruti.
Radit memilih lebih banyak diam sambil menikmati makanannya. Hal yang begitu jarang sekali terjadi ketika mereka menghabiskan waktu berdua. Sikap Radit membuat suasana makan siang mereka terasa canggung dan asing bagi Rania.
Dia berubah. Bukan Radit yang selama ini ada bersama aku. Bisik hati Rania.
“Bisa kita bahas sekarang?” tanya Rania setelah memastikan makanan di piring Radit sudah habis tak bersisa.
“Kamu habiskan dulu itu makannya.”
“Nanti aja, aku udah sedikit kenyang. Aku mau masalah ini cepat selesai.”
“Masalah? Masalah apa?” tanya Radit berpura-pura tidak paham.
“Masalah sikap kamu ke aku. Sikap kamu ke Keira. Aku butuh penjelasan dari semua itu, Dit.” Jawab Rania sambil menahan emosinya yang siap untuk meledak.
Radit nampak terdiam dan berpikir sejenak. Ia masih berpikir untuk mengeluarkan kata-kata yang bisa terdengar tidak terlalu menyakitkan bagi Rania.