Hari sudah menjelang petang. Semburat jingga yang tergores di langit yang cerah mulai bergeser. Tirai malam perlahan mulai turun. Keira ditemani Amel yang sudah datang sejak pagi sibuk membantu Bik Inah mempersiapkan perlengkapan acara little party yang akan mereka adakan bersama Radit and the genk seperti yang direncanakannya sepulang acara wisuda dua hari lalu.
Mengingat nama Radit, ada perasaan tidak enak dengan Rania di dalam hati Keira. Bagaimanapun perasaannya kepada Radit, tetap saja Keira menghargai Rania sebagai sesama perempuan, terlebih lagi Rania adalah saudaranya. Ia pun akan merasakan sakit dan kecewa yang begitu berat jika ada di posisi Rania. Mengetahui, seseorang yang begitu dicintai dan istimewa dihatinya ternyata tidak membalas dengan perasaan yang sama, dan bersikap seperti mempermainkan perasaannya.
“Heh, lo kenapa bengong?” tanya Amel membuyarkan lamunan Keira.
Amel baru saja selesai menata gelas dan minuman di dalam gazebo. Dan Keira, hanya berdiri menatap kosong ke kolam ikan di pinggir gazebo.
“Enggak ada.”
“Bohong! Dari tadi gue liat lo bengong begitu. Gue panggilin dari tadi juga lo enggak jawab! Ada apa sih?”
“Hmmm … gue tiba-tiba aja kepikiran Rania. Gimana kalau dia tahu alasan Radit yang sebenarnya selama ini? Pasti dia marah banget sama gue. Ya, kan?”
“Lo kenapa? Tiba-tiba mikirin orang itu. Belom tentu juga dia mikirin lo, Kei.”
“Enggak tahu, tiba-tiba aja kepikiran. Apalagi keinget tatapan mata dia kemaren waktu di ballroom, lo liat gak? Kaya singa yang udah siap menerkam gue!”
“Hahaha … dia itu cemburu banget, Kei! Radit juga sih sengaja banget deket-deketin lo terus. Udah gue kasih tau padahal buat jaga jarak aman, tetap aja dia nggak mau nurut, kan?”
“Jaga jarak aman … lu kira truck! Tapi iya sih. Apalagi pas Radit maksa minta poto berdua sama gue, Rania tuh gak ngedip kali ngeliatin gue sama Radit. Dia lihat sikap Radit yang begitu ke gue. Gue jadi makin nggak enak sama Rania, Mel.”
“Ya udah. Tenang aja. Selagi nggak ada sikap yang aneh-aneh dari dia lo enggak usah kawatir.”
“Iya, sih!” Keira menghela napas, ragu. “Semoga aja nggak ada hal yang aneh-aneh lagi yang dia lakuin ke gue, ya.”
“Amiiin … semoga juga dia lagi nggak nyusun strategi untuk aneh-aneh ya. Eh, ngomong-ngomong tante Arin tau perlakuan Rania ke lo tempo hari itu?”
“Enggak. Menurut gue nggak perlu tau juga sih!”
“Tapi menurut gue perlu, Kei. Paling nggak lo cerita aja soal ketidaksukaan dia yang dibandingkan sama lo itu.”
Keira terdiam, mempertimbangkan saran Amel.
“Paling enggak kalau lo cerita, tante Arin. Maaf ya Kei, ini sih menurut gue, kalalu lo ngomong ke tante Arin, kali aja beliau bisa bantu untuk ngomong sama orang tua Rania untuk memperbaiki sikapnya sebagai orang tua ke anaknya. Gue rasa nggak ada satu anakpun yang nyaman jika terus dibandingkan. Apalagi sama orang tua sendiri.”
“Iya juga sih. Gue coba deh nanti cari waktu yang pas buat cerita ke Mama.”
“Iya, yang penting dicoba aja dulu untuk ngomong. Biar lo juga nggak kena salah atau dibilang menikmati pujian itu meski di antara keluarga sendiri.”
Keira membenarkan ucapan Amel. Apa yang telah diucapkan Amel sedikit membuka pikirannya. Ia tidak boleh terus berdiam dan membiarkan Rania dikecilkan oleh orangtuanya sendiri. Membayangkan Rania yang diperlakukan tidak enak secara verbal oleh keluarga terdekatnya, dimanfaatkan pula oleh Radit, membuat Keira menjadi semakin iba dengan Rania.