“Lo udah tau gue sama Radit putus?” Tanya Rania ketika Keira baru saja kembali dari dapur dengan membawa minum dan beberapa makanan kecil untuk Rania yang menunggunya di ruang tamu. Ada gurat sedih, kecewa dan terluka yang tergambar jelas di wajah Rania.
Keira cukup terkejut mendengar pertanyaan Rania. Ia menggeleng dengan cepat menjawab pertanyaan Rania.
“Bohong!”
“Sumpah, Ran. Sama sekali gue nggak tau.” Tegas Keira.
“Gue tau lo lagi ada acara barbeque party di belakang. Ada Radit juga, kan?” Tanya Rania dengan penuh penekanan. Rania tahu karena melihat insta story yang diunggah oleh Andri sebelum ia ke rumah Keira, dipertegas lagi dengan adanya motor Radit di garasi rumah Keira.
“Gue enggak cuma sama dia, Ran. Lo jangan salah paham dulu.”
“I know! Lo sama sahabat lo dan sahabat Radit juga. Lo sengaja ngadain acara ini? Buat balikan lagi sama Radit, kan?” tuduh Rania dengan tatapan matanya yang tajam.
Amel yang diam-diam berada di ruang keluarga yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu mencuri dengar pembicaraan mereka rasanya ingin sekali menggertak dan mengusir Rania saat ini. Namun apalah kuasanya. Dia cukup sadar diri bahwa ia pun hanya tamu di rumah Keira.
“Lo ngomong apa sih? Enggak ada niatan gue buat kesana. Bahkan gue aja nggak tau kalau kalian udah putus!” tegas Keira.
Rania tersenyum sinis mendengar jawaban Keira.
“Enggak usah drama, Kei! Lo itu emang paling pinter sandiwara! Gue heran, dua kali loh Radit mutusin gue! Gue yakin banget itu karena lo! Lo emang hobi ya, buat menghancurkan hubungan gue sama Radit? Iya kan?!”
“Ran, gue tegasin ke lo, ya! Gue dan Radit itu nggak ada hubungan apa-apa!! Kita cuma teman!” kata Keira dengan suaranya yang tegas dan sedikit lebih tinggi.
“Teman macem apa sih, Kei? Teman yang saling cinta?? Teman tapi mesra?? Iya?? Temen macem apa yang lo maksud, hah?” Suara Rania mulai meninggi.
Radit beserta Bagas, Gilang dan Andri seketika bisa mendengar dengan jelas suara Rania. Mereka saling bertatapan heran. Saat itu juga mereka berhambur memasuki rumah untuk memastikan. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat Amel sedang mengamati Keira dan Rania dari ruang keluarga. Amel memberi isyarat untuk tidak ada satupun dari mereka yang bersuara, apalagi melangkah mendekati Keira dan Rania.
“Ran, please … tenang dulu.” Keira mencoba untuk tidak terpancing emosi.
“Kenapa? Lo takut Radit denger? Iya?” sinis Rania.
“Bukan gitu, Ran, gue sama Radit nggak seperti yang lo pikirkan. Gue nggak ada apa-apa sama Radit. Kita cuma teman, Ran.”
“Iya gue tanya, temen yang kaya gimana maksud lo? Teman macem apa yang terjalin antara dua orang yang pernah punya rasa?? Bahkan masih sama-sama menyimpan rasa, kan lo berdua?! Denger gue, Keira! Radit enggak mungkin bilang kalau dia tidak mencintai gue, kalau itu bukan karena, lo!”
Keira terdiam mendengar ucapan Rania. Dia bingung bagaimana harus menenangkan dan meyakinkan Rania kalau dia memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Radit. Keira pun tidak mengira Radit membicarakan perihal perasaannya yang sebenarnya kepada Rania.
“Tanpa Radit ngomong siapa perempuannya yang bikin dia tidak bisa mencintai gue, gue udah tau, kok! Kalau perempuan itu ya, lo! Di acara wisuda kemarin itu udah keliatan jelas semuanya di mata gue! Kalau bukan lo, siapa lagi?? Jangan kira gue nggak tau selama ini Radit masih perhatian sama lo, iya kan??”
“Ran … harus berapa kali gue bilang, gue ….”
“Apa?? Lo cuma teman sama dia?? Bullshit, lo!”
Radit tidak bisa menunggu lebih lama dan hanya diam menyaksikan Keira terus dipojokkan oleh Rania. Tanpa mendengar perintah Amel untuk tetap menunggu, Radit meneruskan langkahnya. Mendekati kursi Rania dan Keira.