Deep Love; Berhenti Pada Satu Nama

Rahmi Azzura
Chapter #33

Dalam Diam Aku Hancur

Keira masih terjaga semalaman setelah kejadian tadi malam. Pesta kecil yang diharapkan akan sangat membahagiakan, justru mencipta sayatan luka yang luar biasa perihnya. Tangisnya tak kunjung reda. Bahkan setelah Amel memeluknya dalam diam, ia tetap tak mampu menghentikan air mata yang jatuh seperti badai tanpa henti.

Pagi hari, saat Amel masuk ke kamar dengan dua cangkir teh hangat, Keira masih duduk di sisi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Matanya sembab, wajahnya sayu.

“Lo enggak tidur sama sekali?” tanya Amel, hati-hati.

Keira hanya menggeleng. Tak ada suara.

Amel duduk di sebelahnya. Tak memaksa, hanya menunggu. Sampai akhirnya Keira bersuara — pelan, nyaris seperti bisikan.

“Dia pernah tidur sama Rania...”

Amel menahan napas.

“Dan yang lebih sakit, Mel... gue tahu, gue nggak punya hak buat marah. Tapi hati gue rasanya hancur banget. Kayak semuanya sia-sia. Semua rasa yang gue jaga selama ini ... ternyata kalah sama satu kebodohan yang dia pilih sama Rania.”

Keira menatap Amel, matanya berkaca lagi. “Dia nggak harus bilang ke gue kalau dia cinta. Tapi ... kenapa harus sampai segitunya, Mel? Apa dia emang sebegitunya udah enggak ada gue di hatinya?”

Amel meraih bahu Keira dan memeluknya. “Lo punya hak buat kecewa, Kei. Lo punya hak buat marah. Tapi jangan pernah lo mikir kalau lo enggak cukup. Lo lebih dari cukup, Kei. Dan soal itu … hanya cerita masa lalu mereka, Kei. Pada nyatanya, Radit cuma cinta sama lo. Kalau nggak, gue yakin Radit nggak akan segitunya ngebela dan ngelindungin lo, Kei.”

Keira tak menjawab. Tapi setetes air mata kembali jatuh di punggung tangannya.

“Kei, kalau lo mau marah, nggak apa-apa. Lo juga berhak kecewa. Kesakitan lo saat ini pun wajar. Gue tau, lo juga segitu cintanya sama Radit. It`s oke, Kei. Lo nggak sendiri melewati masa-masa ini. Ada gue. Tenang aja, ya.”

Tangis Keira semakin pecah di pelukan Amel.

Tuhan, ini sakit banget! Tapi aku tahu, nggak ada lagi yang bisa aku lakuin selain terima rasa sakit ini. Dan menerima masa lalu Radit yang seperti itu. Tolong kuatkan aku, Tuhan.

♥♥♥

Sudah dua minggu sejak malam itu. Dua minggu yang terasa seperti dua tahun bagi Keira. Ia butuh waktu, bukan untuk melupakan, tapi untuk meredakan luka yang terlalu dalam untuk langsung diobati. Ia memutuskan menjauh, bukan karena benci, tapi karena kecewa. Kecewa pada Radit, pada dirinya sendiri, dan pada semua harapan yang telah ia bangun diam-diam.

Selama dua minggu itu, semua pesan dari Radit diabaikannya. Ia bahkan menghapus semua riwayat percakapan mereka, seolah ingin menghapus jejak perasaannya juga. Bagi Keira, menjauh adalah satu-satunya bentuk bertahan yang tersisa.

Sedangkan Radit masih terus berusaha untuk menghubungi Keira. Secara langsung maupun melalui Amel. Namun hasilnya nihil. Jelas bagi Radit bahwa Keira benar-benar menjauhinya sejak malam itu. Hal ini cukup menjelaskan kepada Radit jika Keira sebenarnya masih menyimpan rasa yang sama dengannya, hanya saja Keira terlalu rapat menyembunyikan itu semua. Bahkan kali ini, ia tahu Keira terlalu sakit mendengar kenyataan yang terlontar dari Rania.

Radit tak tinggal diam. Ia tahu, Keira belum sepenuhnya hilang rasa. Tatapan mata gadis itu saat menahan tangis, saat memalingkan wajah, bahkan saat mengabaikannya ketika ia berpamitan, semuanya menyimpan arti yang tidak bisa dibohongi.

Dan hari ini, Radit membuat keputusan.

Sore nanti, ia akan datang ke rumah Keira. Diam-diam. Tanpa janji. Tanpa aba-aba. Ia ingin memperjuangkan gadis yang masih mengisi seisi hatinya. Gadis yang pernah ia sakiti, tapi tak pernah ia tinggalkan dari doa-doanya.

Siang yang terik terasa lambat bagi Radit. Ia menghabiskan waktu di kamarnya, kembali menggambar wajah Keira di sketchbook miliknya. Setiap garis, setiap lekuk senyum Keira, terekam jelas di memorinya.

Cinta itu masih ada. Utuh. Tak meredup walau setitik.Semua yang terpancar hanyalah gurat kecewa dan amarah. Maafkan aku yang sudah menorehkannya. Aku tahu, kau menahan perih! Tanpa kau tahu, aku merasa pedih! Kita sama sakitnya. Bisakah kita kembali? Untuk saling mengobati?

Lihat selengkapnya