Deep Love; Berhenti Pada Satu Nama

Rahmi Azzura
Chapter #34

Pelan-Pelan Aku Pulih

Bali jadi tempat Keira menarik napaa panjang dari luka yang baru saja menganga. Hadiah dari orangtuanya atas pencapaiannya, sekaligus cara terbaik untuk menjauh sejenak – dari ingatan, dari rasa, dari Radit.

Pilihan Keira berbarengan dengan agenda temu relasi bisnis Papa di Bali. Tepatnya di kawasan Seminyak. Kawasan itu menjadi destinasi Keira beserta kedua orangtua dan juga sahabat terbaiknya, Amel. Karena jaraknya yang hanya sekitar sebelas kilometer dari Bandara International Ngurah Rai, dan juga karena jadwal meeting dan temu relasi papa yang akan diadakan di salah satu hotel sekitar kawasan Seminyak.

 Keira benar-benar merasa bahagia saat tiba di hotel tempatnya menginap kemarin sore. Terlebih saat ia tiba di kamarnya. Posisi jendela kamar yang langsung menghadap ke pantai sungguh memanjakan matanya.

Keira seperti tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan waktu berliburnya di Bali. Tadi pagi ia minta ditemani Amel untuk berjalan di pesisir pantai depan hotelnya menginap. Menikmati debur ombak dan aroma pantai di pagi hari. Dan saat sore menjelang, ia mengajak Mama untuk ikut serta bersama dirinya dan Amel. Sedangkan papa masih ada meeting dengan beberapa relasi bisnisnya.

Menikmati senja yang begitu cantik di pesisir Pantai Double Six. Duduk santai menghadap pantai di bean bag, di bawah payung berwarna-warni, bersama Mama dan Amel menjadi pilihan Keira. Tidak lupa Mama pun memesan beberapa makanan ringan dari café yang tidak jauh dari tempatnya duduk.

Di saat santai seperti ini, Keira memilih untuk menceritakan semua yang terjadi dengan dirinya dan Rania kepada sang mama. Tujuannya bukan untuk memfitnah atau membuka keburukan Rania. Keira hanya ingin meminta bantuan Mama untuk berbicara kepada Om Fandi, papanya Rania- perihal apa yang dirasakan Rania selama ini karena sikap kedua orangtuanya yang selalu membandingkan Rania dengan dirinya.

“Jujur, Mama kecewa sih, kamu baru bicara soal ini ke Mama sekarang. Tapi Mama berterimakasih sama kamu karena akhirnya sudah mau jujur sama Mama. Dan Tante berterimakasih banget sama kamu, Mel. Karena sudah selalu ada untuk Keira, selalu mau menjadi tempat berbagi untuk Keira.” Kata Mama setelah Keira menceritakan semuanya.

“Sama-sama, Tante. Amel yang terimakasih banyak sudah diajak sampai ke sini.” Jawab Amel begitu tulus.

“Ma, tapi nanti jangan bawa-bawa nama aku di depan Om Fandi dan Tante Ratih, ya. Aku takut Rania semakin sakit hati dan membenci aku.” Pinta Keira.

“Kamu tenang, aja. Biar itu menjadi urusan Mama. Sebenarnya Mama pernah mengingatkan Fandi juga Ratih. Untuk berhenti membandingkan anaknya dengan anak-anak Mama. Karena setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing. Tapi, entahlah. Mama juga enggak ngerti sama pola asuh dan pikir mereka.” Jawab Mama.

Keira merasa lebih tenang saat ini. Ia pun mengakui saran dari Amel ada benarnya. Tidak terbayang bagaimana semakin dalam kecewanya Mama jika Keira terus menyembunyikan perihal sikap Rania kepada dirinya, dan juga tentang apa yang Rania rasakan dan pikirkan.

“Pesan Mama untuk kamu, Kei, yang paling penting adalah, kamu jangan menaruh dendam sedikitpun kepada Rania. Bagaimanapun ia adalah saudaramu. Keluarga kita. Terlepas apapun yang telah dia lakukan, kamu tetap harus memaafkan. Harus bersikap sabar, dan ikhlas. Walau mungkin yang telah dia lakukan sangat menyakitkan untuk kamu. Ingat, Mama selalu menanamkan apa sama kamu?”

“Keburukan, kebencian, amarah, tidak boleh dibalas dengan hal yang sama. Api tidak boleh disiram oleh bensin. Biar ia tidak semakin membakar. Tapi api, harus disiram dengan air. Agar ia padam dengan sendirinya. Saat orang lain menjadi api, maka aku harus menjadi air. Biar tidak terjadi kebakaran yang besar.” Jawab Keira yang selalu mengingat nasihat mama dan papanya.

“Good girl!” jawab Mama sambil mengusap kepala Keira dan tersenyum bangga.

Mama menatap Keira lama. Ada kilau bangga di matanya. Tapi juga sedikit sedih. Anak perempuan Mama, tumbuh terlalu dewasa dalam luka. Bisik Mama kepada dirinya sendiri.

Amel akhirnya paham, mengapa Keira tidak pernah membalas perlakuan Rania dengan hal yang sama. Amel pun paham mengapa Keira selalu bisa terlihat tenang di keadaan yang sebenarnya bisa saja ia meledak. Amel akui, ajaran tentang bagaimana harus bersikap yang baik dari kedua orangtua Keira begitu luar biasa.

Keira tiba-tiba saja teringat rencananya untuk mengejar bea siswa ke luar negeri. Ia belum menceritakan itu kepada sang mama. Ia berpikir, inilah saatnya yang tepat.

“Mam, ada yang Keira mau tanyakan.”

Mama menoleh, menunggu Keira melanjutkan ucapannya.

“Kalau … Keira ambil bea siswa master ke Oxford, bagaimana?” tanya Keira dengan hati-hati.

Mama terlihat berpikir sejenak. Seolah sedang mempertimbangkan baik buruknya jika Keira harus mengikut jejak sang kakak melanjutkan pendidikan di negeri orang.

“Bagaimana ya? Jujus, Mama sih senang kalau kamu bisa ambil bea siswa ke sana.”

“Tapi ….” Keira mencoba melanjutkan ucapan Mama.

“Tapi, Mama berharap kamu melanjutkan di sini saja. Agak berat buat Mama kalau melepas anak gadis jauh-jauh. Kalau Revan, dan Fahmi Mama dan Papa beri izin karena mereka laki-laki. Penerus bisnis Papa kedepannya.”

“Gitu ya, Ma? Hmmm … oke deh! Keira coba pikirkan lagi kalau begitu pertimbangan Mama.”

“Kenapa kamu gak coba aplikasikan ilmu kamu dulu? Dengan gabung dulu di butik Mama misalnya. Tahun depan baru kita coba pendaftaran beasiswa masternya.”

“Bisa, sih. Kei cuma gak mau aja terlalu lama rehat dan kerja, takutnya nanti kalau dipake buat belajar lagi, otaknya malah mandek.”

Lihat selengkapnya