Sudah jam empat sore. Keira kembali mematut dirinya di depan cermin. Dress short sleeve berwarna biru muda, dengan panjang sampai menutupi lutut, bermotif floral menjadi pilihannya. Ia membiarkan rambutnya yang panjang sebahu tergerai, dan menjepitnya sedikit di sisi samping kanan sebagai pemanis. Sedangkan Amel memilih menggunakan celana pantai bermotif etnik yang dipadankan dengan kaos polos berwarna putih. Setelah yakin dengan penampilannya, dan memastikan hal-hal penting terbawa di tas kecilnya, mereka pun bergegas meninggalkan kamar.
Amel dan Keira berjalan menyusuri pesisir pantai menuju Hou Van Café. Hanya sekitar lima menit waktu yang dibutuhkan Amel dan Keira untuk sampai di café tersebut. Keira mengedarkan pandangannya ke setiap sisi café. Tempat yang begitu menarik bagi Keira. Sederhana namun elegan. Pintu masuk café menghadap langsung ke pantai. Untuk melihat pantai dari tempat yang sedikit tinggi, Hou Van Café menyiapkan ruang di lantai dua. Bagian depan café pun disediakan meja payung yang agak rendah karena kursi-kursi yang digunakannya adalah bean bag dengan warna warni yang begitu cantik.
Keira menyapukan pandangannya ke setiap sisi café, dan matanya berhenti pada sosok lelaki bertopi abu-abu, menggunakan kaos polos berwarna navy, bercelana jeans abu-abu, serta menggunakan sandal jepit. Siapa lagi kalau bukan Radit. Seketika itu jantung Keira berdegup lebih cepat. Ada rasa canggung menghampiri. Keira segera berbalik badan, bersiap untuk meninggalkan café selagi Radit belum melihat keberadaanya.
“Lo mau kemana?” tanya Amel saat melihat Keira berbalik badan dan ingin pergi keluar café.
“Enggak … enggak kemana-mana.” Jawab Keira salah tingkah.
“Itu. Radit di sana. Lo samperin dia ke mejanya, dan gue samperin cowok gue ke mejanya.” Kata Amel membuat Keira bingung.
“Kita pisah meja?” tanya Keira memastikan.
“Ya iyalah! Gue enggak mau diganggu dulu sama kalian berdua. Kapan lagi kan gue pacaran di Bali kaya begini?” ucap Amel disusul dengan cengir kuda.
“Lo duduk dimana?”
“Di luar. Andri ngajak duduk di luar aja. Ya udah, yuk! Gue anter dulu ke tempat Radit.” Ajak Amel sambil menarik tangan Keira.
Dengan cepat Keira melepaskan tangan Amel.
“Gue sendiri aja. Lo ke tempat Andri aja, gih!”
“Lo yakin?” Amel memastikan.
“Iya. Udah sana, gue enggak apa-apa.” Keira meyakinkan.
Amel pun meninggalkan Keira yang masih berdiri di depan pintu café. Menghampiri Andri yang sudah menunggunya di salah satu bean bag yang terhampar di depan café. Keira menatap Radit dari tempatnya berdiri dengan perasaan yang campur aduk. Getar rindu, cinta, serta sayangnya kepada Radit yang masih menetap dalam hati memanggil ia untuk segera melangkah mendekat kepada Radit. Namun pernyataan Radit malam itu mampu meredam semua rasa yang ada dalam hati Keira hingga dia ragu untuk melangkah. Tapi hari ini Radit ada di hadapannya. Rela mencari dan menyusulnya sampai sejauh ini. Keira pun tidak tega jika harus mengabaikan Radit saat ini.
Radit berteman segelas jus strawberry, yang masih asik dengan sketch book sambil menunggu, belum menyadari sosok Keira yang sedari tadi telah memperhatikannya dari jauh. Dengan berbagai perasaan yang mampu dikendalikannya dengan baik, Keira menghampiri Radit setelah memesan segelas jus mangga.
“Hai, gue boleh duduk di sini?” tanya Keira ketika sudah berada di hadapan Radit.
Seketika itu Radit menutup sketchbooknya dengan cepat. Dan Keira duduk di hadapan Radit sebelum Radit menjawab apapun.
“Sorry nunggu lama.” Kata Keira.
“It`s oke. Buat lo berapa lama pun gue tungguin.” Jawab Radit.
Ada bahagia yang hadir dalam hati Keira saat mendengar ucapan Radit. Betapa ia ingin sekali memeluk Radit sebenarnya. Melepaskan rindu yang sudah menggebu. Hal yang sama pun tentu dirasakan Radit.
“Itu buku apa?” tanya Keira penasaran.
“Bukan apa-apa.” jawab Radit sambil memindahkan bukunya ke dalam tas.
Untuk beberapa saat lamanya mereka saling terdiam. Menikmati tirai senja yang mulai menghiasi langit dari jendela samping kursi mereka. Begitu cantik dan memanjakan mata yang memandangnya.
“Jadi, apa yang membuat lo bisa nekat dateng jauh-jauh ke sini?” tanya Keira memecah keheningan di antara mereka.
“Gue … hmm … sebelunya gue minta maaf kalau kedatangan gue membuat lo enggak nyaman. Gue cuma mau ketemu lo. Ada hal yang mau gue omongin ke lo, Kei.” jawab Radit dengan tergugup.
“Mau ngomongin apa? Sampai lo harus bela-belain dateng ke sini. Kenapa enggak lewat telepon aja? Sepenting apa, sih?”
“Akhir-akhir ini lo susah gue hubungin. Lagian gue juga ngerasa nggak enak kalau harus lewat telepon.”
“Kenapa nggak tunggu gue balik ke Jakarta?”
“Karena gue takut terlambat untuk bicarain ini semua.”
“Maksud lo?”
“Sebelumnya gue mau tanya dulu perihal rencana lo ambil beasiswa ke luar. Itu gimana? Jadi?”
“Gue kemaren baru aja ngobrol sama Mama, dan beliau keberatan kasih ijin gue untuk ambil itu. Beliau berharapnya gue di sini. Mungkin, ini sih kemungkinan besarnya, enggak jadi. Lo tau, kan? Gue paling nggak bisa nolak permintaan Mama.”
“All about you, gue masih tau banget.”
Keira tersenyum malu.
“So, apa yang mau diomongin? Maksud lo tadi gimana?”
“Kita makan aja dulu gimana? Biar enak ngbrolnya.” Radit menawarkan. Sebenarnya, ia hanya ingin mengulur waktu lebih lama untuk bisa bersama Keira. Tawaran Radit pun diiyakan oleh Keira.
“Jadi, jauh-jauh dateng ke sini mau ngomongin apa?” tanya Keira setelah main course yang ada di meja tersapu bersih. Tinggal dessert dan minuman mereka yang masih tersisa.
Radit terlihat terdiam beberapa saat. Mencoba meredakan degup jantungnya yang begitu berdebar. Ia mencoba merangkai kata-kata yang tepat untuk bisa diterima dengan baik oleh Keira.
“Kei, gue … gue ke sini sebenarnya, mau menanyakan satu hal ke lo. Pertanyaan ini pernah gue tanyain ke lo, tapi jawaban yang gue dapatkan masih abu-abu.”
“Pertanyaan apa?” tanya Keira bingung.
Radit kembali terdiam. Ada sedikit keraguan untuk mempertanyakan hal ini. Ia takut akan mendapatkan jawaban yang sama. Keira sabar menunggu Radit sambil menikmati semburat senja yang semakin indah yang nampak dengan jelas dari jendela yang berada di sampingnya.
“Apakah masih ada rasa sayang dan cinta buat gue, Kei?” tanya Radit akhirnya dengan sangat hati-hati.
Deg!
Keira yang sedang menatap ke luar jendela spontan menoleh ke arah Radit. Ia tidak mengira Radit menanyakan hal itu lagi kepadanya.
Masih! Mungkin utuh! Tapi apa itu masih penting? teriak batin Keira.
“Kenapa lo tanya itu?”
“Karena gue butuh jawabannya, Kei.”