Setahun telah berlalu sejak pertemuan senja itu di Hou Van Café. Setahun penuh pelajaran tentang mencintai, melepaskan, dan menemukan lagi — tidak hanya satu sama lain, tapi juga versi terbaik dari diri mereka masing-masing.
Kini, langit senja masih sama. Pantai Seminyak masih mengantar debur ombaknya, tapi di tengah pasir putih yang hangat, sepasang kaki berdiri berdampingan. Gaun putih Keira menari ditiup angin. Tangan Radit menggenggamnya erat, seolah dunia lain tak lagi berarti. Dan saat mereka bersumpah di hadapan Tuhan untuk bersama selamanya, semuanya terasa utuh.
Setelah resepsi kecil yang hangat dan intim di pinggir pantai itu, malamnya Keira menemukan sebuah amplop yang terselip di antara halaman buku sketsa yang dulu ia simpan. Surat yang diam-diam ditulis oleh Radit — sebagai pesan kecil dari masa lalu, untuk dibaca di masa depan.
Untuk Keira, di Hari Kita:
Hai, mentariku.
Kalau kamu baca surat ini, berarti kita sudah resmi jadi "kita" lagi. Bukan lagi kamu dan aku, tapi kita — selamanya. Kamu tahu nggak? Dulu waktu pertama kali ngelukis wajah kamu, aku nggak berani kasih lihat siapa pun. Takut diketawain. Karena saat itu, aku masih anak laki-laki yang terlalu gengsi untuk mengakui bahwa... satu senyuman kamu aja udah cukup bikin hariku cerah.
Tapi sekarang, aku bisa dengan bangga bilang,
"Lukisan itu nyata. Dia ada di sini. Dia adalah kamu. Dan dia milikku sekarang."
Aku janji akan terus melukis kamu, Kei. Bukan cuma di sketchbook. Tapi juga dalam bentuk:
✧ Pelukanku di saat kamu rapuh.
✧ Doaku di saat kamu lelah.
✧ Tawa kita di antara pertengkaran kecil.
✧ Dan diam-diamku yang selalu memilih kamu—bahkan saat kata-kata sulit keluar.
Terima kasih udah balik.
Terima kasih udah bertahan.