Sejujurnya aku tidak tahu dengan apa yang kulakukan di tengah keramaian ini. Orang-orang ini ramai berkumpul di sebuah ruangan yang dipenuhi kursi dan terisi penuh, dan sebelahnya adalah sebuah perpustakaan yang dinamai dengan nama pendiri gedung yang lokasinya tidak jauh dari stasiun Gondangdia. Orang-orang ini ramai membahas sebuah anime yang bukan saja tidak aku tonton, tapi tahu pun juga tidak. Sejujurnya diskusi ini cukup membuatku bingung untuk orang yang sudah tidak mengikuti anime lagi sejak masuk kuliah tahun 2006 silam. Orang-orang ini membahas Anime dengan begitu antusias layaknya mereka sedang terlibat dalam debat kandidat Pemilihan Presiden.
“Jadi mohon maaf ini, sejujurnya gue salah satu orang yang kecewa sama ending Attack on Titan, harusnya nggak seperti itu. Ini seperti mengkhianati kita-kita yang ingin Eren bahagia dengan Mikasa.” Seorang pria dengan kumis tebal yang kalau dari wajahnya, umurnya mungkin sekitar 20 tahunan awal langsung membuka diskusi dengan semangat, namun tidak lama kemudian pendapatnya langsung dibantah oleh peserta diskusi lainnya.
“Tapi Mikasa udah nggak bahagia dengan Eren. Justru kalau melihat dari sudut pandang Simone de Beauvoir, dengan menumbalkan orang yang dicintainya, Mikasa ini sudah bisa membebaskan dirinya untuk menentukan hidup dia sendiri dan bisa terbebas dari objektifikasi oleh Eren.” Bantahan dari orang tersebut sejujurnya membuatku takjub, membawa pemikiran Filsuf Perancis Abad 20 untuk membedah Anime adalah sesuatu yang jarang kutemukan, dan akhirnya membuatku mulai mengikuti diskusi ini. “Pada akhirnya disini Mikasa sudah menemukan kebahagiaan sejati.”
“Memangnya ada masalah apa dengan objektifikasi? Bukannya kita semua manusia senang di objektifikasi? Coba kita sekarang lihat diri kita masing-masing, kita datang kesini memakai baju yang kita anggap Keren, necis, trendy, belum lagi dengan aksesoris lainnya. Tujuannya apa? Supaya kita menjadi objek perhatian. Jadi salahnya dengan objektifikasi itu apa?” Si pria tadi membela argumennya.
Sejujurnya aku senang dengan arah diskusi ini yang tadinya hanya sekedar membahas anime tiba-tiba bisa melompat kemana-mana. Tapi sebenarnya yang menarik perhatianku dalam diskusi kali ini adalah salah satu wanita yang menurutku cukup manis dan berada di kursi pembicara. Wanita itu setelah kucari tahu di Google ternyata adalah seorang otaku dan streamer game. Namanya Fariba. Usianya mungkin masih 20-an awal kalau diriku melihat wajahnya. Rambutnya pendek sebahu dan ia sering bicara dengan campuran bahasa Indonesia dan Inggris, karena ia lahir dan besar di Pakistan sebelum pindah ke Indonesia di usia 12 tahun, sehingga ia terkadang masih kesulitan untuk berbicara Bahasa Indonesia. Aku senang melihat wajah mungil bulatnya dengan tahi lalat di pipi kiri. Entahlah, dia mungkin tidak akan suka dengan pria yang usianya lebih tua dan tidak menarik seperti diriku, tapi mengharapkan sesuatu yang dirasa mustahil bukanlah sesuatu yang berdosa atau dilarang secara hukum, jadi ya aku pikir tidak masalah jika aku membayangkan diriku hanya berdua bersama Fariba di ruangan ini dan kemudian dirinya tiba-tiba datang ke pangkuanku. Jari tangannya yang mungil lalu memegang bibirku, sebelum akhirnya bibirnya mendekati bibirku.
“Siapa bilang kita senang diobjektifikasi? Itu lo kali. Gue mah kagak. Berpenampilan menarik untuk diperhatikan jelas beda dengan di-objektifikasi.” Sialnya perdebatan soal ending anime yang dari judulnya kupikir menceritakan serangan terhadap band The Titans, yang dulu lagunya “Rasa Ini” sering kudengarkan di bus kopaja dari ponsel Nokia lama-ku kala pulang kuliah dulu, membuat bibirku tidak jadi menjamah bibir Fariba. Ia pun menghilang dan kembali ke meja pembicara. Adapun diriku terseret kembali ke realita, menyaksikan sesuatu yang menurutku absurd namun menarik untuk diikuti.
Aku pun meneguk segelas kopi yang kubeli dari toko kopi waralaba yang letaknya tidak jauh dari tempat diskusi ini. Berharap setidaknya keseruan diskusi di tempat ini bisa menghiburku atas kejenuhan dan kekecewaanku terhadap hidupku selama ini, terutama pada hari ini. Seperti halnya Mikasa, yang menurut salah satu peserta diskusi ini, berhak menemukan kebahagiaannya dengan terbebas dari pengaruh Eren, maka aku pikir diriku juga berhak menemukan kebahagiaan yang sudah lama kucari, namun tidak pernah ketemu, dan seharusnya bisa kutemukan di hari ini.
Sebenarnya tidaklah berlebihan jika aku bilang hari ini seharusnya aku bahagia. Karena ketika aku bangun di pagi hari, aku mungkin adalah orang yang menganggap hari ini akan menjadi hari yang sangat membahagiakan dalam hidupku. Bagaimana tidak, pada hari sabtu ini aku akhirnya bisa izin tidak ke kantor, walaupun jatah cutiku sebenarnya sudah habis. Memang menyesakkan kalau dipikir-pikir, tahun ini belum masuk semester kedua, tapi cutiku sudah habis gara-gara kupakai di awal tahun untuk menemani Ibuku pergi ke Jambi di awal tahun. Kemudian aku sempat sakit di awal tahun sampai tiga hari dan sialnya hanya karena kurang menyertakan surat dokter, akhirnya secara tidak langsung itu memotong cuti tahunanku. Lalu aku kemarin sempat menjaga ibuku yang sempat sakit juga, sehingga akhirnya cuti tahunanku sudah habis, karena itu, kemarin aku sampai rela memohon kepada Kepala Bagian-ku agar hari ini diizinkan untuk tidak ke kantor, karena hari ini aku beralasan menemani ibuku yang akan menghadiri arisan keluarga besar di Tanjung Barat dan karena aku membawa ibuku, Kepala Bagian-ku akhirnya memberikan izin.
Alasan itu sebenarnya tidak salah, karena aku memang mengantar ibuku ke arisan keluarga besar, hanya saja aku memilih untuk tidak ikut kesana, karena sebenarnya aku juga ada janji dengan Hartini, orang yang kuanggap spesial dalam hidupku. Hari ini aku dan Hartini sebenarnya janjian bertemu dengan dia di Kuningan untuk menghadiri Bursa Kerja. Kemarin ia sudah setuju untuk datang karena memang saat ini, ia sedang butuh pekerjaan. Aku sendiri sebenarnya datang ke tempat itu hanya untuk bertemu Hartini saja. Bukannya aku sudah merasa puas dengan pekerjaanku sekarang, hanya saja aku merasa tidak ada banyak lowongan untuk pria yang tahun depan memasuki kepala empat, seperti diriku ini. Selain itu, aku juga sering membaca di media sosial, kalau Bursa Kerja – Bursa Kerja itu hanyalah acara formalitas dari perusahaan-perusahaan untuk menjaga hubungan baik dengan pemerintah. Sehingga, aku rela hanya menemani Hartini saja mencari pekerjaan hari ini, karena yang terpenting bagiku adalah aku bisa bertemu dan mengobrol banyak dengan Hartini secara langsung setelah sekian lama. Itu adalah momen yang sudah kunantikan sejak aku kuliah dulu di Universitas Satya Wiguna atau biasa disebut UNSAW. Dulu aku tidak bisa melakukan itu karena Hartini adalah pacar dari sahabatku. Sekarang ia sudah tidak bersama sahabatku lagi dan tentu saja belum menikah atau punya pacar, jadi wajar saja aku merasa senang bisa bertemu dengannya. Saking senangnya, aku bahkan rela mengganti uang taksi dan membayari makan siang dirinya selama nanti kami bertemu. Bahkan aku sudah mencari jadwal film hari ini di bioskop terdekat atau daftar kafe yang nyaman dan instagramable di daerah Kuningan, yang bisa menjadi tempat kami mengobrol banyak tentang kehidupan. Semuanya hanya untuk bisa bertemu dengannya sore ini.
Sayangnya sejak siang tadi, ia tidak bisa dihubungi. Padahal di pagi hari, ia sudah berkata kalau ia akan berangkat jam 11 dari rumahnya. Aku pun juga akhirnya sepakat untuk mentransfer uang taksi pulang pergi dirinya, walaupun awalnya aku ingin ia membayar terlebih dahulu, untuk sekedar melihat usahanya bertemu diriku. Sayangnya, sejak siang tadi, ia tidak bisa dihubungi. Sudah dua mangkuk mie instan dengan telur dan satu gelas es teh habis kulahap di kantin gedung pertemuan yang menjadi lokasi Bursa Kerja, untuk menunggu dirinya. Sudah hampir lebih dari 20 telpon dari diriku kepada dirinya yang tidak terjawab. Pesan Whatsapp dari diriku pun hanya centang satu, yang berarti ponselnya tidak aktif.
Hampir lumutan rasanya diriku berjam-jam menunggu dirinya. Tidak ada balasan pesan ataupun telpon jelas membuatku bingung dan kecewa. Apakah Hartini jadi datang atau tidak. Kalau jadi, kenapa ia tidak segera tiba. Perjalanan dari rumahnya di Bintaro, kupikir tidaklah terlalu jauh dan tidak sampai memakan waktu tiga jam. Apalagi ia naik taksi dan bisa lewat tol. Tapi kenapa sampai adzan Ashar berkumandang, ia tidak juga tiba. Lalu kalau ia tidak jadi datang, kenapa ia tidak mengabari diriku. Lalu kenapa sebegitu mendadak ia membatalkan pertemuan ini, apalagi dirinya sudah berjanji datang hari ini. Bukan hanya itu, aku pun sudah mengirimkan uang transport untuk dirinya agar ia tidak merasa berat di ongkos. Tapi kenapa sudah sejak sebelum adzan Zuhur hingga usai adzan Ashar berkumandang, tidak ada tanda-tanda dirinya akan datang. Kalaupun di jalan macet, ia tentu bisa mengabari diriku dan aku akan memaklumi hal itu. Tapi tidak ada kabar sama sekali membuat diriku sedikit kecewa, apalagi dengan kondisinya saat ini, ia seharusnya lebih semangat untuk datang ke Bursa Kerja dibanding diriku.
Pada akhirnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini untuk menuju stasiun Gondangdia dengan menggunakan ojek aplikasi. Namun karena aku masih merasa kurang puas dengan cuti terakhir-ku terbuang sia-sia. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di daerah sekitaran stasiun. Pada akhirnya aku menemukan sebuah Gedung yang mana didalamnya ada spanduk “Acara Ngaji Anime…”.
Sejujurnya aku penasaran dengan kata Ngaji Anime. Apakah itu sejenis pengajian dari para Otaku atau Wibu, yang mana dalam banyak kasus, cukup banyak Otaku atau Wibu yang relijius. Atau mungkin karena otakku yang sedang tidak baik-baik saja akibat Hartini, salah membaca spanduk tersebut. Bisa jadi itu adalah acara Pengajian entah dari Ustadz Khalid Basalamah atau Gus Baha, -sejujurnya aku tidak begitu ingin mengasosiakan diriku dengan Islam Basalamah atau Gus Baha- namun terbaca seperti anime karena otakku sedang tidak baik-baik saja. Mungkin kupikir tidak ada salahnya datang ke kajian keagamaan setelah sekian lama. Dulu ketika kuliah di UNSAW sebenarnya aku pernah terlibat di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) kampus-ku, namun karena satu hal dan lainnya, aku memilih berhenti dan fokus pada kegiatan di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UNSAW.
Aku pun akhirnya naik ke lantai tiga gedung, tempat acara dilaksanakan. Ternyata memang itu bukanlah pengajian Ustadz Basalamah atau Gus Baha. Itu memang acara yang membahas Anime dan kata Ngaji disitu sebenarnya singkatan dari “Ngobrol dan Mengkaji”, dan kali ini yang dibahas adalah soal percintaan dalam Anime dengan sample Percintaan Eren dan Mikasa di anime ‘Áttack on Titan’. Walaupun awalnya aku merasa acara ini sangat aneh, namun ternyata acara ini bisa menjadi hiburanku setelah satu hari yang terbuang sia-sia. Aku pun kembali mengecek ponselku dengan harapan ada kabar dari Hartini. Tadinya aku ingin mengajaknya pergi kesini saja jika ia sudah mengabariku, namun karena belum ada kabar juga. Aku akhirnya memutuskan untuk melupakan dirinya pada malam ini.
Pada akhirnya acara diskusi ini berakhir pada pukul enam sore. Perdebatan sengit soal cinta Mikasa pada Eren yang dianggap bentuk objektifikasi akhirnya ditengahi oleh moderator dan akhirnya bisa berakhir. Aku sendiri tidak begitu mempermasalahkan inti dari perdebatan tersebut, karena yang terpenting bagi diriku adalah bisa berkenalan dengan Fariba. Jujur saja, memang ada sedikit pikiran kotor dari diriku ketika ingin mengajaknya berkenalan. Namun, tentu saja, aku tidak akan mewujudkan pikiran kotorku tersebut menjadi kenyataan.
Aku sudah bersiap diri menghampiri Fariba. Bermodalkan berselancar di google dan bertanya kepada ChatGPT, aku mencoba mengumpulkan informasi soal anime terbaru untuk memikat hati Fariba. Akan tetapi baru bergerak beberapa langkah, ponselku bunyi. Besar harapanku yang menelponku adalah Hartini. Tidak masalah, jika ia menelpon hanya untuk sekedar berbasa-basi, yang terpenting bagiku ia menghubungi walau sudah membuatku menunggunya tanpa kepastian hari ini. Seberapa besarpun kesalahan Hartini, otomatis akan kumaafkan. Yang terpenting aku masih bisa mendengarkan suaranya dan memiliki peluang untuk mempersuntingnya nanti. Sayangnya begitu aku mengecek layar ponselku. Bukan nama Hartini yang muncul, tapi nama dari orang yang benar-benar kuhindari untuk kuangkat telponnya. Bahkan aku lebih memilih mengangkat nomor tidak jelas dari marketing bank atau asuransi, dibandingkan mengangkat nomor dari orang yang kuberi nama “Manusia Hina dan Laknat” di kontakku.
Sebenarnya aku heran, jarang-jarang orang ini menghubungiku. Aku berharap sekali kalau yang menelponku ini adalah orang yang ingin mengabariku bahwa manusia hina dan laknat ini meninggal. Karena itu, aku memutuskan untuk mengangkat telpon tersebut. Sayangnya begitu aku mengangkat, aku langsung kecewa. Orang itu masih hidup dan kelihatannya ia juga masih sehat. Benar-benar kesal rasanya diriku melihat orang ini menelponku setelah apa yang sudah dia lakukan pada diriku dan keluargaku,