“Maaf Nyak, udah lama ya nunggu Jupri?” tanyaku dengan khawatir.
“Nggak kok.” Ibuku berusaha membuatku tenang dan tidak kepikiran.
Aku lalu menjelaskan apa yang kualami hari ini, mulai dari Hartini yang tidak menepati janjinya untuk datang, yang akhirnya membuatku datang ke salah satu acara tentang Anime di Gondangdia, sehingga hal itu membuatku telat menemui Ibuku. Tidak lupa aku menceritakan soal Bapakku yang tadi meminta uang ganti rugi, yang mana aku bercerita terpaksa aku transfer agar ia tidak menggangguku.
“Ya udah, mungkin emang dia lagi banyak kebutuhan buat Istri barunya.” ucap Ibuku sambil memintaku untuk tidak emosi, karena setiap aku bercerita soal kelakuan Bapakku sejak menikah lagi, aku memang tidak pernah bisa merasa tenang.
“Tapi kok Nyak masih bisa setenang itu sih ngeliat kelakuan itu manusia sampah.”ucapku kembali dengan nada emosi.
“Jup, nggak boleh gitu. Biar gimanapun itu kan tetep Babe lo.” Ibuku masih berusaha menasihatiku ketika aku menyebut Bapakku dengan panggilanku untuknya sejak beberapa tahun ini.
Aku sendiri enggan mendengarkan nasihat Ibu-ku yang masih terus berusaha bersikap baik kepada Bapak-ku, walaupun perlakuannya selama ini kepada keluarga-ku sanat tidak layak untuk dibela. Aku pun akhirnya mengalihkan pembicaraan dan berkata pada Ibuku untuk segera naik ke kereta, agar tidak semakin membuat kami malah saling adu argumen soal Manusia Sampah itu, yang akhirnya malah merusak suasana. Begitu masuk ke dalam kereta, aku melihat ada satu kursi kosong dan menyuruh ibuku duduk, sedangkan aku tetap berdiri. Kereta kemudian melaju kembali hingga akhirnya tiba di Stasiun Citayam, kami pun segera turun dari situ.
Awalnya kami berencana untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta arah Nambo untuk turun di stasiun Cibinong, namun melihat raut lelah di wajah Ibuku dan ketika aku melihat jadwal, kami masih harus menunggu lebih dari setengah jam untuk kereta tersebut, aku kemudian memberanikan diri mengajak Ibuku untuk pulang naik taksi apliaksi saja. Aku tahu ongkosnya memang lebih mahal untuk bisa pulang ke tempat tinggal kami sekarang di Cibinong, tetapi saat ini aku hanya ingin ibuku bisa duduk nyaman di jok mobil dengan berpendingin udara, kalau perlu ia bisa tidur hingga kami tiba tepat di depan PAUD atau rumah sementara kami.
“Nggak usah Jup. Enyak nggak apa-apa kok naik kereta.” Ibuku kelihatannya tidak ingin merepotkan diriku.
“Gapapa Nyak. Sesekali Jupri ajakin nyak naik DrakeCar. Biar nyak bisa tidur sampe PAUD. » aku bersikeras.
Awalnya aku ingin memesan taksi melalui aplikasi, namun tidak banyak yang mau mengambil, hingga akhirnya aku melihat ada taksi konvensional yang lewat, dan tanpa pikir panjang aku segera memanggil itu taksi. Usai taksi berhenti, kami berdua pun segera naik. Ibuku terlihat senang begitu naik ke dalam mobil, ia menyenderkan badannya di kursi mobil lalu meminta taksi mengantarkan kami ke PAUD Bintang Sejahtera di Cibinong. Tiba-tiba di tengah perjalanan, ibuku meminta Taksi itu untuk melintasi satu komplek. Komplek itu sendiri bukan sekedar komplek perumahan biasa bagi kami, karena di komplek perumahan itu terdapat satu rumah yang sempat kami tinggali selama hampir sepuluh tahun sebelum kami diusir secara paksa oleh Bapakku sendiri. Aku sendiri meminta ibuku untuk tidak membuka luka lama itu kembali, namun kelihatannya kali ini ibuku yang bersikeras.