Definisi Bahagia Menurut Jufri

Kharizma ahmada
Chapter #4

Rembesan di Ruang Kelas

Tidurku terasa begitu pulas malam itu. Entah sudah berapa lama aku terlelap, hingga tiba-tiba sesuatu membangunkanku. Awalnya hanya setetes air yang jatuh tepat mengenai pipiku. Dalam keadaan setengah sadar, kukira itu hanya kebetulan. Aku menarik selimut dan mencoba memejamkan mata lagi.

Namun beberapa detik kemudian, tetesan kedua menyusul. Lalu yang ketiga. Setelah itu ritmenya berubah menjadi deretan bunyi kecil yang tak kunjung berhenti.

Tik... tik... tik...

Aku membuka mata. Langit-langit ruangan yang gelap hanya diterangi cahaya temaram lampu jalan yang masuk dari sela-sela jendela. Di saat yang sama, suara hujan mulai terdengar semakin jelas. Aku lalu membangunkan ibuku. Ia terlihat kaget ternyata atap ruang kelas ini bocor. Aku segera keluar kamar mengambil ember sementara ibuku memindahkan kasur ke sudut yang tidak terkena bocoran air. Aku lalu memastikan tidak ada lagi rembesan dari titik lain di atap. Bangunan ini sendiri memang sudah cukup lama. dibangun pada awal tahun 2000-an dan selama bertahun-tahun nyaris tidak ada perawatan, bahkan ketika aku dan ibuku pindah ke PAUD ini empat tahun yang lalu, tempat ini nyaris tidak terurus. Pamanku memutuskan menutup PAUD ini ketika COVID dan ia sebenarnya ingin menjadikan tempat ini gudang untuk perusahaan percetakannya, namun ketika aku dan ibuku terusir, ia menunda niatan itu agar aku dan ibuku bisa tinggal sementara di sini, hingga kami bisa menemukan rumah baru, yang entah kapan akan bisa terwujud.

“Kalau nyak mau, nanti Jupri bisa bayarin Enyak nginep di hotel sampe ini dibenerin dulu.” ucapku tiba-tiba pada ibuku.

“Buat apa Jup? daripada buang-buang duit, mending ditabung, siapa tau bisa kekumpul buat beli rumah baru. kalo soal bocor nanti panggil Kang Aprian aja buat benerin.”

“Maksud Jupri sampe dibenerin kang Aprian, Enyak tinggal di hotel dulu aja.” 

Lihat selengkapnya