Definisi Bahagia Menurut Jufri

Kharizma ahmada
Chapter #5

Seorang Wanita Bernama Hartini

Usai Shalat Subuh dan tiduran sejenak, aku kembali mengecek ponsel-ku dan aku baru membaca pesan dari Hartini.

Jup maaf ya gue baru bales. Kemaren tuh gue seharian jagain ponakan gue, soalnya kakak gue ada reuni sama temen SMP-nya, terus suaminya ada interview, jadi gue nggak bisa keluar rumah seharian. Maaf banget Jup.

Entah kenapa setelah membaca pesan dari Hartini ini, aku malah semakin kesal. Bagaimana mungkin dia melewatkan momen mencari pekerjaan di Bursa Kerja hanya demi menjaga keponakannya. Selama beberapa bulan terakhir ini, ia terus menghubungiku untuk meminjam uang karena kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Aku sendiri tidak pernah meminjamkan dia uang, namun memberikannya secara cuma-cuma. Aku tahu aku memang terlihat cukup bodoh di mata sebagian orang, mencoba bersikap layaknya orang kaya dengan gaji UMK Bogor lebih sedikit. Apalagi kalau dilihat-lihat, aku lebih terlihat seperti dimanfaatkan olehnya, ketimbang sebaliknya. Namun, itu bukanlah masalah. Karena ia adalah Hartini.

Aku pertama kali mengenal Hartini di tahun ketiga kuliahku. Ia masih satu fakultas denganku, namun beda jurusan. Aku mengambil jurusan Hubungan Internasional sedangkan dia mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Aku bisa mengenalnya karena dia pacar sahabatku, Himsar. Ketika aku bertemu dengannya, sebenarnya sama sekali tidak ada rasa antara diriku dengan dirinya. Namun seiring berjalannya waktu, kami bertiga sering nongkrong bareng usai kuliah, hingga akhirnya rasa yang sebelumnya tidak ada, mulai tumbuh. Namun aku sadar Hartini adalah kekasih sahabatku, maka tidak mungkin aku menikung sahabatku sendiri, apalagi Himsar kala itu sudah kuanggap saudara sendiri. Sebagai sesama mahasiswa HI, aku dan Himsar dulu sering diskusi terkait banyak hal, mulai dari isu politik, ekonomi, militer, gerakan mahasiswa hingga urusan kampus. Karena itu, walau aku selalu berharap Himsar dan Hartini bisa putus, namun setidaknya bukan karena diriku yang menjadi penyebabnya,

Mereka juga yang berbaik hati mengenalkanku dengan Amira, teman Hartini, yang juga mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan Hartini. Amira dulu cukup aktif di pers kampus Universitas Satya Wiguna (UNSAW) dan kala itu aku merasa tertarik dengannya. Namun entah mengapa, di kencan pertama kami, aku begitu gugup. Aku bahkan mencoba melucu dengan menjadikan sepatuku layaknya telpon sambil bilang “Halo halo…. Jupri nih.”, namun kelihatannya dia tidak merespon candaanku. Yah mungkin memang karena candaanku yang kaku atau juga karena aku tidak begitu terlalu hebat dalam berurusan dengan wanita. Apalagi paras wajahku yang jauh dari ganteng membuatku sedikit tidak percaya diri juga setiap kali mendekati wanita. Pada akhirnya usai pertemuan itu, Amira tidak pernah menghubungiku lagi. Dan di saat itu, Hartini yang menyemangatiku.

“Ya udah nggak apa-apa. Belum jodoh kali. nanti gue kenalin lagi deh sama anak Ilkom yang lain.” ujar Hartini kala itu, ketika melihatku putus asa karena Amira enggan menemuiku. 

Pada saat itulah aku sadar kalau sebenarnya aku tidak butuh perempuan lain. Aku hanya butuh Hartini dalam hidupku, walau aku juga tahu saat itu aku tidak bisa mengungkapkan itu. Pada akhirnya aku terus menerus dikenalkan dengan teman wanita Hartini yang lain, namun tidak  ada satupun yang cocok denganku. Karena aku tahu, dalam hatiku, aku tidak butuh mereka, dan yang kubutuhkan hanyalah Hartini.

Seiring berjalannya waktu, kami berdua sama-sama lulus dari kampus kami pada tahun 2011. Kami sama-sama telat satu tahun. Setelah lulus, aku sempat lama tidak kontak-kontakan dengan dirinya, karena aku terlalu sibuk mencari pekerjaan. Jujur saja, dua tahun menganggur setelah lulus kala itu nyaris membuatku depresi dan tidak berani menemui satu pun wanita, termasuk Hartini. Karena rasanya sangat memalukan menemui Hartini dalam posisi menganggur, sedangkan dia waktu itu sudah bekerja di salah satu Bank Swasta dengan gaji yang sudah cukup lumayan pada waktu itu. Walau cukup lama tidak kontak-kontakan, namun setidaknya aku masih mengikuti aktivitasnya di Facebook.

Lihat selengkapnya