Definisi Bahagia Menurut Jufri

Kharizma ahmada
Chapter #6

Ferdi dan Bisnis Sampingannya

“Murung aja lo Jup. Ayo sini gabung.” ucapan itu menyadarkanku dari lamunan tentang hidupku. Orang yang memanggilku adalah salah satu warga lokal yang berbadan besar dan rambut panjang dikuncir, disini, namanya Ferdi. Sehari-hari aktivitasnya adalah berjualan perlengkapan dan servis komputer di kiosnya, yang masih terletak di komplek ini. Ia dan teman-teman yang lain sedang asyik bermain karambol.

“Bentar dulu Fer. Satu batang dulu nih.” ucapku sambil mengeluarkan asap rokok dari mulutku.

Satu hal yang kusukai dari pos keamanan di pintu masuk komplek adalah adanya tempat buat nongkrong sambil main karambol, apalagi tidak jauh dari pos keamanan ada warung gerobak yang berjualan rokok dan kopi, sehingga membuat nongkrong disini menjadi lebih asyik. Apalagi di bangunan PAUD yang menjadi rumah sementara kami itu, tidak banyak hiburan, selain TV yang kami bawa dari rumah sebelumnya, itupun hampir tidak pernah kusentuh karena aku jarang nonton TV dan biasanya, ibuku yang menonton.

Pada akhirnya usai rokokku habis, aku segera bergabung bermain karambol dengan Ferdi dan dua orang lagi, yaitu si pemilik warung berkumis dengan badan kurus bernama Kang Sayuti serta pegawai dari Ferdi yang berkacamata dan berambut panjang namun tidak dikuncir, yaitu Nadif. Mereka sedang asyik bermain. Aku sendiri memutuskan untuk hanya melihat saja mereka bermain, karena memang aku sedang ingin merenung.

Saat ini Ferdi sedang mengambil striker berwarna hitam favoritnya. Ia menggosokkan ujung jari ke bedak yang tersisa di papan, lalu memosisikan striker tepat di garis awal. Ia lalu menyentil striker itu dan benda itu membuat bidak-bidak putih dan hitam berpencar ke segala arah. Satu bidak hitam berputar pelan , lalu masuk ke dalam lubang pojok kiri. 

“Masuk.” teriak Ferdi dengan girang.

“Mantap dah.” komentar singkat Kang Sayuti.

Ferdi lalu mempersilahkan Nadif untuk memakai gilirannya memukul striker. Ia kemudian mengajakku bicara. “Eh Jup, gimana udah dapet rumah belum?” 

“Dapet gimana? duit buat DP aja masih belum ada.” ucapku singkat sambil menyuruh Nadif, yang hitungannya masih pemula dalam permainan karambol, untuk memperbaiki posisi tangannya. 

“Kalo lo mau. kemarin pelanggan gue info, ada rumah di Jonggol mau dijual. Itungannya masih murah kok. enam ratus juta aja. Kalo lo mau ntar bisa gue hubungin lah ke doi, lumayan ini kalo sukses, dapet komisi juga gue.” ucap Ferdi sambil ketawa.

“”Belum ada duit gue Fer.” jawabku singkat, dan memang tidak ingin berdebat lebih jauh, karena mau semurah apapun, kalau uangnya tidak ada, ya rumahnya tidak akan terbeli.

Aku kemudian kembali merenung mengenai apa yang kira-kira bisa kulakukan untuk mencari penghasilan tambahan, agar bisa segera terkumpul uang untuk membeli rumah. Minimal setidaknya uang Down Payment (DP)-nya dahulu. sambil menyegarkan pikiran, aku menonton konten Fariba di Instagram, yang hari ini membuat video terkait acara yang kudatangi kemarin di daerah Gondangdia. Walau usianya masih muda, tapi sejujurnya ia begitu cantik. Aku menyesal kemarin tidak langsung maju ke depan menemui dia sebelum ditelpon ibuku. Aku lalu membayangkan diriku dan Fariba menikah dengan tema anime Attack on Titan, dimana ia memakai kostum Mikasa, sedangkan aku memakai kostum Eren. Walaupun karakter-karakter itu baru kuketahui kemarin setelah mencari tahu di Google, tapi rasanya kami berdua cukup pantas menikah dengan kostum karakter itu. Rasanya juga pasti akan sangat indah, walau kemungkinan itu bisa diwujudkan di dunia nyata hanya nol koma sepersekian persen.

“Jup, kenape lo senyum-senyum sendiri?” Ferdi tiba-tiba menyadarkanku pada kenyataan.

Lihat selengkapnya