“Kira-kira habisnya bisa lima sampai delapan jutaan kang.” Kang Aprian, tukang bangunan yang biasa direkomendasi warga sekitar dan kami hubungi terkait bocornya atap kelas PAUD yang menjadi kamar istirahat diriku dan ibuku, memperkirakan jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki atap yang bocor.
Kang Aprian tadi sudah melihat sumber kebocoran semalam, dan ternyata itu bukan hanya karena genteng yang bergeser. Menurutnya, kondisi atap memang sudah lapuk termakan usia. Beberapa bagian genteng telah retak atau tidak lagi tersusun rapat, sehingga air hujan dapat menyusup melalui celah-celah kecil ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Selain itu, kayu-kayu penyangga dan reng-reng kayu dibawahnya, yang menopang genteng juga tampak mulai lapuk akibat usia dan kondisi lembab. Di beberapa titik, kayu bahkan sudah kehilangan kekuatannya sehingga tidak lagi mampu menahan posisi genteng dengan baik. Akibatnya, saat diterpa angin kencang atau hujan deras, sebagian genteng mudah bergeser dan membuka jalan bagi air untuk merembes masuk ke dalam bangunan. Kang Aprian juga menyarankan untuk memperbaiki rangka atap, soalnya kalau itu tidak diperbaiki, kemungkinan akan bocor lagi tidak lama setelah diperbaiki.
Sejujurnya aku tidak menyangka kerusakannya sudah seserius itu, Aku sendiri sebenarnya enggan mengeluarkan uang banyak untuk renovasi bangunan yang hanya menjadi hunian sementara ini. Akan tetapi, kalau tidak direnovasi, ketika hujan besar, kondisinya tidak akan nyaman dan bisa jadi nanti bocornya merembes kemana-mana, kalau sudah begini tentu kasihan ibuku. Sebenarnya aku masih ada tabungan tapi kalau itu kuhabiskan untuk biaya renovasi, aku tidak akan memiliki dana cadangan di tabunganku. Walau PAUD ini jauh dari kesan layak untuk dianggap sebagai rumah, namun saat ini, disinilah hidupku dan Ibuku, sehingga mau tidak mau harus kami perlakukan layaknya ini rumah kami sendiri.
“Kalau gitu saya pikir-pikir dulu deh Kang.” ucapku dengan nada bingung.
“Iya kang Jupri. pokoknya nanti kalo emang nanti teh akang jadi mau pake jasa saya, kabarin aja kang.” Kang Aprian masih berusaha membuatku memakai jasanya. “Nanti Insya Allah saya teh kerjain berdua sama kawan saya. Insya Allah lima hari kelar itu.”
Ucapan Kang Aprian tidak begitu terlalu terdengar karena aku lebih fokus berpikir bagaimana caranya membenarkan atap bangunan ini tanpa harus keluar uang banyak. Maksudku tanggung jawab seperti ini harusnya ada di pemilik bangunan. Hanya saja, mustahil aku dan Ibuku meminta bantuan Paman Ridho untuk biaya perbaikan, karena sehari-hari kami yang tinggal disini, dan kami bersyukur masih diberikan tempat tinggal, ketimbang harus jadi gelandangan.
Kang Aprian tidak lama kemudian izin pamit untuk meninggalkan diriku dan Ibuku bingung soal kondisi atap kelas PAUD ini. Ibuku sebenarnya bilang bahwa baiknya kondisi seperti itu dibiarkan saja, walau ia tahu kemungkinan ia pindah dari PAUD ini ke tempat baru dalam waktu dekat sangatlah kecil. Aku sendiri kemudian mencoba mengecek saldoku di M-Banking. Sebenarnya memang masih ada anggaran untuk sekedar memperbaiki, hanya saja, kalau uang ini kuhabiskan, maka semakin sulit harapanku untuk bisa membeli rumah, karena uangku yang terus tersedot. Tapi, bagiku kenyamanan dan keamanan ibuku adalah yang pertama, sehingga aku memutuskan untuk memperbaiki plafon, namun aku akan berusaha meminta keringanan harga.
“Lo yakin tuh Jup?” tanya ibuku.
“Iya nyak, ga masalah. Jufri masih ada tabungan kok kalau sekedar renov.” jawabku dengan mantap.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara Assalamualaikum dari luar ruang kelas. Aku dan ibuku segera bergerak membuka pintu dan melihat seorang wanita dengan jilbab biru dan pria berkumis dengan jaket hitam. Wanita itu adalah Hanifah atau biasa kami panggil Ipeh, adikku, dan juga suaminya, Latsar. Keduanya langsung menyalami ibuku dan diriku.
“Loh Ipeh, kok ga ngomong-ngomong mau mampir.” ucap Ibuku kepada Ipeh sambil mengusap kepalanya.
“Ya Nyak, kebetulan Ipeh tadi ada kondangan sepupunya Mas Latsar nikah di Cilodong, jadi sekalian aja mampir ke sini.” kilah Adikku.
“Terus ini kemari naik motor dari Cipulir?” Ibuku bertanya dengan heran.