Definisi Bahagia Menurut Jufri

Kharizma ahmada
Chapter #8

Hari yang Kurang Membahagiakan di Kantor

Hari Senin memang bukan hari yang bersahabat bagi para pekerja sepertiku. Walau sebagai warga Cibinong yang berkantor di Bogor, aku tidak perlu mengalami macet-macetan atau berdesak-desakan di Kereta Rel Listrik (KRL), tetapi tetap ada saja kendala untuk bisa sampai ke Kantor, mulai dari menunggu kereta yang lama di stasiun Cibinong dan kalau telat sedikit, bisa menunggu sampai satu jam, dan juga menunggu angkot dari stasiun Bogor ke Kantorku yang terletak di kota Bogor. Tapi setidaknya aku bersyukur bisa sampai kantor pukul 9 pagi pas, sehingga bisa duduk-duduk sebentar di kursi kerja-ku sambil mendengarkan lagu Indonesia lawas di Youtube. 

Aku memejamkan mata sejenak sambil mendengarkan lagu “JJS Lintas Melawai” dari Hari Moekty, yang dulu sering disetel kawan lamaku di masa kuliah. Mendengarkan lagu ini dengan headset dan mata tertutup seakan seperti membawa diriku ke Blok M, di tahun 1980-an. Aku seakan mengendarai mobil Jip atap terbuka di daerah depan Plaza Melawai memakai kacamata hitam. Tidak jauh dariku, tiba-tiba ada sekelompok gadis dengan rambut mereka ditata mengembang dengan poni tebal, dipadukan jaket denim, rok selutut berwarna cerah, serta aksesori mencolok yang mengingatkanku pada gaya Dessy Ratnasari dan Paramitha Rusadi di Film Blok M. Mereka semua berteriak padaku “Cowok, godain kita dong.”, Namun aku hanya cuek melangkah sambil sesekali tersenyum kepada mereka. Senang rasanya menjadi pusat perhatian. 

“Jupri….Jupri….” gadis-gadis itu memanggil namaku yang entah bagaimana bisa tahu namaku, dan ini  membuat aku jadi merasa seperti Onky Alexander di film Catatan Si Boy. 

“Jupri….” Suara itu terdengar semakin dekat dan entah bagaimana, salah satu tubuhku seperti bergerak sendiri, hingga akhirnya lagu JJS Lintas Melawai yang sedang kudengarkan hilang dan ternyata membuatku kembali ke dunia nyata. Disana sudah ada wanita berusia 30-an akhir bernama Bethari, salah satu staf di Bagian HR dan GA, yang dari tadi ternyata memanggilku.

“Nape sih Thar, ganggu gue aja lagi asik flashback di Melawai tahun 80-an.” ucapku dengan kesal.

“Melawai….Melawai….itu dipanggil Pak Sato dari tadi.” ucap Bethari dengan nada jutek

“Iya…iya.” ucapku yang akhirnya bangun dari kursiku. “Lagian ngapain sih dia pagi-pagi udah nyari gue. Biasanya masih tidur di ruangan dia.”.

“Nggak tau. Udah temuin aja.” ucap Bethari yang kemudian segera duduk di kursinya dan fokus mengerjakan pekerjaannya.

Aku lalu berjalan menemui pak Sato, kepala Bagian HR dan GA, yang baru diangkat beberapa bulan yang lalu. Walaupun namanya terdengar seperti nama orang Jepang, tapi nama aslinya adalah Satoto. Seperti layaknya nama orang Indonesia di masa lalu, yang hanya terdiri dari satu nama. Biasanya ia dipanggil pak Atok, namun orang-orang di bagian ini lebih senang memanggil pak Sato di belakang beliau, supaya terdengar ke Jepang-jepangan. 

Aku lalu melangkah ke ruangan Pak Sato dan mencoba mengintip. Ternyata benar ia sedang asyik terlelap di kursi ergonomisnya. Pintu ruangan sendiri tidak dikunci, sehingga aku nekat masuk ke dalam. Ia mendengkur begitu kencang, yang mana rasanya tidak tega untuk membangunkan. Namun karena aku ingin segera kembali ke mejaku dan mengerjakan pekerjaan, jika setelah ini Pak Sato akan memberiku pekerjaan, aku akhirnya membangunkan dirinya.

“Eh ya Jup. Maaf ketiduran saya.” ujar Pak Sato yang merasa kaget karena kubangunkan. “Semalam saya nggak bisa tidur. tetangga saya hajatan sampe malam.”

“Ya Pak Nggak apa-apa. Tadi kata Bethari, Pak Atok nyariin saya?” 

“Eh ya Jup. Ini….” ia terlihat bingung memulai percakapan dengan menggaruk-garuk kepalanya. “Jadi gini, tadi mbak Sukma dari Bagian Keuangan ngomong sama saya, yang laptop anak magang nggak bisa diganti katanya.” 

“Maksudnya pak?” tanyaku bingung.

“Jadi yang kemarin kita beli laptop buat anak magang kan pake duit bagian tuh. Nah kata mbak Sukma, dia nggak mau ganti, soalnya katanya pembelian barang di atas 10 juta harusnya nunggu persetujuan orang Keuangan dulu.”

Ucapan Pak Sato tersebut membuatku kaget dan bingung. Karena seharusnya itu bisa diganti karena terkait pembelian fasilitas kantor dan biasanya hal seperti itu, tidak pernah menjadi masalah. 

“Loh dulu waktu kita beli mesin penghancur kertas buat bagian kita bisa-bisa aja direimburse, masa sekarang nggak bisa?” tanyaku heran.

Lihat selengkapnya