Pening rasanya kepalaku ini. Sudah tiga batang rokok kuhabiskan dan dua gelas kopi hitam di pos keamanan komplek ini sejak aku pulang kerja. Bahkan menonton konten Fariba yang sedang cosplay jadi Hatsune Miku-pun tidak menghiburku sama sekali. Tidak pernah aku benar-benar sepening ini ketika gaji dipotong, lalu setiap bulan harus setor biaya ganti rugi pendidikan dan sekarang juga harus membayar biaya renovasi rumah. Aku sebenarnya sudah bicara ke Ipeh dan Bang Gozali. Tapi mereka hanya bisa menyumbang masing-masing satu juta Rupiah karena mereka juga butuh biaya hidup untuk sehari-hari. Terutama Bang Gozali, yang tahun ini anaknya mau masuk Sekolah Dasar (SD) dan dia tidak mau anaknya sekolah di SD Negeri. Adapun Ipeh baru saja habis pengeluarannya untuk meminjamkan uang kepada saudara iparnya, yang rencananya akan menikah dengan seorang gadis di Kabupaten Lampung Tengah dan akan menggelar pesta hajatan disana. Aku sendiri akhirnya memutuskan untuk memanggil Kang Aprian untuk merenovasi ruang kelas PAUD, karena bocornya sudah semakin parah dan tidak bisa ditolerir. Mau tidak mau, aku harus merenovasi ruang kelas karena kami belum ada rencana pindah ke rumah baru dalam waktu dekat.
Dalam kondisi ini, mau tidak mau, aku harus menjadi yang paling banyak mengeluarkan uang. Belum lagi kalau Hartini tiba-tiba butuh uang dan tentu sulit rasanya bagiku untuk tidak memberikan. Di sela-sela aku mengopi dan rokok sembari diiringi lagu Karunya dari Yanti Ariyanto, yang diputar melalui ponsel Kang Sayuti sambil rebahan di pos keamanan, yang sebenarnya kalau dalam situasi normal terdengar enak, tapi dalam situasi seperti ini, rasanya tidak terlalu bisa kunikmati, karena suasana hatiku sedang tidak enak, tiba-tiba Ferdi datang menghampiriku.
Ia datang dengan kaos oblong hitam dan celana pendek bersama dengan Nadif yang memakai baju koko hijau dan celana jins. Awalnya ia mengajakku main karambol, namun aku sedang malas, dan lebih memilih diam merenung sambil merokok dan menyeruput kopi hitam-ku. Ia kemudian bertanya keheranan.
“Lo lagi kenapa sih Jup?”
“Lagi pusing gue Fer.” jawabku sambil menghembuskan asap rokok dari mulutku.”gaji gue dipotong, meski keluar duit buat renovasi sampe bayar uang ganti rugi ke bokap gue tiap bulan. Pengeluaran mendadak jadi banyak. Kalo gini gimana gue mau beli rumah.”
“Ya gimana Jup. Namanya juga hidup. pasti ada aja cobaannya.” ucap Ferdi sambil duduk menyilangkan kaki dan tiba-tiba jadi mode Ustadz karena memang dia dulu pernah jadi ketua Remaja Masjid di Masjid Komplek perumahan ini, walau kelakuannya terkadang mungkin tidak mencerminkan posisi yang pernah ia emban. “Dulu gue inget omongannya Pak Ustadz Sanusi di mesjid, kalau semua cobaan dalam hidup itu sebenernya adalah kunci keberhasilan.“
Ia lalu mengutip Hadits Nabi dari H.R. Tarmidzi. bahwasanya jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan mengujinya. Orang yang menerima cobaan dengan ridha akan mendapatkan keridhaan dari Allah, sementara mereka yang marah hanya akan mendapatkan kesengsaraan. Tidak lupa ia mengingatkanku ucapan dari Imam Syafií bahwa jika seseorang sedang diberikan cobaan, hendaknya bersabar karena setelah cobaan pasti ada keberhasilan.
Sejujurnya aku tidak begitu senang dalam kondisi seperti ini diceramahi. sejujurnya aku setuju dengan ucapan Ferdi, hanya saja aku selalu bertanya-tanya kapan cobaan ini akan berakhir. Sudah bertahun-tahun rasanya kegagalan menjadi sesuatu hal yang lekat dengan diriku. Jikalau kegagalan itu adalah manusia, mungkin aku sudah berteman akrab dan menikah dengannya, karena saking seringnya aku gagal dalam hidup. Mulai dari gagal mendapatkan kuliah di universitas negeri, gagal mendapatkan pekerjaan tanpa bantuan orang dalam, gagal mendapatkan wanita yang kucintai hingga gagal mendapatkan keluarga yang utuh dan layak, seperti halnya keluarga teman-temanku. bahkan aku harus dapat Bapak yang bukan hanya durhaka ke keluarganya sendiri, tapi bahkan tega membuat mereka menderita.