Definisi Bahagia Menurut Jufri

Kharizma ahmada
Chapter #10

Resepsi Pernikahan Himsar

Sabtu ini aku sudah tiba di salah satu gedung pertemuan di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur. Gedung ini menjadi saksi teman lamaku, Himsar memulai hidup baru. Usia Himsar sendiri saat ini sudah masuk 40 tahun. Menurut orang Indonesia, itu memang bukan usia ideal untuk menikah. Namun bagiku, setiap orang memiliki garis kehidupan yang berbeda antara satu sama lain. Lebih baik Himsar menikah tepat di usia kepala empat daripada tidak menikah sama sekali. Lagipula misal Himsar tidak mau menikah juga, itu adalah keputusan hidupnya, dan aku tidak mau ikut campur. 

Hari ini aku mengenakan batik coklat dan celana bahan hitam, sembari membawa tas. Aku melihat halaman gedung ini sudah ramai dengan orang-orang, namun dari sekian banyak orang tersebut, hampir tidak ada orang yang kukenal. Memang beginilah risiko datang ke pernikahan kawan lama, yang mana teman-teman seangkatanku sepertinya sudah mulai sibuk dengan urusannya sendiri, dan terkadang tidak punya waktu untuk hadir ke pesta. Berbeda dengan satu dekade yang lalu, di kala usia kami masih berada di angka 20-an, dan beberapa dari kami belum berkeluarga. 

Aku lalu menghampiri meja penerima tamu dan mengisi buku tamu serta tidak lupa memasukkan amplop, yang kemudian dibalas dengan salah satu panitia memberikan voucer souvenir. Aku lalu masuk ke dalam gedung pernikahan. Acara sendiri baru saja dimulai dan makanan masih terbungkus plastik rapi. Aku sendiri sebenarnya memang berniat untuk makan dulu baru memberikan selamat ke Himsar, sekaligus mungkin menunggu kawan-kawanku yang lain. Sayangnya aku masih belum menemukan satu pun teman lamaku dari FISIP Unsaw, terutama teman-teman dari jurusan Hubungan Internasional.

Pada akhirnya usai pembacaan doa, para tamu undangan segera berbondong-bondong menuju ke pelaminan untuk menyalami kedua mempelai. Menurut informasi dari Himsar, istrinya ini adalah teman kantornya dan sudah pacaran dengannya sejak tiga tahun yang lalu. Namun ia baru berani melamarnya beberapa bulan yang lalu. Ia tidak menceritakan alasan kenapa sampai harus menunggu tiga tahun, padahal di negara ini, biasanya jika sudah masuk kepala tiga, seluruh anggota keluarga sudah buru-buru mendesak orang yang sedang berpacaran untuk menikah. Bisa jadi ada pertimbangan lain seperti soal keuangan, kesiapan mental atau hal lainnya. Aku sendiri tidak mau terlalu pusing soal itu dan memilih untuk menikmati semangkuk empal gentong Cirebon yang masih mengepulkan uap hangat. Kuah santannya yang kental mengeluarkan aroma rempah yang menggugah selera dengan perpaduan bawang, kunyit, ketumbar, dan sedikit harum daun bawang yang baru saja ditaburkan di atasnya. Potongan daging sapi yang empuk hampir langsung terlepas ketika kusendok.

Namun tiba-tiba, di tengah aku menikmati empal gentong ini, aku melihat sosok yang cukup familiar. Sosok yang dulu sering nongkrong denganku, walau secara teknis dia bukanlah mahasiswa Hubungan Internasional (HI), tapi mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom), yang kalau di Unsaw kala itu, masih masuk ke dalam bagian dari FISIP. Selain itu, ia juga bukan angkatanku, melainkan satu angkatan dibawahku. Karena dulu, aku sering mengulang mata kuliah dan aktif di lembaga kemahasiswaan, maka aku juga jadi kenal banyak junior, yang mana bukan hanya lintas Jurusan tapi juga lintas Fakultas.

“Joko Waluyo?” ucapku untuk memastikan bahwa ia adalah mahasiswa Ilkom angkatan 2007.

“Jufri Setyanto?” ia memanggil balik namaku yang berarti mengafirmasi kalau benar ia adalah Joko, teman lamaku. 

Aku lalu menaruh mangkuk Empal Gentong-ku dan menyalami Joko. Kami berdua tidak menyangka bisa bertemu kembali setelah satu dekade lebih. Sebenarnya ia adalah teman dari temanku, Tatang, mahasiswa jurusan Administrasi Publik (AP) yang pindah ke Ilmu Komunikasi satu tahun setelah kuliah di AP, karena merasa tidak cocok dengan perkuliahan disitu. Aku dan Tatang dulu sangat akrab karena rumah kami searah, yang mana itu membuat kami pulang pergi naik bus yang sama. Tatang lalu mengenalkanku ke teman seangkatannya, seperti Yohan, yang sekarang menjadi jurnalis di salah satu media cetak ternama dan Joko, yang dulu setahuku bekerja di salah satu Yayasan pendidikan milik salah satu perusahaan. Aku mulai mengenalnya ketika nonton bareng Final Piala Dunia 2010 yang dimenangkan oleh Spanyol, bersama Tatang, Yohan dan teman-teman kami lainnya. Joko sendiri sebenarnya sama seperti diriku dan Tatang, yang bukanlah pecinta sepakbola, namun ia senang ikut nobar hanya untuk sekedar merayakan keramaian dan keriuhan dari pecinta sepakbola. Selain itu, momen seperti final Piala Dunia juga biasanya turut dinikmati juga oleh mereka yang dalam keseharian tidak terlalu senang menonton pertandingan sepakbola, seperti aku dan Joko contohnya. Bahkan ia adalah satu-satunya orang yang tidak bereaksi ketika Andres Iniesta berhasil menjebol gawang Maarten Stekelenburg di menit 116, di saat pendukung Spanyol berteriak kegirangan sambil melompat, sedangkan pendukung Belanda hanya tertunduk lesu.  Aku ingat di kala itu, dia malah mengajak ngobrol soal mulai dari kesamaan bentuk piramida, astronomi kuno, hingga dugaan adanya peradaban besar yang menghubungkan Mesir, Maya, dan Inca ribuan tahun silam. Aku sendiri tidak tertarik menanggapi, namun justru Tatang yang ikut menanggapi. Tapi sejak itu kami akhirnya berteman di Facebook dan aku jadi tahu segala aktivitasnya, terutama hobinya ikut ke dalam komunitas UFO Hunter dan pecinta teori konspirasi.

Aku lalu menanyakan kabar Joko dan aktiitasnya sekarang. Ternyata ia masih bekerja di Yayasan pendidikan seperti dulu. Sebenarnya aku ingin meledeknya soal dirinya yang bekerja di tempat yang sama selama satu dekade lebih. Tapi aku kemudian ingat kalau diriku pun tidak jauh beda, sehingga aku mengurungkan niatku.

“Ngomong-ngomong, lo kenal sama Himsar dimana? Lo kan bukan anak HI dan beda angkatan pula.” tanyaku yang mendadak ingat.

“Gue emang nggak kenal sama Himsar, tapi bininya itu dulu temen kantor gue sebelum pindah ke kantor dia sekarang. Dulu kita kebetulan pernah satu tim.” jawab Joko santai yang kemudian membuatku sadar kenapa ia bisa disini dan baru menyadari kalau dunia ternyata bisa sesempit ini.

Aku dan Joko lalu bernostalgia sejenak sembari mencari aku berusaha mencari teman seangkatanku yang lain, tapi karena berdasarkan pengamatan diriku, aku belum menemukan teman seangkatan-ku, aku lanjut mengobrol dengan Joko. Aku lalu mencoba bertanya soal informasi tanah lima hektar yang masih kosong  di Bekasi yang bersedia dijual kepada perusahaan taksi asal Laos untuk dijadikan pool.

Lihat selengkapnya