“Hartini…” Aku memanggil wanita yang baru saja kulihat, namun ia sepertinya tidak mendengarku dan masih terlihat berkutat dengan pikirannya sendiri, sehingga aku memutuskan untuk menghampirinya lebih dekat. “Har, lo ngapain disini?”
Ucapanku tersebut kelihatannya membuat Hartini terkejut. Ia seakan tidak menyangka aku akan menghampirinya dalam keadaan bingung dan bergumul dengan pikirannya sendiri. Ia lalu menyapa balik diriku. “Eh elu Jup….ngangetin gue aja.”
“Lo ngapain bengong disini Har? kenapa nggak masuk ke dalam?” aku mengulang pertanyaanku di awal khawatir ia tadi tidak dengar, aku juga tidak menghiraukan respon dia sebelumnya.
“Ya Jup, ini baru nyampe gue, terus gue agak ragu jadi masuk ke dalam atau nggak.” jawab Hartini yang terlihat seperti jawaban seadanya ketika kaget ditanya soal sesuatu di luar ekspektasinya.
“Kok malah ragu?” aku jadi semakin penasaran.
Hartini akhirnya bercerita bahwa ia diundang oleh Himsar beberapa hari yang lalu untung datang ke pernikahannya. Awalnya Hartini bingung kenapa Himsar mengundangnya ke acara pernikahannya, karena meskipun hubungan mereka sudah berakhir lebih dari satu dekade yang lalu, dan sejak itu, sudah tidak ada apa-apa lagi diantara mereka, namun tetap saja itu adalah sesuatu yang tidak etis bagi Hartini untuk menghadiri pernikahan Mantan. Namun karena Himsar meyakini bahwa walaupun hubungan asmara mereka sudah selesai, namun bukan berarti hubungan pertemanan mereka juga harus usai. Ia lalu bertanya apakah calon istrinya tidak cemburu ketika Himsar mengundangnya, Himsar justru membalas bahwa calonnya yang meminta Himsar mengundang Hartini, karena calon Istrinya juga mengundang beberapa mantannya. Walaupun begitu, Himsar tetap tidak akan mempermasalahkan jika Hartini menolak hadir dan ia bisa memaklumi itu. Pada akhirnya, itu jadi satu kebimbangan sendiri bagi Hartini. Di satu sisi, ia sudah tidak ingin mengenang kembali masa lalunya dengan Himsar, namun ia juga ingin membuktikan bahwa ia bisa terus melanjutkan hidup tanpa Himsar. Kebimbangan itulah yang membuatnya sejak tadi hanya diam di dekat pintu masuk.
“Jadi menurut lo gue harus ke dalam atau pulang aja Jup?” Hartini malah bertanya balik kepadaku.
“Lah kok malah nanya gue. Dari elonya gimana?” tanyaku balik pada dirinya.
“Jujur Jup, gue belum siap.”
Hartini lalu bercerita bahwa selain karena ia tidak ingin mengenang masa lalunya dengan Himsar, ia juga masih sedikit minder untuk bertemu orang banyak. Ia sudah menganggur sejak jauh sebelum pandemi karena diminta kakaknya mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk menjaga anaknya, dan sejak itu, ia jadi tidak punya keberanian untuk bertemu orang lain. Walaupun ia yakin, Himsar tidak akan menghakiminya, namun ia khawatir jika bertemu orang yang ia kenal, maka orang itulah yang akan menghakimi dirinya. Tadi ia mengaku melihat seorang teman lama Himsar yang juga mengenalnya, karena dulu Himsar sering mengajaknya bertemu dengan teman-temannya. Ketika melihat orang itu, Hartini langsung bersembunyi untuk menghindari berpapasan dengan teman lama Himsar tersebut, dan ia baru berani kembali ke posisi tempat ia berdiri sekarang, ketika ia sudah memastikan orang itu sudah pergi. Orang itu sendiri bukanlah alumni UNSAW, sehingga aku tidak mengenalnya. Namun mendengar itu, aku hanya bisa memberinya satu nasihat.
“Har, lo nggak usah takut sama penilaian orang-orang. Gue ngerti dengan apa yang lo rasain sekarang. Gue pernah ngerasain nganggur hampir dua tahun pas abis lulus dan setiap dateng ke acara kaya kondangan gini, hal yang gue takutin adalah ketemu temen seangkatan gue dalam kondisi pengangguran dan hidup nggak jelas. Tapi bukan berarti itu jadi alasan lo buat takut.”
“Ini beda Jup. Lo nganggur nggak sampe dua tahun. Ini gue udah delapan tahun lebih nganggur. Hidup gue nggak jelas.”
“Tapi itu kan cuma perasaan lo aja Har. Lagian belum tentu juga mereka ngehakimin lo. Setiap orang itu punya permasalahannya sendiri kok. Apalagi di usia seumuran kita. Biasanya udah nggak peduli lagi sama hidup orang, karena urusan di hidupnya sendiri aja udah seabrek.”
“Ya gue paham Jup. Tapi tetep aja gue bingung.”
“Ya udah Har, kalau lo emang belum siap, lo nggak usah masuk ke dalam. Himsar kan juga ngomong dia nggak masalah kalo lo nggak dateng. Kita nyari tempat buat makan Bakso aja yuk. Ntar gue yang bayarin.” ucapku mencoba menenangkan Hartini.
“Tapi Jup…gimana ya…”Hartini kelihatannya masih bimbang.
“Kalau lo masih mau masuk nggak apa-apa, gue tungguin lo disini.”
Usai berpikir sekitar beberapa menit, Hartini akhirnya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam, karena ia merasa mentalnya masih belum siap. Ia lalu menyetujui usulku untuk mencari tempat makan di sekitar sini untuk mengobrol. Kebetulan tidak jauh dari lokasi pernikahan, ada penjual Bakwan Malang di gerobak, tanpa membuang waktu kami langsung menghampiri gerobak tersebut dan memesan Bakwan Malang.
“Bang, bakwannya satu ya.” ucapku kepada penjual Bakwan ketika aku tiba di depan gerobaknya.
“Lo kok satu? emang lo nggak makan?” tanya Hartini kepadaku.
“Enggak Har, gue tadi di dalem udah makan banyak di dalem. Gue paling beli kopi aja.” ucapku yang kebetulan melihat penjual Kopi Starling tidak jauh dari gerobak Bakwan Malang, dan lalu bergegas memesan kopi hitam ke abang penjual Starling tersebut.
Aku dan Hartini kemudian duduk di kursi plastik yang disediakan oleh Penjual Bakwan Malang. Tidak lama kemudian si penjual Bakwan menyerahkan semangkuk Bakso dan Bakwan ke Hartini, begitupula dengan tukang starling menyerahkan segelas kopi hitam di gelas plastik kepadaku. Tiba-tiba saja, Hartini memulai pembahasan yang terlihat serius dengan diriku.
“Jup menurut lo orang-orang seumuran kita ini, yang udah mau masuk kepala empat, tapi hidup kita masih stuck dibawah, apa udah layak disebut sebagai manusia gagal?” ucapannya sontak membuatku kaget dan hampir tersedak kopi yang sedang asyik kuminum.
“Kok lo tiba-tiba nanya gitu?” aku bertanya dengan nada kaget.