Aku akhirnya tiba di Pusat Kebudayaan Belanda pada pukul enam sore. Sebenarnya aku bisa tiba lebih cepat, tapi karena aku tadi sempat tertidur, aku sampai kelewatan beberapa halte, dan akhirnya harus menunggu lama untuk bisa tiba di halte tujuanku, yaitu halte Underpass Kuningan, yang berada tepat di depan Pusat Kebudayaan Belanda, yang sebenarnya kalau mau loncat dari halte, tidak butuh waktu tiga menit untuk sampai kesitu, tapi karena itu tidak mungkin, dan aku harus naik turun ke jembatan penyebrangan, maka perjalanan dari halte ke lokasi bisa memakan waktu lebih dari lima menit. Tapi itu bukanlah masalah. Mungkin sedikit olahraga bisa mengurangi tensi darah tinggiku, yang sepertinya tadi naik usai mendengar ucapan Hartini. Lagipula pertunjukan baru akan dimulai pukul 19.30 WIB, sehingga aku masih ada waktu satu setengah jam untuk duduk bersantai, karena Riyad juga masih di jalan menuju kemari.
Aku duduk di salah satu bangku yang berada di sebrang Kafe di dalam area Pusat Kebudayaan Belanda ini. Sambil menunggu Riyad, aku menyalakan rokok dan berniat memesan kopi hitam di kafe tersebut, namun karena harganya lebih mahal dibandingkan di warung kopi biasanya, aku lalu mengurungkan niatku. Pada akhirnya aku hanya duduk terdiam sambil menghisap asap rokokku. Sesekali aku melamun dan pikiranku seperti kilas balik dengan tempat ini. Pertama kali aku ke tempat ini adalah pada tahun 2010, untuk menonton konser band asal Belanda, Di-Rect, yang aku sendiri sebenarnya tidak terlalu tahu, tapi Riyad, yang waktu itu mengajakku bilang, kalau lagu-lagu band tersebut seperti “Just The Way I Do” dan “Inside My Head” sangat populer di telinga pendengar MTV Indonesia kala kanal itu baru berpindah rumah dari ANTV ke Global TV. Aku sendiri tidak tahu lagu itu, dan satu-satunya hal yang membuatku ingin datang ke tempat ini kala itu karena aku butuh pelarian dari kegilaan di rumahku kala Bapakku terus menerus membuat kami sekeluarga kecewa dan gila dengan keputusannya membiayai usaha tetanggaku di lingkungan lamaku, yang di kemudian hari ternyata terbukti bodong.
Pada akhirnya entah kenapa Band Belanda itu tidak membawakan dua lagu mereka yang populer di Indonesia itu, namun kami bertiga, -ya kala itu aku datang bertiga dengan Riyad dan teman Riyad, Melati -yang kala itu sangat tergila-gila dengan Jepang dan bahkan dia sempat menikah dengan orang Jepang- bersenang-senang, bahkan kami sempat berkenalan dengan satu wanita yang usianya sebenarnya lebih tua dari kami, namun ia kala itu begitu manis. kami sempat tukar-tukaran akun Facebook. Sayang ia sudah punya pacar dan sekarang sudah menikah dengan pacarnya, serta tinggal di Belgia dan hidup bahagia dengan anak-anaknya. Walau demikian, aku merasa senang akhirnya bisa kembali ke tempat ini. Salah satu tempat yang bisa menghiburku di kala penat dan sedih. Biasanya selain memutar musik, tempat ini juga menggelar pemutaran film, pameran kebudayaan, tarian hingga pertunjukan lainnya. Minimal kalo musik atau filmnya tidak bisa kunikmati di tempat ini, aku bisa cuci mata melihat wanita-wanita disini.
“Sori Jup, nunggu lama.” suara seorang pria berkacamata tiba-tiba menyadarkanku dari lamunan. Pria itu ternyata memang Riyad. Dia memakai kaos hitam bergambar poster film Perancis “L'Auberge Espagnole” yang merupakan film favoritnya dan sudah ditonton hingga lima kali.
“Selow, gue juga baru 10 menit disini.” ujarku.
Riyad lalu bercerita bahwa dia habis dari rumah, karena ia baru tiba dari Bandung siang ini. ia sendiri ke Bandung bukan untuk jalan-jalan, melainkan ada perjalanan dinas dari kantor. Ia sengaja datang kesini malam ini, selain untuk menikmati musik Latin dari Maike Huntelaar y La Familia, juga untuk perpisahan salah satu teman komunitasnya yang akan pergi kuliah ke Amerika Serikat besok. Teman komunitasnya ini baru lulus SMA dan oleh teman-temannya, sudah dianggap seperti adik sendiri, karena itu semuanya hari ini berdatangan untuk melepas kepergiannya.
“Keren juga ya itu temen lo!!!” Pujiku kepada orang yang belum pernah kulihat, namun sudah cukup kukagumi. Lulus SMA pergi kuliah ke Luar Negeri dengan beasiswa adalah suatu hal yang luar biasa. Sesuatu yang bahkan tidak pernah bisa kubayangkan, karena bermimpi untuk seperti itu pun tidak.
“Ya nggak heran sih. Bahasa Inggris dia bagus terus SMA dia juga SMA negeri unggulan.” ucap Riyad yang kemudian mengalihkan pembicaraan. “Tadi lo ke nikahan Himsar ya?”
“Ya, lo kenapa nggak dateng?”
“Yah gue kaga diundang Jup. Lagian misal diundang pun, gue juga baru sampe Jakarta siang tadi.” ucap Riyad, yang mana bisa jadi Himsar lupa, karena memang mereka tidak begitu dekat, dan hanya bertemu beberapa kali. “Tapi tadi gue liat story WhatsApp Musa, terus ada lo sama Joko disitu.”
Aku lalu menjelaskan kalau Joko ada disana karena Istri Himsar pernah sekantor dengannya dan cukup dekat, karena pernah satu tim, sehingga ia memilih datang tadi. Aku lalu menjelaskan juga kalau Joko masih tidak berubah layaknya dulu. Ia masih terobsesi dengan UFO dan konspirasi disitu. Riyad sendiri kenal Joko karena dia juga bagian dari orang yang dulu hobi Nobar dengan kami. Ketika nobar, bersama Yohan dan satu teman kami, Toni, biasanya ketiganya akan berubah jadi komentator sepakbola layaknya di TV. Aku masih ingat kala Nobar Final Piala Eropa 2012, setiap kali Andrea Pirlo menggiring bola, ketiganya langsung membahas perjalanan karier sang maestro, mulai dari masa-masanya sebagai pemain Inter Milan hingga menjelma menjadi jenderal lapangan tengah Italia. Di tengah obrolan itu, Riyad bahkan menyalahkan Marco Tardelli karena dianggap sebagai biang keladi hengkangnya Pirlo dari Inter, padahal Pirlo dan Tardelli pernah bahu membahu di Timnas Olimpiade Italia di tahun 2000. Yang mana itu dibantah Toni dengan mengatakan bahwa Tardelli hanyalah pelatih Pirlo di Timnas Olimpiade Italia dan bukan berarti permainannya di Inter akan sesuai dengan kebutuhan taktiknya layaknya di Olimpiade Sydney tahun 2000. Aku sendiri tidak paham soal itu semua, tapi aku hanya menyangkan ketiganya tidak pernah mencoba memulai karier sebagai komentator Sepakbola.
“Lo udah pesan?” Pertanyaan Riyad mengembalikan diriku kepada kenyataan, dan hanya kujawab dengan kata tidak, dan ia lalu asyik mengecek ponselnya.
“By the way, coba tebak gue ketemu siapa tadi disana?” tanyaku yang mencoba membuat Riyad penasaran, tapi kelihatannya dia lebih sibuk membalas pesan di ponselnya, dibanding mendengarkan ucapanku. Karena itu aku pun langsung melanjutkan ucapanku sebelum dia menjawab. “Hartini.”
Riyad langsung terkejut begitu aku cerita soal Hartini. Ia sebenarnya penasaran mengenai bagaimana Hartini datang ke pernikahan mantannya, namun karena perutnya lapar ia memintaku untuk menyimpan sebentar ceritanya lalu memesan kentang goreng dan segelas kopi ke kantin. Usai membayar ia lalu kembali duduk sambil memintaku kembali bercerita. Aku pun menceritakan semua yang terjadi tadi dan ia kelihatan terkejut ketika mendengar soal ucapan Hartini kepadaku. Ia tidak menyangka Hartini bisa berkata hal yang begitu menyakitkan setelah selama ini diriku membantunya. Aku sendiri walaupun marah namun bukan berarti langsung bisa melupakannya. perasaanku kepada Hartini begitu dalam sampai sebagaimanapun dia menyakiti diriku, aku akan tetap berusaha menaklukkan hatinya.