“Selamat malam Jakarta.” Maike Huntelaar, wanita kulit putih asal Belanda berambut pirang pendek yang malam ini memakai jas putih dan celana latex hijau, menyapa para penonton yang memenuhi halaman Pusat Kebudayaan Belanda, yang menandakan acara sudah dimulai.
Maike lalu memainkan terompetnya, sementara si vokalis yang kelihatannya berasal dari negara Amerika Latin mulai berdendang dalam bahasa Spanyol. Aku sendiri tidak begitu terlalu berminat untuk melangkah ke depan panggung, dan lebih memilih duduk di meja depan kafe sambil berniat menghabiskan rokok kretekku. Namun, kelihatannya rokokku sudah dibersihkan oleh pelayan Kafe, sehingga aku harus mengeluarkan lagi rokokku dan juga korek gas-ku. Sayangnya Korekku tidak berfungsi. Aku lalu melihat sekitar untuk mencari orang yang sedang merokok, untuk kupinjam koreknya atau minta api dari rokoknya, namun tiba-tiba ponselku berdering.
Aku melihat nama orang yang menghubungiku dan ternyata dia lagi, si Manusia Sampah. Aku sebenarnya enggan untuk mengangkatnya, karena setiap kali dia menelpon, pasti urusannya soal uang, karena itu aku memutuskan untuk menolak panggilannya. Sayangnya ia kembali menelponku dan karena aku tidak senang dengan kebisingan, aku langsung segera mengangkatnya dengan nada kesal.
“Mau ngapain lagi sih? Belum ada sebulan dari terakhir gue transfer duit ke lo. Masa uda minta lagi?” ucapku dengan nada kesal dan tanpa mengucapkan Halo atau Assalamualaikum.
“Jup, Babe minta transfer tiga juta. anggep aja itu biaya ganti rugi lo selama tiga bulan ke depan lo bayar sekarang malam ini. Babe lagi butuh duit. penting!!!” ucap Bapakku dengan santainya, layaknya aku orang yang punya banyak uang.
“Gue nggak ada duit. Tunggu gue gajian. Lagian maruk amet sih lo langsung minta tiga juta. Lo pikir gue anak yang punya Djarum apa?” ucapku dengan nada kesal.
“Jup, lo ini lupa ye, dulu lo Babe yang nyuapin, gedein lo, nyekolahin lo sampe lo pinter ngejawab omongan Babe nih, Sekarang giliran Babe butuh, yang mana itu hak Babe, lo malah ngomong nyolot kaya gitu!!!”
“Udahlah Zaenal Abidin. lo itu tau nggak kalo duit gue abis gara-gara renovasi kelas PAUD yang sekarang jadi ruang tidur gue sama Nyak gue, dan lo tau nggak kenapa gue sama Nyak sekarang harus tinggal di bekas PAUD? ya gara-gara itu rumah kita, lo gadein buat renovasi rumah itu Jablay!!!” ucapku dengan kesal, hingga memanggil Bapakku dengan namanya dan memaki Istri barunya dengan panggilan kasar. Namun itu ternyata belum cukup, hingga aku kembali bicara di ponsel. “Kenapa lo nggak mati aja sih anjing?”
“Eh Jupri, setan lo ya!!! Berani-berani ngomong kasar sama Babe terus ngatain Nyak sambung lo pake kata Jablay. Capek-capek Babe nyekolahin lo, ternyata omongan lo kaya orang nggak berpendidikan.”
“Ngapain gue ngomong alus sama orang yang udah bikin keluarga gue menderita?” aku sudah benar-benar kesal dengan bapakku yang menurutku sudah semakin tidak tahu diri.
“Udah deh, Babe ogah debat sama lo. Pokoknya kalo lo nggak transfer 3 Juta malam ini. Babe bakal nelpon Nyak lo dan minta sama dia!!!” Ucapan Bapakku ini membuatku semakin murka, hingga membuatku ingin membanting ponselku, namun aku ingat keuanganku sedang boncos, sehingga akan sangat sulit bagiku untuk menggantinya dengan ponsel baru, sehingga aku hanya melampiaskan kemarahanku dengan memukul dinding, yang sebenarnya membuat tanganku kesakitan, namun aku tidak peduli, karena kalau sudah sampai membawa-bawa Ibuku, maka itu jelas sudah kelewatan. Aku tidak akan membiarkan Ibuku yang sudah damai hidup tanpa Bapakku, diganggu lagi oleh dirinya untuk urusan uang.
“Ya udah abis ini gue transfer. Tapi tiga bulan kedepan, jangan berani-beraninya lo telepon gue nagih itu biaya ganti rugi pendidikan yang udah gue bayar tiga bulan.” ucapku dengan nada kesal dan mematikan panggilan Bapakku.
Aku lalu masuk ke menu M-Banking di ponselku dan mengecek saldoku. Saldoku hanya tinggal lima juta rupiah. Aku memang sudah membayar upah Kang Aprian dan temannya, namun jika ada yang harus mereka beli untuk proses reparasi, maka aku harus kembali mengeluarkan uang. Rasanya hari ini diriku benar-benar diuji oleh ucapan Hartini dan kelakuan Bapakku. Aku bingung apakah harus mentransfer tiga juta pada Bapakku atau tidak. Kalau aku mentransfer maka saldoku bisa minus kalau ternyata banyak yang harus diganti di atap ruang kelas. Aku akhirnya berkata bahwa uang akan kutransfer besok pagi sembari mengulur waktu. Gajian sendiri masih beberapa hari lagi.
Perasaanku benar-benar sedang kacau hingga Diriku merasa musik Latin yang dimainkan oleh grup ini tidak begitu bisa menghiburku dari kesuraman. Aku tidak mengerti kenapa ujian ini terus menerus datang disaat aku sedang berusaha mengumpulkan uanh untuk membelikan Ibuku rumah. Aku berpikir apa yang salah dengan diriku. Bahkan kalau bisa memutar roda waktu sekalipun, aku tidak tahu apakah nasibku akan membaik, karena aku sendiri tidak tahu apa yang harus diubah, apakah memang seharusnya aku tidak perlu dilahirkan saja dari muka bumi, karena sumber masalahnya adalah Bapakku, yang mana tanpa dia, aku tak mungkin bisa berada di dunia ini. Aku lalu melihat Jihan yang sedang asyik menari dengan teman-teman wanita seusianya. Rasanya bohong jika aku tidak bilang aku iri ingin menjadi seperti dia. Memiliki banyak teman yang menyayangi, sekolah di SMA favorit dan punya masa depan cerah karena akan kuliah di kampus Ivy League. Aku lalu berandai-andai jikalau aku dulu rajin belajar Bahasa Inggris dan tiba-tiba mendapatkan kesempatan untuk belajar di Luar Negeri lewat jalur beasiswa, maka bisa jadi Hidupku akan jauh lebih baik saat ini, dan bisa jadi aku juga akan membawa Ibuku pindah kesana, agar Bapakku tidak bisa lagi mengganggunya.
Aku akhirnya memutuskan untuk membeli dua botol Bir dari kafe tersebut. Entah apa yang ada di pikiranku dengan membeli dua botol bir ini, selain karena itu haram dalam agamaku, juga tidak baik untuk kesehatanku, terutama dengan tensi darah tinggiku yang terus naik akhir-akhir ini, dan sudah beberapa kali aku mencoba minum bir di pos keamanan sebelum ini, tapi aku malah pusing padahal hanya minum dua gelas. Tapi mungkin karena aku sudah bingung harus apa, aku akhirnya memutuskan untuk minum hari ini.
Lagipula minum Bir di tempat ini bukanlah sesuatu yang aneh, karena di tempat inilah aku pertama kali minum Bir ketika nonton konser band Di-Rect dulu. Kala itu, pihak penyelenggara membagikan Bir Gratis dengan merk dari Belanda kepada para peserta. Disitulah aku penasaran mencoba bir untuk pertama kalinya karena setidaknya aku tak perlu mengeluarkan uang satu sen pun untuk membayar. Kala itu aku memang tidak mabuk, tapi kepalaku hanya sedikit pusing saja, yang mana hal itu juga membuatku menulis status di Facebook, dengan bunyi “Minum Bir enak juga ya….minum sampe pala gue keliyengan xixixi.”. Gara-gara status itu, kolom komentarku jadi ramai.
Astaghfirullah akh….Insyaf akh!!! Inget mabuk-mabukan itu selain haram, juga nggak bisa nyelesaiin masalah di dunia ini!!!
Baru minum Bir gitu aja bangga lo Jup. Kalo udah minum Chivas Regal sama Wine, baru deh lo bangga!!!