Definisi Bahagia Menurut Jufri

Kharizma ahmada
Chapter #14

Maafin Jufri, Nyak!!!

Aku terbangun dengan kaget dan tiba-tiba aku sudah tidak berada di Pusat Kebudayaan Belanda lagi, tapi sudah berada di sofa panjang ruang guru dan staf PAUD tempatku tinggal. Aku kaget dan penasaran dengan apa yang terjadi pada diriku semalaman. Tidak ada yang kuingat setelah aku minum Bir dan tiba-tiba kembali ke masa lalu, selain orang-orang mencoba membangunkan diriku, namun aku tidak bangun.

“Udah sadar mas?” suara seorang pria dewasa tiba-tiba mengagetkanku dan membuatku menatap sumber suara itu, dan ternyata seorang pria paruh baya dengan kemeja putih dan celana jeans.

“Bapak siapa? kok bisa ada disini?” tanyaku penasaran karena ada orang asing disini.

Orang itu lalu berkata bahwa namanya adalah Harmoko, biasa dipanggil Moko. Dia adalah supir taksi aplikasi. Dia adalah orang yang membawa Jufri dari Pusat Kebudayaan Belanda ke rumah. Dia lalu menjelaskan bahwa semalam dia ditelpon oleh Riyad untuk membawaku pulang, karena tidak ada taksi tradisional atau aplikasi yang mau mengangkutku dalam kondisi mabuk. Hingga akhirnya Riyad inisiatif menghubungi dirinya dan memberikan uang Rp. 300.000 kepada Harmoko, yang kebetulan sedang di daerah dekat Kuningan, sehingga ia langsung setuju untuk mengangkut diriku hingga Bogor. Pak Moko tau alamat rumah ini usai bertanya kepada warga lokasi PAUD Bintang Sejahtera, yang juga tempat diriku tinggal sementara. Semalam sebenarnya ia ingin langsung kembali ke kosannya di daerah Ciracas, tetapi oleh Ibuku, ia disuruh bermalam, karena sudah pukul 12 malam. Khawatir dengan keamanan. Ia akhirnya tidur di kasur lipat di ruangan ini semalam sekaligus menjaga diriku.   Dia juga tidak lupa bercerita kalau dia kenal Riyad karena sebelumnya ia bekerja di Kementerian tempat Riyad bekerja.

“Ya elah si Riyad pake ngerepotin orang. Jadi ngutang gue sama dia.” keluhku.

“Ya abis gimana mas. semalam orang-orang disana pada bingung liat mas Jupri mabuk terus ambruk.” ucap Pak Moko dengan santai, namun membuatku kaget.

“Tapi saya ngerusuh nggak pak semalam?” tanyaku dengan nada keheranan.

“Kayanya sih nggak. Info yang saya dapet dari mas Riyad, sampeyan cuman sempet ngomong nggak jelas terus roboh dari kursi dan nggak sadar.” ucap Pak Moko, yang akhirnya membuatku lega karena aku tidak merusuh, walau tentu saja aku akan sangat malu karena diriku menjadi pusat perhatian semalam.

Jujur saja, semalam rasanya aku hanya minum sejenak lalu tertidur. Harusnya memang aku tidak minum minuman keras semalam, apalagi itu juga tidak baik untuk kesehatan diriku. Ditambah lagi dengan kondisi semalam Akan ada satu orang yang akan sangat marah kepadaku karena sudah mabuk-mabukan. Salah satu alasan yang membuat Bapakku berubah adalah sejak ia bergaul dengan orang komplek dan hobi mabuk-mabukan, yang kemudian mulai membuatnya ringan tangan dan gampang menyakiti hati Ibuku. karena itu,  aku tahu ia tidak akan senang melihat diriku semalam dan karena itulah aku harus segera meminta maaf kepadanya. Hal itu juga menjelaskan kenapa diriku saat ini tertidur di sofa ruang staf bersama Pak Moko, alih-alih bersama dirinya.

“Pak Moko, semalam ibu saya marah nggak pas ngeliat saya kaya gini?” tanyaku tiba-tiba.

“Yang pasti sih dia kaget. Kalau soal marah sih nggak tahu, tapi semalam baik kok sama saya. Ini saya disuruh nginep sama dibeliin sarapan sama dibikinin kopi tadi pagi.” jawab pak Moko sambil menaruh rokoknya di asbak dan menyeruput kopinya yang belum habis.

Kalau soal perlakuan ke orang lain, aku tidak pernah ragu kalau ibuku jelas sangat baik dalam melayani orang. Apalagi semalam Pak Moko sudah membawaku pulang dari Kuningan ke Cibinong. Hanya saja, Ibuku belum pernah melihatku mabuk dan aku yakin semalam pasti ia akan sangat kecewa melihat diriku pulang dalam keadaan mabuk. Tanpa buang waktu panjang aku segera bangun dari kursiku untuk mencari Ibuku. Aku mencari ibuku ke ruang kelas, yang entah kenapa terdengar berisik dengan orang beraktifitas di dalam. Ternyata aku baru ingat kalau sejak kemarin, Kang Aprian dan temannya sedang melakukan perbaikan atap kelas PAUD ini agar tidak bocor dan bisa dijadikan ruang istirahat sampai kami mendapatkan rumah baru. 

Lihat selengkapnya