Pucuk dicinta ulam tiba. Begitulah kata pepatah. Entah mengapa disaat aku merasa butuh sesuatu untuk membuat Ibuku memaafkanku dan juga melupakan Hartini di saat yang sama, Pak Moko langsung datang bagai juru selamat, walau mungkin itu sedikit berlebihan. Namun tanpa pikir panjang, aku langsung bilang kepada Pak Moko bahwa ada orang yang bisa membeli tanah tersebut di Babelan, karena kebetulan ada perusahaan Taksi asal Laos yang sedang ekspansi ke Indonesia dan butuh lahan untuk pangkalan armadanya di Bekasi. Wajah Pak Moko terlihat seperti orang yang baru menang Kuis ketika aku bicara demikian. Aku pun langsung minta Pak Moko menghubungi kembali temannya dan bertanya apakah ia bisa ditemui sore ini. Usai dihubungi dan kebetulan ia bisa ditemui, Aku pun segera meminta Pak Moko untuk menemuinya hari ini, yang mana ajakan itu langsung diiyakan olehnya. Sebelum berangkat, diriku sempat menghampiri Ibuku terlebih dahulu untuk pamit. Tapi kelihatannya ia masih tidak ingin berbicara kepadaku, sehingga ia hanya pura-pura tidak mendengarku. Aku sendiri mencoba untuk menghibur diriku bahwa memang ada baiknya untuk tidak memberinya harapan kosong, dan kalaupun tanah yang ditawarkan teman Pak Moko ini sesuai dengan kebutuhan perusahaan taksi dari Laos tersebut, maka aku ingin ini menjadi kejutan saja untuknya. Begitupun juga kalau ternyata tidak sesuai, maka setidaknya aku tidak perlu merasa malu dengan kegagalanku yang rasanya sudah terlalu sering.
Aku kemudian tidak lupa juga menelpon Ferdi sebelum berangkat, yang ternyata sedang berjaga di toko-nya. Aku pun langsung mengajak Pak Moko menjemput Ferdi, yang ketika kami datangi di lokasi tokonya, yang tidak jauh dari PAUD, sedang asyik menonton video di Tiktok karena tokonya sedang sepi, yang mana hanya ada dirinya dengan Nadif, yang juga asyik dengan ponselnya.
“Da apaan nih?” Ferdi kaget ketika aku dan Pak Moko mendatanginya layaknya ia berada dalam adegan film G30S, ketika aku tiba di tokonya, apalagi ketika ia melihat aku turun dari mobil Pak Moko.
“Itu perusahaan taksi Laos udah nemu lokasinya belum?” tanyaku ke Ferdi, yang dijawab dengan gelengan oleh Ferdi.
Aku langsung mengajak Ferdi, yang hanya pakai kaus kutang untuk segera masuk ke mobil dan memintanya menyuruh Nadif untuk menjaga toko. Ia terlihat bingung, namun akhirnya meminta diriku untuk ganti baju sebentar. Ia lalu memakai baju Koko putihnya dan celana jeans biru yang tergantung di tokonya, sebelum kemudian masuk ke dalam mobil pak Moko. Di dalam mobil, aku langsung mengenalkan Ferdi dengan Pak Moko, dan kemudian menjelaskan bahwa kita akan pergi ke Babelan untuk mendatangi lahan seluas lima hektar yang sedang dijual disana. Mendengar itu, Ferdi terlihat sumringah dan langsung meminta Pak Moko untuk menambah kecepatan, karena bisa jadi ini akan jadi jalan untuk merubah nasib kami bertiga.
Perjalanan dari Cibinong ke Babelan dengan mobil Avanza Pak Moko, yang masih baru dibeli setahun yang lalu dengan kredit untuk kebutuhan taksi aplikasi-nya, terasa begitu cepat karena Pak Moko juga tidak kalah bersemangat ketika Ferdi bercerita soal jumlah uang yang bersedia dikeluarkan oleh perusahaan asal Laos tersebut. Ia lalu bercerita kalau tanah itu terbeli, maka ia setidaknya tidak perlu pusing dengan cicilan mobilnya serta bisa membayar uang kuliah anaknya di salah satu kampus swasta di Jakarta. Ferdi juga tidak kalah senang, karena rencananya untuk memperluas usahanya dengan membuka kafe vape di sebelah toko komputernya, akan semakin dekat untuk terwujud kalau kesepakatan antara pemilik lahan dengan perusahaan taksi asal Laos tersebut bisa diwujudkan.
Diiringi lagu-lagu Yeni Inka yang kembali disetel Pak Moko sepanjang jalan, kami bertiga sama-sama berharap perjalanan ini menjadi titik awal terwujudnya keinginan dan impian kami tersebut. Kami akhirnya tiba di Babelan pada pukul empat sore dan langsung disambut seorang pria berkumis tebal dengan peci merah, yang ternyata teman SMA Pak Moko, yang bernama Pak Husein. Pak Moko lalu mengenalkan Pak Husein dengan diriku dan Ferdi. Pak Husein lalu bersama dengan dua pria yang juga rekannya, yang mana satu merupakan perwakilan dari pemilik tanah dan satu lagi perwakilan dari kecamatan, yang langsung sigap untuk datang di hari minggu begitu mendengar ada orang yang mau mensurvei lokasi tanah.
Awalnya kami dijamu di salah satu pos keamanan di kampung yang deket dengan lokasi. Aku lalu memperkenalkan diri bahwa diriku, Ferdi dan Pak Moko datang ke tempat tersebut untuk mengecek lokasi sekaligus memberikan gambaran lahan kepada perwakilan Perusahaan Taksi asal Laos yang sedang mencari lahan untuk diakuisisi. Aku sendiri tidak ingin membuang waktu terlalu lama, karena sudah sore hari.
Kami semua langsung menuju lokasi lahan tersebut. Lahan tersebut sudah cukup luas dan tanahnya cukup keras, sehingga cukup kuat untuk ditambah bangunan permanen. Apalagi menurut Pak Husein, belum lama ini, lahan tersebut sempat disewa salah satu Perusahaan BUMN daerah operasional Bekasi untuk operasional sementara, karena kebetulan tidak jauh dari lokasi ada ladang gas yang sedang dieskplorasi salah satu BUMN bidang Migas. Sehingga jika ingin dibangun pool taksi sudah sangat layak. Secara sertifikat juga sudah jelas, sehingga potensi konflik atau dualisme kepemilikan lahan di masa depan tidak akan terjadi. Ia juga mempersilahkan kami mengecek di aplikasi dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) terkait keaslian sertifikat tanah tersebut.