Aku sedang bersantai di kantor karena jam pulang kerja tinggal beberapa saat lagi dan sudah tidak ada pekerjaan yang bisa kukerjakan. Aku akhirnya menghabiskan waktu menonton Live Instagram Fariba, yang mana kali ini ia memamerkan hadiah Action Figure Mikasa Ackerman dari salah satu penggemarnya, yang ternyata Mikasa adalah karakter favorit Fariba. Hal itulah yang kemudian membuatnya bersedia hadir dalam Ngaji Anime edisi Attack on Titan. Akan tetapi, di tengah keasyikan diriku menonton siaran langsung Fariba, tiba-tiba Ferdi menelponku. Tanpa basa-basi, ia langsung memintaku untuk bersiap melakukan panggilan video dengan kliennya sekitar setengah jam lagi. Ia juga memintaku menghubungi Pak Moko untuk bersiap. Tanpa pikir panjang aku langsung menghubungi Pak Moko untuk bersiap juga. Pak Moko sendiri sedang mengantar penumpang, namun ia memastikan setengah jam lagi ia sudah siap.
Sambil menunggu, aku kembali menonton konten Fariba. Tidak lama kemudian Pak Sato lewat di depanku dan ia terlihat bingung ketika melihatku masih ada di ruangan, padahal sepuluh menit yang lalu sudah pamit untuk pulang tepat waktu hari ini. Aku sendiri hanya bilang ada urusan penting dan menunggu panggilan video yang tidak boleh dilewatkan. Awalnya ia penasaran karena mengira aku akan melakukan sesi wawancara dengan perusahaan lain, namun setelah memastikan bukan wawancara, ia langsung pergi. Aku sendiri memutuskan untuk kembali menonton siaran langsung Fariba, yang mana ternyata ada satu orang yang komentar kalau dia adalah orang yang menolak ending Attack on Titan dengan bersuara lantang sambil mendukung objektifikasi di acara Gondangdia. Dia terlihat ingin memancing keributan di kolom komentar dengan berkata Mikasa dan Eren harusnya berakhir bersama. Tiba-tiba si pria yang membawa pemikiran Simone de Beauvoir dalam kasus Mikasa dan Eren juga muncul, dan tidak terima dengan pendapat si pendukung objektifikasi. Fariba sendiri hanya meminta pengikutnya untuk tenang dan tidak memancing kericuhan di kolom komentar ketika melihat isi komentarnya berubah menjadi adu argumen ala selebtwit di Twitter era 2010-an. Aku sendiri sebenarnya tidak sabar menanti keributan di kolom komentar ini hingga tiba-tiba telponku bunyi dan yang menghubungiku adalah Ferdi. Pada akhirnya, mau tidak mau aku harus melewatkan perdebatan tersebut dan segera mengangkat telpon Ferdi. Dia ternyata sudah bersama dengan seorang pria yang rambutnya botak dan memakai kacamata, yang parasnya sedikit mengingatkanku dengan Justinus Lhaksana, salah satu komentator sepakbola. Ferdi lalu mengenalkan pria yang juga pelanggan setia jasa servis dan pengadaan toko Komputernya, yaitu Pak Frandi. Aku lalu juga mengenalkan diriku kepada Pak Frandi, Sambil berbasa-basi menunggu Pak Moko, yang baru bergabung lima menit kemudian. Begitu Pak Moko masuk, Kami langsung berbicara serius soal bisnis kami.
Ferdi lalu menjelaskan bahwa Pihak Taksi Laos tidak perlu mengeluarkan uang lebih dari 11 Miliar untuk lahan tersebut, karena dari pihak penjual sudah setuju untuk angka pembelian tersebut. dimana itu juga sudah termasuk dengan komisi kami berempat. Mendengar itu Pak Frandi terdengar lega, namun ia tetap ingin melihat langsung tanah tersebut serta melihat langsung keabsahan sertifikat serta hal-hal lain, walau Ferdi sudah mengiriminya video dan foto-foto yang dibutuhkan. Kami bertiga sendiri tidak mempermasalahkan hal itu.
Kami semua lalu mengatur waktu terkait ketersediaan waktu pak Frandi untuk melihat tanah. Beliau lalu meminta kami pergi kesana pada hari jumat besok. Tidak ada satupun dari kami bertiga yang berhalangan pada hari itu, karena aku sendiri juga sudah dapat jatah izin dari Pak Sato, jadi aku siap menemaninya kapanpun. Sehingga kami kemudian sepakat untuk bersama-sama melihat tanah pada hari Jumat siang ba’da Shalat Jumat.
Usai pertemuan itu, aku lalu pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku memberikan ibuku martabak manis yang kubeli di stasiun, namun ia hanya melihatnya saja dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia kemudian hanya bilang terima kasih sebelum pergi untuk menelpon salah satu temannya. Aku sendiri membiarkan martabak itu di meja, karena aku yakin Ibuku pasti akan memakannya. Aku juga tidak lupa menemui Kang Aprian yang masih mengerjakan perbaikan atap dan tidak lupa memberikan upah kepadanya, yang kubayar dengan skema harian. Ia juga memberi tahu kalau besok, proses pengerjaan sudah selesai, sehingga aku dan Ibuku sudah bisa kembali tidur di ruang kelas, walau kelihatannya aku masih tetap akan memilih tidur di ruang staf dan guru hingga aku merasa ia sudah tidak marah kepadaku.
Aku lalu iseng menghitung jumlah pengeluaranku untuk membayar kang Aprian, yang ternyata sudah habis Tujuh Juta Rupiah lebih untuk biaya perbaikan -baik itu untuk upah maupun peralatan yang harus dibeli- dan itu jelas menguras uang tabunganku. Itu terlihat dari bagaimana gajiku yang baru keluar beberapa hari yang lalu sudah berkurang drastis. Aku mengecek lagi saldo tabunganku dan kini hanya tinggal menyisakan Rp. 3.567.000, sedangkan gajian masih tiga minggu lagi. Kondisi ini benar-benar memaksaku berhemat selama sisa bulan ini. Aku lalu memutuskan untuk mandi dan berharap proyek ini bisa berjalan lancar, agar aku bukan hanya bisa membelikan ibuku rumah tapi juga mengganti biaya yang kukeluarkan untuk perbaikan PAUD yang mana biaya itu cukup tinggi untuk tempat yang hanya jadi persinggahan sementara.
***
Hari jumat pun tiba. Aku sudah menyampaikan izin kepada pak Sato hari ini. Ia sendiri terpaksa menyetujui izinku karena sudah berjanji. Namun demikian, ia memintaku untuk tetap masuk besok karena ada rapat terkait penganggaran perbaikan dan perawatan WC toilet kantor dengan Bagian Keuangan, yang mana aku diminta untuk mendampinginya. Aku sendiri mengiyakan itu, karena memang tidak ada alasan juga bagiku untuk membolos besok.
Aku dan Ferdi pergi menggunakan mobil Ferdi lalu janjian dengan Pak Moko dan Pak Frandi di lokasi. Kami tiba di lokasi pukul satu siang setelah sebelumnya shalat Jumat dulu di jalan. Kami tiba lebih dulu dan langsung disambut Pak Husein serta perwakilan dari pemilik yang kemarin. Kami langsung disuguhi teh manis dan pisang goreng oleh mereka di Pos Keamanan kemarin. Tidak lama kemudian Pak Moko juga tiba dengan mobilnya dan kemudian Pak Frandi juga akhirnya tiba bersama seorang pria asing, yang kelihatannya salah satu orang penting dari Perusahaan Taksi asal Laos tersebut. Pak Frandi lalu memperkenalkan pria tersebut sebagai Somphong Intavone, pria asal Laos yang juga direktur akuisisi dari perusahaan taksi asal Laos tersebut. Tanpa buang-buang waktu, kami langsung mengajak tur Pak Frandi dan Tuan Somphong melihat-lihat tanah yang potensial untuk mereka beli.