Definisi Bahagia Menurut Jufri

Kharizma ahmada
Chapter #17

Rumah Yang Tinggal Selangkah Lagi

Aku sedang duduk di meja kerjaku. Hari ini pekerjaan terasa jauh lebih lengang dibanding biasanya. Hampir semua tugas yang menjadi tanggung jawabku sudah kuselesaikan sejak pagi, Aku juga melihat Pak Sato sedang tidur sambil mendengkur di ruangannya. Karena tidak banyak yang bisa kukerjakan hari ini, aku langsung meraih ponsel yang tergeletak di samping keyboard. Jemariku secara refleks membuka Instagram. Seperti biasa, algoritma aplikasi itu seolah sudah hafal betul apa yang sering kutonton. Belum lama menggulir layar, muncul video terbaru dari Fariba.

Hari itu ia tampil dengan kostum Black Rock Shooter yang didominasi warna hitam, lengkap dengan riasan yang menyesuaikan karakter tersebut. Meski konsepnya terkesan garang, ekspresi Fariba justru tetap ceria. Ia beberapa kali tersenyum ke arah kamera, lalu dengan nada yang dibuat sedikit manja mengucapkan, "Kawaii~". Ia mengucapkan itu dengan natural dan nada bicara yang menggemaskan. Andai ia ada di depanku, mungkin aku sudah mencubit pipinya karena lucu. Ia juga kelihatannya sedang berusaha menghindari pembahasan soal Attack on Titan, karena itu setiap ada komentar terkait Anime tersebut, ia tidak akan membacakan.

Tiba-tiba saja terdengar bunyi notifikasi dari M-Banking di ponselku, yang menandakan ada transaksi disana. Tanpa buang waktu, aku segera membukanya dan benar saja, kulihat ada  uang sebesar Rp. 100.000.000 yang masuk ke rekeningku, seperti yang sudah dijanjikan. Awalnya aku memastikan apakah ini benar atau tidak. Namun melihat orang yang mengirim adalah Frandi, maka sekarang aku percaya kalau ini benar. Aku merasa senang dan bersyukur, bahkan Rendi yang ada disebelahku sampai keheranan, namun tentu saja soal ini tidak akan kuceritakan pada teman kantorku, karena mereka pasti nanti akan minta traktir, sedangkan kebutuhanku juga banyak. Aku kemudian menghabiskan waktu menonton siaran langsung Fariba sampai selesai dan kemudian menonton Film Warkop klasik di situs streaming hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan tanpa pikir panjang, aku langsung pulang. 

Sesampainya di Stasiun Bogor, aku langsung merapat ke Tukang Martabak sebentar untuk membelikan Martabak Telur kesukaan Ibuku. Berharap ibuku bisa merasakan kesenangan yang kurasakan. Sebelum sampai rumah, aku juga mampir ke toko Ferdi juga, dan aku bisa melihat wajah bahagia Ferdi, yang juga sudah mendapatkan uang komisinya. Kami sama-sama saling ledek. aku meledeknya karena ia akan segera membuka kafe di sebelah tokonya, sementara aku akan bisa membeli rumah untuk ibuku.

Aku lalu pulang ke PAUD sambil menghampiri ibuku yang sedang menyetrika baju. Aku lalu berkata padanya bahwa aku membeli Martabak telur kesukaannya di dekat Stasiun Bogor. Ibuku terlihat senang dan tersenyum padaku. Aku senang kelihatannya kemarahannya kepadaku sudah mulai hilang. sebenarnya beberapa hari yang lalu juga ia sudah mau bicara padaku untuk menyuruhku makan malam, walau masih terlihat kekecewaan di wajahnya. Namun setidaknya ia sudah mulai bersedia untuk berkomunikasi denganku dan aku juga sudah membuktikan diriku bisa berubah.

Lihat selengkapnya