Definisi Bahagia Menurut Jufri

Kharizma ahmada
Chapter #18

Telpon dari Jambi

Tidak terasa hari minggu sudah tiba. Aku hari ini bangun sedikit siang, karena janji yang kubuat dengan Rama akan berlangsung pada sore hari. Tubuhku masih terasa berat, namun aku memutuskan untuk bangun, karena rencananya hari ini aku ingin membeli Cilok di Pasar Kaget dekat komplek perumahan ini. Tiba-tiba tendengar suara ibuku sedang berbicara, dan kelihatannya ia berbicara melalui telpon, karena tidak ada lawan bicara yang merespon ucapannya. Aku lalu cuci muka dan duduk di kursi ruang staf PAUD yang kebetulan di meja itu ada bakwan goreng yang dibuat ibuku pagi tadi. Aku langsung mengambil dan memakannya. 

Usai ibuku menelpon, aku melihat wajahnya sedang tidak cerah. Aku merasa telpon barusan memberikan kabar yang tidak baik sehingga membuat Ibuku terlihat sedang murung. Namun demikian, ia lalu mencoba tersenyum sembari berbicara kepadaku. Entah kenapa rasanya perasaanku jadi tidak enak. Semoga saja ini tidak harus mengorbankan rencanaku untuk membeli rumah baru.

“Jup, tadi Paman Faisal telpon dari Jambi.” ucap Ibuku, yang mana nama orang itu adalah nama pamanku yang juga sepupu dari Ayahku yang lahir dan besar di Jambi. “Katanya Babe lo masuk rumah sakit tadi pagi.”

Sejujurnya mendengar berita ini, aku tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia. Kalau orang normal mendengar Ayahnya masuk rumah sakit pasti akan merasa sedih, terkejut dan bahkan beberapa mungkin akan menjerit histeris. Namun bagiku, rasanya seperti biasa saja. Tidak merasakan sedih sedikitpun namun juga tidak ingin berteriak gembira. Bagi beberapa orang, aku mungkin seperti anak durhaka, tapi bagi orang yang sudah sering dikecewakan oleh Bapakku sendiri, ini sudah lebih baik ketimbang merayakan ini layaknya tim sepakbola favoritku baru saja menjadi juara Liga Champion.

“Ya udah, biarin aja, kan ada bini barunya dia tuh. Ngapain kita pusing mikirin dia Nyak. Dia aja dulu waktu ninggalin kita, ga pernah mikirin kita. Malah bikin susah pakai gadaiin rumah.” ucapku yang tidak ingin peduli.

“Jup, mau gimanapun dia itu kan Babe lo.” Ibuku masih mencoba menunjukkan sisi kemanusiaannya dengan bersikap bahwa semua yang kami alami selama ini tidak pernah terjadi. 

Lihat selengkapnya