Sesampainya di pos keamanan, aku langsung memesan kopi hitam sekaligus meminta korek di warung Kang Sayuti untuk menyalakan rokokku. Di saat pikiranku sedang tidak menentu seperti ini, hanya rokok dan kopi hitam yang bisa membantuku menenangkan diri. Sebenarnya apa yang terjadi pada keluargaku saat ini bukannya tidak pernah dialami oleh orang lain. Ada teman kantorku yang juga nasibnya tidak jauh beda, dimana Bapaknya menikah lagi setelah Ibunya meninggal dan kemudian usai menikah, anak-anaknya diusir dari rumahnya. Ia dan dua saudara lainnya sampai harus sewa kos-kosan untuk hidup dan dengan harga rumah selangit, tidak sanggup untuk membeli rumah baru. Ironisnya ketika bapaknya mulai sakit dan tidak berpenghasilan lagi, ia ditinggalkan begitu saja di depan kos-kosan, sementara rumah lama mereka sudah tidak bisa ditempati karena nama pemiliknya sudah diganti dengan nama si istri baru. Terdengar menjengkelkan, karena ketika Bapaknya berjaya dan memiliki banyak uang, semua dinikmati istri baru, namun setelah sakit-sakitan dan tidak produktif, dikembalikan ke anak-anaknya. Aku hanya heran kenapa bisa ada manusia-manusia menjijikan seperti itu. Seperti halnya yang sekarang sedang kualami. Parahnya sekarang, ia bukan hanya meminta diurus kembali, tapi juga meninggalkan hutang, yang mana uangnya sendiri mungkin tidak pernah dinikmati Bapakku.
Sembari mengeluarkan asap rokok dari mulutku. Aku mencoba mengingat kenangan-kenangan diriku dengan Bapakku selama ini. Seperti yang selama ini kuceritakan, bahwa Bapakku memang tidak pernah meninggalkan kesan bahagia sejak diriku berusia 10 tahun. Beberapa kali aku harus merasakan bogem atau sabetan gespernya ketika ia pulang dengan kondisi mabuk dan berniat merusuh di dalam rumah. Aku juga ingat ketika aku tidak naik kelas, ia juga berteriak di depan mukaku bahwa aku adalah aib keluarga dan seharusnya aku tidak perlu dilahirkan, sembari mencekik leherku, layaknya Homer Simpson mencekik Bart, hanya saja ketika itu kualami, rasanya jauh dari lucu. Hal yang membuatku sampai ingin lompat dari jembatan. Ia bahkan tidak pernah membelaku ketika keluarga besarnya mempermalukan diriku ketika kumpul-kumpul keluarga di hari Idul Fitri. AKu masih ingat ketika orang yang tadi menelpon ibuku adalah orang yang sama ketika ia ia mempermalukanku kala aku tidak naik kelas. Ia bilang aku pemalas, manja dan tidak berguna lalu dibandingkan dengan anaknya, Azam, yang di matanya lebih pintar dan berguna. Semuanya menertawakanku dan meledekku layaknya aku orang bodoh karena tidak naik kelas, bahkan nenek buyutku. Waktu itu rasanya, sangat menyakitkan, namun yang lebih menyakitkan, tentu saja melihat Bapakku hanya diam saja, seakan membenarkan ucapan Paman Faisal. Tidak lama kemudian aku langsung pergi ke kamar mandi dan di dalam, sebenarnya aku sangat ingin menangis. Hanya saja, aku ingat kalau anak lelaki sepertiku tidak boleh menangis atau akau akan semakin diinjak. Pada akhirnya, sejak hari itu, aku bersumpah ketika dewasa tidak akan mau lagi ikut menginjakkan kaki di rumah Nenek Buyutku di Jambi. Hal yang membuatku sedikit puas saat ini adalah ketika Azam, saudara dua pupuku itu sekarang hanya menjadi pengangguran usai dipecat perusahaan asuransi tempat ia bekerja dua tahun yang lalu dan ia sempat memohon untuk pinjam uang padaku beberapa bulan yang lalu. Rasanya ingin menghubungi Paman Faisal kala itu melihat anak yang ia banggakan memohon untuk pinjam uang padaku, untuk kebutuhan keluarganya. Padahal orang itu dulu adalah orang yang selalu memandang rendah diriku, apalagi setelah ia diterima kuliah di Universitas Sriwijaya, sementara diriku hanya kuliah di Universitas Swasta biasa. Namun tentu saja roda berputar, dan kala itu sebenarnya aku ingin meludah di depan mukanya, namun tentu saja aku bukan orang yang jahat. AKu akhirnya meminjamkannya uang Rp. 2.000.000 yang sampai hari ini masih belum dibayar, dan entah kapan ia akan membayar, karena ia sama sekali tidak pernah berkabar setelah kupinjamkan uang. Karena itu, rasanya cukup mengesalkan kalau sekarang aku harus mengeluarkan uang Rp. 80 Juta dan mengubur mimpiku untuk membeli rumah, yang mana itu adalah kebutuhan utama diriku dan Ibuku saat ini.
Rasanaya betul-betul kesal membayangkan hal tersebut. Aku lalu akhirnya mencoba menenangkan diriku dengan menarik nafas sejenak dan kemudian menyeruput kopi hitamku. Tiba-tiba aku melihat seorang bapak-bapak berjanggut berjalan memegangi sepeda yang sedang dinaiki oleh anak lelakinya yang masih berusia sekitar lima tahunan. Bapak-bapak itu terlihat sabar meladeni putranya yang kelihatannya cukup kesulitan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ia lalu melepas sebentar sepedanya dan meminta putrnya mengayuh sepeda tersebut. Si anak kecil tersebut lalu mengayuh sepedanya dan akhirnya ia berhasil. Sayangnya itu tidak bertahan lama, tidak sampai satu menit kemudian, si anak tersebut kembali terjatuh dan si Bapak-bapak itu kembali menolongnya.
“Uza nggak bisa nyetir sepeda Bah.” si anak itu terlihat mau menyerah, namun si Bapak langsung menasihatinya.
“Khuzayr, kamu nggak boleh nyerah. Dulu Abah juga waktu belajar naik sepeda, butuh waktu berbulan-bulan buat bisa lancar. Sekarang kita coba lagi ya!!!” Si Bapak kemudian meminta anaknya bangkit dan mencoba mengayuh kembali sepedanya.
Sebenarnya itu hanyalah kejadian biasa di hari Minggu. Namun entah kenapa itu membuat memoriku kembali ke masa lalu, tepatnya ketika diriku belajar naik sepeda roda dua kala usiaku lima tahun bersama Bapakku. AKu ingat kala itu Bapakku baru saja membelikan diriku sepeda Polygon terbaru, yang mana sepeda itu beberapa hari yang lalu baru kulihat di Iklan dan sekarang aku sudah memilikinya. Ayahku kala itu mengajariku naik sepeda dengan sabar, bahkan ketika aku tidak pernah bisa berdiri seimbang dengan sepedaku. Momen yang paling berkesan bagiku adalah ketika diriku jatuh dari sepeda dan menangis karena kesakitan. Kakiku terluka waktu itu, dan ia langsung menggendongku di pundaknya, sementara sepedaku ia bawa dengan tangannya.
“Nggak usah nangis Jup. Jatuh itu biasa. Besok kita latihan lagi ya.” ucapnya kepadaku kala itu.
Sesampainya di rumah Ibuku panik karena kakiku luka, namun Bapakku hanya berkata bahwa anak-anak jatuh saat belajar sepeda adalah hal biasa. dua minggu kemudian, ia langsung membelikan aku SEGA Saturn sebagai kompensasi karena sudah mau tetap belajar naik sepeda hingga bisa. Selama dua minggu itu juga, Bapakku terus membimbingku dan meminta diriku tidak menyerah. Karena kalau tidak bisa naik sepeda, maka aku juga akan kesulitan naik motor. Padahal penting bagi laki-laki seperti diriku untuk mengendarai sepeda motor.
Rasanya memang menyebalkan ketika aku harus melihat adegan tadi. Karena gara-gara adegan tadi, memoriku jadi kembali ke masa-masa dimana diriku pernah merasakan bahagia bersama Bapakku. Apakah ini adalah sesuatu yang memang sudah direncanakan oleh Tuhan dengan memperlihatkanku adegan tersebut di kala aku sedang tidak mau membantu Bapakku. Entahlah, aku juga tidak tahu, tapi yang pasti, hal itu jadi membuatku berpikir dan merasa heran, kenapa sosok Bapak hebat seperti dirinya harus berubah ketika ia memutuskan pindah ke komplek perumahan baru, yang ternyata lingkungannya sangat buruk. Apa yang sampai membuat Bapakku yang dulu begitu baik dan jadi panutan bagi kami semua bisa berubah menjadi manusia paling menyebalkan dan tidak layak disebut Bapak. Andai saja, kami tidak pernah pindah dari rumah lama tempatku kecil, maka bisa jadi keluargaku bisa jadi keluarga normal nan bahagia, layaknya keluarga-keluarga pada umumnya.
Air mata tanpa sadar keluar dari mataku. Sejujurnya aku tidak ingin menjadi manusia yang kelewat baik kali ini, tapi rasanya sekarang aku jadi tidak tega membiarkan Bapakku menderita sendiri. Biar bagaimanapun, ia pernah menjadi panutan dan Bapak yang baik bagi diriku. Bahkan ia pernah ikut terlibat dalam program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), hanya karena aku melihat iklannya di televisi, yang mana alasan aku senang menonton iklan tersebut hanyalah karena suara Chrisye, yang membuat lagunya menjadi begitu menyentuh. Gara-gara itu dia jadi ikut terlibat dalam program tersebut, walau sayangnya, itu hanya berlangsung kurang dari setahun. Namun setidaknya itu pernah membuatku bangga pada Bapakku.
Tiba-tiba aku kembali melihat diriku sendiri versi 20 tahun yang lalu mendatangiku. Jufri 2006 terlihat kesal dan memintaku untuk tidak bodoh. Ia bahkan sampai memakiku untuk tidak berpikir mengorbankan uang untuk membeli rumah demi menolong Bapakku. Tidak lama kemudian aku juga melihat diriku sendiri versi 30 tahun yang lalu juga mendatangi diriku. Ia justru memintaku untuk mengasihani Bapakku, yang sedang butuh pertolongan. Biar bagaimanapun, ia tetaplah Bapakku, orang yang melahirkan diriku. Aku lalu melihat Jufri 2006 beradu argumen dengan Jufri 1996.
“Maksud lo apa minta nih orang nolongin Manusia Sampah yang udah bikin satu keluarga menderita?” tanya Jufri 2006 ke Jufri 1996.
“Babe kita mungkin jauh dari sempurna. tapi bukan berarti kita meski jadi orang jahat ke dia. Inget, dia itu Babe kita.” Jufri 1996 membela diri.