Aku baru saja tertidur sejenak dan tiba-tiba aku sudah berada di Melawai tahun 1980-an. Aku melihat keramaian di Melawai ketika para remaja adu gengsi balap sore-sore. Aku melihat sosok pria yang mirip dengan aktor Jefry Woworuntu waktu muda sedang mengemudikan mobilnya dan bersaing dengan sosok yang mirip dengan Onky Alexander muda, yang juga mengemudikan mobil jeep tanpa atapnya. Terdengar suara riuh para gadis berteriak histeris melihat kedua pria tersebut bersaing. Aku sendiri hanya menikmati situasi ini hingga kemudian sebuah suara mengembalikan diriku ke PAUD Bintang Sejahtera tahun 2026.
“Jup maapin Nyak ya, kemaren udah ngegaplok sama ngediemin lo.” Ibuku tiba-tiba membangunkan diriku hanya untuk minta maaf, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Aku yang masih belum sadar sepenuhnya, sebenarnya merasa kaget mendengar ucapan Ibuku tersebut, namun aku kemudian mencoba untuk berkata bahwa aku tidak mempermasalahkan perlakuan Ibuku kemarin, karena alasannya untuk marah kepadaku jelas, dan aku memang bersalah. Ia kemudian juga minta maaf kalau selama ini terus berusaha membuatku memaafkan Bapakku, setelah apa yang sudah ia perbuat ke dirinya dan diriku.
Sejujurnya ia sendiri pun juga sulit memaafkan Suaminya tersebut, apalagi setelah bagaimana perlakuannya selama ini, yang bukan hanya menyakitinya secara psikologis, namun juga fisik. Bahkan keluarga besarnya, termasuk paman Ridho sudah berulang kali meminta Ibuku untuk menceraikan Bapakku. Namun ia takut, kalau ia menceraikannya, maka ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan anak-anaknya, termasuk diriku.
“Nyak tuh ga mau cerai cuman takut nggak bisa ngeliat kalian lagi, apalagi Babe lo dulu sering ngancem kalo kita cerai, anak-anak bakal ikut dia dan bakal dia bikin menderita. Itulah kenapa Nyak sejak dulu nggak pernah berani minta cerai. Walaupun akhirnya Nyak tau kalo itu cuma gertakan dia aja. Akhirnya Nyak baru berani minta cerai pas dia udah kelewatan ngegadaiin rumah kita diem-diem buat bantu Bini barunya. Sejujurnya Nyak nyesel nggak dengerin omongan keluarga Nyak dulu, tapi ya udeh, nasi udah jadi bubur.” ucap Ibuku sambil memegang pundakku.
“Tapi kenapa sih Babe nggak mau ceraiin Nyak sampe sekarang, padahal kan Babe juga udah punya Bini baru. kenape sih Babe seneng bikin Nyak menderita?” tanyaku bingung.
“Nyak juga nggak tau Jup. Mungkin dia gengsi. kalo dia setuju cerai sama Nyak berarti dia kalah di mata keluarga besarnya atau mungkin dia ogah punya kewajiban nafkahin kita-kita kalo cerai.”