Definisi Bahagia Menurut Jufri

Kharizma ahmada
Chapter #21

Absurdisme Hidup

Hari ini aku sengaja berkumpul dengan Ferdi dan Pak Moko sebagai bentuk rasa syukur karena keberhasilan kami dalam menemukan lahan yang dicari oleh Perusahaan taksi asal Laos. Walaupun keinginanku untuk membeli rumah harus tertunda, namun setidaknya bersama kedua orang yang saat ini sudah kupercaya, aku yakin akan ada jalan lain untuk proyek selanjutnya. Ferdi dan Pak Moko sendiri sudah menggunakan uang yang mereka dapet untuk keperluan mereka masing-masing. 

“Jadi gue ngumpulin kalian semua disini karena gue mau berterima kasih gara-gara kalian, gue bisa nolongin bokap gue. walaupun ya sebenernya itu duit harusnya gue pake buat beli rumah. tapi ya udahlah. Gue yakin kalo kita bertiga solid, pasti bakal ada proyekan lain yang bisa kita garap.” ujarku sambil kemudian meminta dua orang yang kuundang minum kopi di salah satu kedai kopi di Cibinong, untuk meminum kopi yang sudah mereka pesan dan sudah kubayari.

“Pasti itu. Yakin saya,” Timpal Pak Moko.

“Tapi jujur Jup. gue bener-bener salut sama lo. Bisa-bisanya lo ngorbanin impian lo ngebeli rumah lo cuma demi orang yang paling lo benci di dunia.” Ferdi bicara kepadaku sambil bertepuk tangan. “Angkat topi gue buat lo.”

“Lah tapi kan sampeyan nggak pake topi.” ucap Pak Moko dengan nada kebingungan, ketika melihat kepala Ferdi tidak tertutup sehelai kain pun, namun bilang angkat topi, yang akhirnya kujelaskan sambil geleng-geleng bahwa maksud dari angkat topi adalah ia kagum dan menunjukkan rasa hormat atas keputusanku tersebut..

“Ya gimana ya? Nyokap gue sendiri yang minta ke gue supaya jangan jadi pendendam dan gue juga inget kalau orang itu pernah baik sama gue. Walaupun gue ga yakin, tapi semoga aja kedepannya tuh orang bisa berubah.” ucapku sambil memakan Pisang Goreng yang baru tiba di meja. Aku lalu mencoba menghentikan pembahasan soal Bapakku, sebelum aku berubah jadi menyesal karena sudah membantunya, alih-alih mewujudkan impianku membeli rumah. “Sekarang mending kita bicara proyek kita selanjutnya nih. Gimana Fer? Klien lo ada yang nawarin lagi nggak?”

“Sejauh ini sih belum ada lagi.” Jawab Ferdi yang tidak mau kalah mengambil Pisang Goreng juga. “Tapi kalo lo mau serius, itu kapal tongkang yang kemaren aja. Kemarin nanyain lagi tuh klien gue soal kapal tongkang.”

“Kalo tongkang kayanya sih gue ga yakin Fer.” jawabku dengan nada pesimis.

“Kemaren waktu nyari tanah di Bekasi juga lo pesimis kan. Ternyata bisa.” Ferdi tidak mau menerima alasanku. “Coba dulu aja Jup.”

Aku pikir ucapan Ferdi ada benarnya. Mungkin baiknya aku mencoba terlebih dahulu setiap upaya untuk mendatangkan uang, ketimbang mencari alasan sebelum mencoba. Aku juga ingat bagaimana pilihanku mendatangi Pusat Kebudayaan Belanda yang berakhir dengan memalukan pada malam itu, ternyata bisa mengenalkanku dengan Pak Moko, dan dari beliaulah akhirnya, aku mendapatkan informasi tanah yang dicari oleh perusahaan Taksi asal Laos tersebut. Mungkin memang ada baiknya kita terus berpikir positif dan dengan begitu, maka semesta akan mendukung setiap langkah kita. Walaupun tentu saja, aku berharap kali ini aku tidak perlu melakukan hal yang memalukan seperti di Pusat Kebudayaan Belanda, untuk bisa mendapatkan jalan menjemput rezeki soal kapal tongkang ini.

Pada akhirnya seharian ini kami bicara banyak soal potensi orang yang paham soal kapal Tongkang ini. Pak Moko sendiri sejauh ini kenal beberapa orang yang berkecimpung di dunia besi kiloan, yang siap menampung kapal tongkang tersebut, namun biar bagaimanapun tidak ada jaminan orang-orang tersebut akan langsung tertarik membeli Kapal Tongkang tersebut, dan kalaupun tertarik, maka juga harus dibahas keuntungan yang akan kami dapat berapa. Semua itu tidak mudah, namun aku yakin jika berusaha, maka aku bisa mewujudkan itu.

Pada akhirnya, percakapan kami bertiga tidak berlangsung lama, karena Pak Moko harus kembali mencari nafkah. Uang hasil penjualan untuk Pak Moko sudah hampir habis untuk membayar cicilan mobil, hutangnya ke orang-orang, kemudian juga biaya kuliah putrinya dan juga untuk membantu membiayai pernikahan keponakannya di Pekalongan sana. Karena itu, ia harus kembali mencari uang. Aku dan Ferdi juga beranjak pamit, karena Ferdi juga sedang berniat mencari tukang untuk renovasi kios disebelahnya menjadi tempat minum kopi dan vape, sedangkan diriku ada janji bertemu seseorang.

Sebelum menemui orang tersebut, aku memutuskan untuk mencoba berusaha mendapatkan uang kembali untuk membeli Rumah, dengan menawari kapal Tongkang. Orang pertama yang kuhubungi adalah Riyad. Aku akan menawarinya sekaligus mencari tahu apakah karena kejadian kemarin, aku masuk daftar hitam untuk mengikuti acara di Pusat Kebudayaan Belanda. Begitu kuhubungi nomornya, Riyad langsung menjawab dan aku tidak berbasa-basi langsung menawarinya kapal Tongkang.

“Waduh, kalo Tongkang kayanya sih ada temennya orang kantor gue tuh yang suka nyari tongkang. Nanti gue tanya lagi deh.” jawab Riyad yang membuatku merasa lega, karena setidaknya ia kali ini ada keinginan untuk membantu, dan aku kemudian juga menawarinya komisi agar ia bersemangat mencari.

AKu kemudian mencari tahu soal nasibku di Pusat Kebudayaan Belanda dan aku merasa bersyukur begitu Riyad menjawab bahwa orang dari tempat itu tidak memasukkanku dalam daftar hitam. Hal itu juga karena Riyad dan teman-temannya terus melobi para pekerja disana, termasuk Direktur mereka, Maarten de Boer, yang ternyata orangnya cukup ramah dan mau memberikan kesempatan kedua.  Namun demikian, aku tetap tidak boleh mengulangi perbuatanku kemarin, karena jika aku mengulangi lagi, maka diriku akan benar-benar masuk ke dalam daftar hitam. Aku lalu berkata bahwa aku berjanji tidak akan mengulangi kebodohanku malam itu dan meminta Riyad menyampaikan terima kasih ke Meneer de Boer.

Lihat selengkapnya